Lima Tahun Sekali, Upacara Munar Lembur Berlangsung di Kasepuhan Cisungsang-Banten

0
263

Oleh:
Ria Andayani S.
(BPNB Jabar)

Konon, dulu lembur ‘kampung’ yang ditempati oleh masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang-Banten dikenal “angker”, karena dipercaya dihuni oleh entitas supranatural, seperti makhluk gaib. Oleh karena itu, mereka perlu menjaga keseimbangan dan keharmonisan di antara keduanya agar tidak saling mengganggu dan terganggu. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melaksanakan upacara munar lembur. Tujuan menyelenggarakan upacara munar lembur adalah untuk nukuh lembur, yakni memberi kekuatan kepada lembur; dan menyerahkan lembur untuk dipunar ‘diperbaharui kembali’ agar keadaannya senantiasa baik sebagai tempat tinggal mereka dengan segala aktivitasnya.

Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang melaksanakan upacara munar lembur 5 (lima) tahun sekali. Sampai sejauh ini belum diketahui alasan melaksanakan upacara tersebut dalam rentang waktu seperti itu secara berkesinambungan. Mengenai hari, tanggal, dan bulan pelaksanaan upacara munar lembur ditentukan berdasarkan kesepakatan antara ketua adat, kokolot lembur, dan para pemangku adat lainnya. Hal itu mengacu pada penanggalan tahun Hijriah. Dalam satu tahun Hijriah, ada dua nama bulan yang tidak boleh dipakai untuk menyelenggarakan upacara tersebut, yakni bulan Hapit dan Ramadhan. Adapun mengenai pilihan hari sudah ada ketentuan yang pasti, yakni hanya dapat dilaksanakan pada Senin atau Kamis.

Pelaksanaan upacara munar lembur hanya berlangsung satu hari dan dibagi dalam dua tahapan. Tahap pertama adalah pelaksanaan ritual nukuh lembur, yakni ritual untuk menguatkan lembur yang disimboliskan dengan menanam berbagai tanaman dan perlengkapan upacara yang memiliki makna simbolis untuk menguatkan dan menolak bala di area panukuhan. Tanaman dan perlengkapan untuk ritual nukuh lembur di antaranya tanaman hanjuang, panglay, sulangkar, dan kepingan uang logam.


(Sulangkar, Hanjuang, dan Panglay)

Selain itu, disiapkan sesaji yang terdiri atas minuman, yakni air kopi pahit, air kopi manis, air teh tawar, air teh manis, dan air putih; rurujakan, yakni rujak asem, rujak kalapa, rujak cau emas, dan rujak kembang.

Khusus untuk area panukuhan, tempatnya harus berada di sebelah timur, berada di luar ruangan, tidak boleh ngalangkangan ‘jika terkena sinar matahari, bayangannya tidak jatuh ke suatu rumah atau bangunan’, dan tidak boleh di-kalangkangan ‘tempat tersebut tidak tertimpa bayangan bangunan atau rumah pada saat terkena sinar matahari. Area tersebut berupa lubang sedalam 40 cm dengan panjang 25 cm dan lebar 25 cm. Lubang dibuat ketika masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang akan melaksanakan upacara munar lembur. Setelah upacara selesai, lubang itu ditutup kembali. Yang terlihat di tempat tersebut hanya beberapa tanaman yang menjadi bagian penting dari ritual upacara tersebut, dengan pagar bambu yang mengelilinginya. Luas lahan yang dipagari bambu kira-kira 1,5 m X 1,5 m. Ritual nukuh lembur dilaksanakan setelah salat dzuhur kira-kira dari pukul 12.00 WIB sampai dengan pukul 13.30 WIB.

Tahap kedua berlangsung pada malam hari, berupa acara selamatan upacara munar lembur. Tempat yang digunakan untuk melaksanakan selamatan atau syukuran upacara munar lembur adalah di rumah kokolot lembur. Dalam acara tersebut dihadirkan angklung sebagai kesenian pertama yang wajib tampil malam itu. Setelah itu dilanjutkan pada pertunjukan kesenian berikutnya, yakni pantun. Ada yang unik dari pertunjukan pantun dalam acara selamatan upacara munar lembur, yakni lamanya pertunjukan tersebut sangat bergantung pada wangsit. Yang dimaksud wangsit di sini adalah bisikan gaib dari para leluhur yang datang kepada juru pantun atau para pemangku adat. Kalau wangsit tersebut menghendaki pertunjukan pantun segera selesai, pertunjukan itu akan dihentikan sekalipun baru berlangsung satu jam saja. Juru pantun tidak akan berani melanggarnya, karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Namun yang sering terjadi, pertunjukan pantun biasanya berlangsung berjam-jam sampai larut malam.