You are currently viewing Achmad Tirtosudiro

Achmad Tirtosudiro

Achmad Tirtosudiro
oleh :
Ali Gufron
(BPNB Prov. Jawa Barat)

Achmad Tirtosudiro adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang berkibar di masa awal kemerdekaan dan menduduki berbagai macam jabatran strategis setelah kemerdekaan. Pria yang terlahir dengan nama Mohammad Irsyad pada 9 April 1922 ini adalah putra asli Plered, Purwakarta. Sang kakek H. Thoha (ayah dari sang ibu) adalah pimpinan sebuah pondok pesantren di Legok, sementara Sang ayah adalah seorang ambtenar yang bekerja sebagai Kepala Stasiun Djawatan Kereta Api (DKA) di Ardjawinangun, Tjirebon, antara tahun 1922-1928 (Suhadi, 2021).
Oleh karena berasal dari keluarga priyayi, Achmad memiliki kesempatan mengenyam pendidikan formal yang baik. Pada tahun 1928-1935 dia menempuh pendidikan di HIS (Holand Inlandse School) di berbagai tempat seperti Cirebon, Cimahi, Bandung, dan Bogor karena Sang ayah sering berpindah tugas. Pada periode ini Achmad dinilai sebagai anak cerdas dan dalam hal berhitung lebih cepat ketimbang para gurunya sehingga pernah dijanjikan akan diajak ke negeri Belanda oleh Tuan Bruins, salah seorang kepala sekolahnya di HIS.
Selepas HIS Achmad melajutkan ke MULO Bogor antara tahun 1936 sampai 1939. Kemudian dia ke AMS (Algemeen Midelbare School) Yogyakarta hingga tahun 1941. Lulus AMS, Achmad sempat mengikuti latihan dasar militer Chuo Seinen Kunrensho (1943-1944) dan Tyuo Kyo Shu Sho (1944-1945) bentukan Jepang dan bekerja sebagai Pegawai Menengah TK.II DKA Bandung (1942-1946).
Lepas pendudukan Jepang dia masuk Universitas Gadjah Mada jurusan Hukum. Namun, walau tidak sampai menamatkan kuliah, Achmad sempat menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (1948), Komandan Kompi Bandung TRI-KA (1947-1948), Kepala Bagian Yogya-Korps Karta Mhs (1947-1948), dan Ketua Umum Perhimpunan Pemuda Mahasiswa Indonesia (1948).
Beberapa jabatan tadi rupanya membuat Achmad tertarik pada bidang militer. Dia lalu memilih militer sebagai jalan hidupnya. Dan, semenjak itu karirnya menanjak. Merdeka.com mencatat berbagai jabatan yang pernah diembannya baik dalam bidang militer maupun sipil, antara lain: Wakas 1948 Klaten KDM; Ass KS 1949 Bandung GM IV; Ses IC VI (Local Joint Committee) Jawa Barat GM IV (1949); KS KMK Bandung (1949); Kepala Biro-B Bandung GM.IV (1950); Kms. Pst. Priangan Garut TT III (1950); Kmd. Pst II (Priangan) Bandung TT III (1951); Kmd. Pst Cirebon TT III (1952); Ks. Br. C/Reg Cirebon TT III (1952); Hakim Perwira Bandung TT III (1952); Ks. Res. 9 21-03-1952 05-02-1953 Cirebon TT III; Kmd. RI. 18 Terr V (ditolak) 14-07 -1954; Ks. Res. 10 01-10-1954Bandung; Kmd. Sektor (Brigade)’ 0 1-11-1955 01-06-1956Ciamis n III; Pel.Kel.Mil. 01-11-1955 Ciamis 01-06-1956 Bandung n III 19. Guru SSKAD 01-09-1957; Ass. Dir. SSKAD 30-04-1958 Bandung MBAD; Kep.Dep.Persiapan Tarap II SSKAD (SESKOAD) 29-05-1959 Bandung MBAD; Kep. Dep. Staf. Peng. Umum SSKAD 01-01-1959 Bandung M BAD; Anggota DEPERNAS 29-07-1959Bandung MBAD; Wk. AD dIm Panitia Istilah Lembaga Bhs/ Kebudayaan 15-11- 1961; Dir. Intendans . AD 01-03-1961 01-03-1966 Jakarta MBAD; Ketua G-7/Koti 18-11-1965 Jakarta MBAD; Kep. Staf Kolognas 01-05-1966 Jakarta MBAD; Kepala BULOG 10-05-1966 Jakarta MBAD; Sekretaris Sektor Penyediaan dan Penyaluran Pangan 15-02-1968 Jakarta M BAD; Pakokar 22 BU LOG 03-06-1971 Jakarta HANKAM; Caretaker (Di- rut) PT. PP. Berdikari 03-12-1971 HANKAM; Anggota MPR 05-01-1972 HANKAM; Duta Besar RI diBonn 1973-1976; Dirjen Pariwisata 1977-1982; Duta Besar RI utk Arab Saudi, Rep. Arab. Yaman &Oman 1982-1985; Rektor Universitas Islam Bandung (UNISBA) 1986-1996; Ketua Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Islam Swasta Indonesia (BKS-PTIS) 1988-1996; Ketua Umum Badan Kerja sama Perguruan Tinggi Islamic Swasta Indonesia (BKS-PTIS) 1988-1996; Anggota MPR RI Utusan Golongan 1997 -1998; Wakil Ketua DPA/Ketua Komisi Politik 1998-1999; Ketua Dewan Pembina Rumah Sakit AI-lslam BKSWI Jawa Barat; Ketua Dewan Penasehat Yayasan Wakaf Paramadina; Ketua Dewan Penasehat Majelis Nasional KAHMI; Ketua Dewan Penasehat ICMI; Wakil Ketua IIFTIHAR (The International Islamic Forum For Science I; Technology and Human Resources Development) mewakili Republik Indonesia; Ketua Harian ICMI, 1997-2002); dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung RI (DPA-RI), 1999-2003.
Selain jabatan, merdeka.com juga mencatat sejumlah penugasan ke luar negeri, di antaranya: Amerika Serikat-Tugas belajar pada CCSC 1956-1957; Inggris, Jerman Barat dan Jugoslavia Selaku Ketua Panitia Persiapan SESKOAD 1968; Denmark, Swedia dan Jugoslavia-Dewan Perancang Nasional 1959; Tokyo-Mengadakan Pembicaraan dengan Pemerintah Jepang dalam rangka bantuan pangan 1970; Amsterdam-Anggota Delegasi Perundingan IGGI (08-12- 1971 ; 20-04-1972; 16-12-1972); Tokyo-Mengadakan perundingan dengan Jepang dalam rangka bantuan pangan Juni 1971; Jepang/Thailand–Perundingan pengadaan beras 04-08-1972; Republik Federasi Jerman-Duta Besar Luar Berkuasa Penuh 1973-1976; Kerajaan Saudi Arabia-Duta Besar Luar Berkuasa Penuh 1982-1985; Republik Arab Yaman-Duta Besar Luar Berkuasa Penuh (Berkedudukan di Arab Saudi) 1983-1985; dan Kesultanan Oman-Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Berkedudukan di Arab Saudi) 1983-1985.
Kemudian, ada pula sejumlah penghargaan dari Pemerintah Indonesia yang diterima atas jasa-jasanya, yaitu: Bintang Gerilya; Bintang Kartika Fka Paksi; S.L Kesetiaan 8 tahun; S.L. Kesetiaan 16 tahun; S.L. Kesetiaan 24 tahun; S.L. P.K. I; S.L. P.K. II; S.L. CON I; S.L. CON II; S.L. GOM III; S.L. GOM V; S.L. Penegak; S.L. Dwija Sistha; Bintang Dharma; Medal For Military of II class (Jugoslavia); Groskreuz des Verdienstes (Republik Federasi Jerman); Satya Lencana Pembangunan 18. Bintang Maha Putra Utaina; dan Bintang Maha Putra Adipradana.
Seluruh prestasi yang diraih oleh Achmad Tirtosudiro adalah berkat kedisiplinan dan kerja maksimal yang dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Yang Maha Kuasa. Suhadi (2021) dalam resensi buku Jenderal dari Pesantren Legok menyatakan bahwa apa pun pangkat kemiliteran yang diraih Achmad Tirtosudiro, dia tetap menjadi seorang prajurit yang dalam setiap geraknya selalu di bawah pengawasan Allah SWT.
Berbekal keyakinan inilah hingga berumur 80 tahun Ahmad Tirtosudiro masih dipercaya menjalankan amanat ikut memikirkan nasib bangsa. Pengabdiannya kepada tanah air tetap dilakukan hingga tutup usia pada 9 Maret 2011 akibat infeksi paru-paru yang dideritanya. Achmad Tirtosudiro dimakamkan di samping makam Sng Istri (Suresmi Natalegawa) di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Sumber: Nina Merlina, dkk. “Laporan Inventarisasi Tokoh Sejarah dan Budaya di Kabupaten Purwakarta”, Laporan, Bandung: BPNB Prov. Jabar.

Leave a Reply