TOPENG SIDEKARYA

0
3033

TOPENG SIDEKARYA

Munculnya Topeng Sidakarya sebagai bagian tak terpisahkan pada ritual keagamaan, erat kaitannya dengan babad Bebali Sidakarya. Alur dramatic dalam kisah ini secara langsung bertutur tentang kisah Dalem Sidakarya. Nama-nama tokoh seperti Dalem Waturenggong, Ida Sangkya yang kemudian dijuluki Dalem Sidakarya, Pura dalem Pemuterang Sidakarya merupakan satu tonggak yang tidak bias dipisahkan dengan tradisi Topeng Sidakarya. Dalam pementasan Topenmg Sidakarya untuk tujuan upacara Bhuta Yadnya dan Dewa Yadnya petikan ceritera dari babad bebali Sidakarya sering menjadi alur ceritera pementasannya.
Versi lain yang menghubungkan ekspresi wajah Topeng Sidakarya memiliki gigi tonggos (jangus/jongos) dikaitkan dengan invasi Patih Gajah Mada ke Bali jauh sebelun raja-raja yang dinobatkan oleh penguasa Majapahit memerintah Bali. Setelah Gajah Mada berhasil memperdaya Kebo Iwa yang juga dikenal sebagai Kebo Taruna yang dibunuh di tanah Jawa dengan tipu muslihat, yakni dikubur di dalam sumur yang dia disuruh menggalinya sendiri. Dengan demikian kekuatan Bali menjadi lemah. Dalam penyerangan berikutnya Gajah Mada mulai memporak porandakan kekuatan Bali.
Dalem Batu Selem sebagai penguasa Bali telah kembali ke alam sunya dengan moksah di Dalem Tukuwub atau Puri Bedulu. Oleh para patih seperti Pasung Gerigih, Pasung Giri, Tunjung Tutur, Tambiak Arya Ularan kemudian memilih putranya yang bernama Arya Panji menggantikan tahta pemerintahan dengan pusat istananya berada di Puri Semanggen Dalem Tukuwub. Beliau tidak berani menempati istana tempatnya Dalem, karena sudah dikeramatkan menjadi Dalem Pelinggih. Arya Panji mempersunting Dewa Ayu Sari, dan dari perkawinan tersebut membuahkan kelahiran seorang bayi laki-laki.
Dalam peristiwa penyerangan Gajah Mada yang dibantu oleh Arya Damar, membabat daerah Tianyar sampai ke Bedulu membuat Sira Arya Panji lari dari Puri Bedulu dengan menceburkan diri menyusuri sungai Ayu, dikejar oleh Gajah Mada. Setelah hamper mendekati pesisir pantai, beliau menuju ke Tegal Asah. Di sanalah Sira Arya Panji ditikam dari belakang dan langsung tersungkur jatuh tertelungkup. Gajah Mada kembali lagi ke Puri Sumenggen, berniat untuk menghabisi seluruh keluarga puri. Dia menemui hanya seorang bocah tinggasl sendirian di sana. Gajah Mada menghunus keris hendak menghabisi nyawa si bocah. Dengan lugu si bocah menanyakan siapa tuan, dari mana, kenapa menghunus keris? Mengetahui kedatangan Gajah Mada untuk menghabisi penguasa Bali, maka si bocah menanyakan keberadaan orang tuanya yakti Sira Arya Panji. Setelah diberitahu bahwa ayahnya sudah mati dalam pertempuran, si bocah menyerahkan diri untuk dibunuh saja, sehingga dapat mengikuti perjalanan orang tuanya kea lam sunya. Kemarahan Gajah Mada pudar melihat si bocah tak brdosa berserah diri.
Gajah Mada mengajaknya untuk menyaksikan sendiri ayahnya yang sudah tidak bernyawa di Tegal Asah. Ketika Gajah Mada membalikan mayat Arya Panji yang sudah kaku, dia terkejut sembari mendehem menyebut kata “aduh jangus” begitu dia melihat wajah sangat mengerikan. Si bocah meratapi kepergian ayahnya sebagai tumpuan dalam mencari nafkah untuk kehidupannya, sembari menyesali perlakuan Gajah Mada menyerang kerajaan Bali. Gajah Mada berucap; “wahai anakku, aku dating dan menyerang Bali bukan aku memusuhi agama, aku ingin memperbaiki tata agama di Bali. Di Bali ada sepuluh agama, di Maja ada lima agama. Karena itulah di Bali oleh Majapahit dikatakan berbeda dengan pusat (Beda Ulu) sebab berbeda dengan penguasa pusat Majapahit. Sekarang agama di Bali aku jadikan dua bagian, yaitu lima untuk wanita dan lima untuk laki-laki, supaya terdiri atas dua bagian.Yang lima, upacara agamanya terdiri atas Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, Piitra Yadnya, dan Resi Yadnya, supaya terhitung atas dua bagian, kaulah yang aku serahi melakukan upacara sesuai dengan ayahmu berupa jangus. Aku serahkan lima jenis upacara itu, kaulah yang mengolahnya. Aku namakan kau Topeng Sidakarya. Aku namakan kau warga Melayu, sebab ayahmu tewas dalam pelarian. Tempat ini tidak lagi bernama Tegal Asah, sekarang aku namakan Buruan, sebab aku memburu ayahmu dan membunuhnya di sini. Lama I Melayu di Buruan. Topeng warisannya dipakai symbol leluhur, diupacarai di Buruan. Beliau didampingi kerabatnya. Siapapun membuat apacara, I Melayu memimpin pemujaannya dengan top[eng warisan, seakan, akan membahagiakan hati masyarakat, topeng itu dinamakan Topeng Sidakarya (Sumber ini dipetik dari Babad Dalem Kuub yang sudah dialih aksarakan ke dalam huruf latin tahun 2004. Wawancara dengan I Gusti Ngurah Windia, Carangsari Desember 2007, dalam Catra. I Nyoman, 2007: 11-13)
Dalam Lontar Bebali Sidakarya pemberian nama Sidakarya yang dianugrahkan oleh Dalem Waturenggong kepada pendeta walaka Ida Sangkya yang berasal dari daerah Keling Jawa Timur menjadi Dalem Sidakarya. Lakon Sidakarya sebagai pemuput karya/yadnya yang konflik awalnya bertutur tentang penyatuan paham siwa dan ajaran sankya (budha) harus disinerikan tidak boleh saling meremehkan. Demikian pertunjukan Topeng Sidakarya menjadi penting saat upacara dipuput oleh satu dari paham pendeta siwa/buha kehadiran Topeng Sidakarya melengkapi kekurangan tersebut.