GENANG [1]

0
4411

Genang merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kulit kambing yang dimainkan dengan cara dipukul dan ditepak. Alat ini tergolong alat musik membranofon, yaitu alat musik yang sumber suaranya berasal dari selaput kulit. Di Bima, alat ini disebut dengan genda, dan gendang untuk di Lombok. Sedangkan di Makasar dinamakan dengan ganrang, sementara di Jawa dan Sunda bernama kendhang. Namun nama yang paling umum untuk alat ini adalah gendang.

Menurut ukurannya gendang terbagi menjadi gendang berukuran kecil, sedang dan besar. Genang termasuk gendang berukuran sedang. Di Lombok terdapat gendang berukuran besar yang dikenal dengan nama gendang beleq, dan di Bengkulu di sebut dengan dol, sedangkan di Padang dinamakan tambua. Sementara untuk gendang berukuran kecil, salah satunya terdapat di Papua, yaitu tifa.

Seperti juga genda Mbojo dan gendang Sasak, maka genang terbagi menjadi 2 (dua), yaitu genang pengina (induk) dan genang penganak (anak). Kalau di Bima disebut dengan genda ka ina dan genda ka anak, sedangkan untuk gendang beleq disebut gendang mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan). Genang pengina’ merupakan genang pembawa pukulan pokok dan bersifat matris, sedangkan genang penganak merupakan genang penghias pukulan pokok yang bersifat ritmis.

Di lihat dari sejarahnya, genang dilahirkan dari pertemuan antara 2 (dua) kebudayaan yaitu budaya Makasar dan Sumbawa. Penguasaan Goa terhadap kerajaan Sumbawa pada abad 17 telah membawa pengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk alat musik tradisional. Bentuk genang Sumbawa sama persis dengan ganrang Makasar dan ganddah suku Bajo, hanya ukurannya yang berbeda.

Di seluruh daerah di Indonesia, gendang memiliki fungsi yang sangat vital, begitu pula dengan genang. Dalam Ansambel Musik Gong Genang yang digunakan untuk mengiringi tari, pencak silat, dsb, genang berfungsi sebagai pembawa rhytme atau pemimpin irama. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pemimpin irama, genang memiliki temung atau jenis pukulan genang. (WN)