“Dalam beberapa sumber tertulis antara lain Babad Momana, Serat Rerenggan Kraton, dan Babad Suryaning Alaga menyebutkan bahwa Sultan Hamengku Buwana II merupakan raja Kasultanan Yogyakarta yang paling banyak membangun pesanggrahan. Pesanggrahan adalah bangunan peninggalan berupa tempat eristirahatan khusus untuk raja beserta keluarganya. Istilah pesanggrahan berasal dari kata “sanggrah” yang artinya singgah sebentar atau beristirahat sejenak.“

    Begitu penjelasan Muhammad Chawari membuka cerita ketika menjadi narasumber dalam kegiatan shooting pengambilan materi  publikasi Cagar Budaya melalui siaran televisi yang dilaksanakan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta bersama TVRI Yogyakarta pada Rabu (24/7/2019) di Pesanggrahan Rejawinangun atau Situs Warungboto, Desa Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Ni Luh Komang Rarianingsih (tengah-depan) saat menjelaskan tentang pelestarian yang dilakukan oleh BPCB DIY terhadap pesanggrahan Rejawinangun

    Ada dua narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut, yaitu Muhammad Chawari, peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Ni Luh Komang Rarianingsih, Ketua Unit Kerja Keraton dan Kotagede.  Kedua narumber yang juga sebagai arkeolog di instansinya masing-masing tersebut mengupas pesanggrahan peninggalan Sultan Hamengku Buwana II dari aspek yang berbeda. Muhammad Chawari membahas dari aspek historis dan arkelogis, sedangkan Ni Luh Komang Rarianingsih membahas dari aspek pelestarian.

 

     Muhammad Chawari menjelaskan bahwa pesanggrahan yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana ada 13 buah yaitu Pesanggrahan Rejawinangun (Situs Warungboto), Pesanggrahan Ngarjakusuma, Pesanggrahan Purworejo, Pesanggrahan Wanacatur, Pesanggrahan Cendanasari, Pesanggrahan Gua Seluman, Pesanggrahan Sanapakis, Pesaggrahan Madyaketawang, Pesanggrahan Pengawatreja, Pesanggrahan Tanjungtirto, Pesanggrahan Sanasewu, Pesanggrahan Tlogo Ji, dan Pesanggrahan Toyo Tumpang Kanigoro. Saat ini sebagian besar kondisi pesanggrahan yang dibangun Sultan Hamengku Buwono II tinggal menyisakan reruntuhan bangunan dan struktur pagar kelilingnya saja. Kerusakan pada pesanggrahan disebabkan oleh multi faktor, antara lain usia, alam (cuaca, suhu, bencana alam), dan manusia. Lokasi berdirinya pesanggrahan juga banyak yang teah menjadi permukiman penduduk.

Presenter mengamati ornamen yang ada di Pesanggrahan Gua Seluman

      Dari ketiga belas pesanggrahan yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwana II, hanya dua yang dipilih menjadi objek yang diekspos dalam  kegiatan publikasi Cagar Budaya melalui siaran televisi ini, yaitu Pesanggrahan Rejawinangun (Situs Warungboto) dan Pesanggrahan Gua Seluman. Dua pesanggrahan tersebut dipilih karena masih menyisakan beberapa struktur yang dapat diidentifikasi dibandingkan dengan pesanggrahan lainnya. Bahkan beberapa stuktur dari Pesanggrahan Rejawinangun dan Pesanggrahan Gua Seluman sudah dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

      “Dari beberapa pesanggrahan yang dibangun Sultan HB II, ada yang sudah dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Pesanggrahan Rejawinangun dipugar pada tahun 2015 s.d. 2016 dengan sasaran bangunan tengah yag terdiri atas kolam (umbul), bangunan sayap sisi selatan, bangunan bertingkat sisi selatan, dan pagar. Pesanggrahan  Gua Seluman mulai dipugar 2018 dan masih berlangsung hingga sekarang,” kata Ni Luh Komang.

Videografer dibantu juru pelihara dari BPCB DIY saat mendokumentasikan sebuah patung naga yang ada di pesanggrahan Gua Seluman.

      Program kegiatan publikasi Cagar Budaya melalui siaran TV merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menyebarluaskan informasi tentang potensi Cagar Budaya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuannya agar khalayak terdorong untuk ikut serta berpartisipasi dalam pelestarian Cagar Budaya. (fry-dokpub)