Stasiun Bangil, Pasuruan

0
2112

Dalam peta lama yang terbit tahun 1910, terlihat stasiun Bangil telah dilalui dua operator kereta api yang berbeda. Dari arah utara, kereta-kereta dari Surabaya yang dimiliki oleh Staatsporwegen, melalui stasiun ini menuju Malang, hingga kota-kota lain di sebelah timur. Sedangkan dari arah barat, ada kereta-kereta yang dimiliki oleh Modjokerto Stoomtram Maatschapij. Jalur yang dioperasikan oleh perusahaan tersebut menghubungkan Mojokerto-Bangil dengan melintasi Bangsal, Mojosari, Ngoro, dan Pandaan.

Pembangunan jalur kereta apinya sendiri dimulai beberapa tahun sebelum itu. Pada tahun 1878 diresmikanlah jalur kereta pertama di Jawa Timur yang melintasi Surabaya-Pasuruan. Selang tahun berikutnya, jalur Bangil-Malang diresmikan pada 20 Juli 1879. Menyusul setelah itu jalur berikutnya; Sidoarjo-Madiun (1884), Pasuruan-Probolinggo (1884), Probolinggo-Klakah (1895). Pada tahun 1896 dibangun lagi jalur cabang yang menuju ke Lumajang, Pasiran, kemudian diteruskan lagi sampai ke Jember, Bondowoso, dan terus hingga ke Pelabuhan Panarukan sepanjang 151 km. Pembangunan semua jalur itu selesai pada tahun 1897. Sehingga pada 1900, semua kota-kota di Jawa Timur telah terhubung oleh jalur kereta api.

Pada masa itu jalur kereta api dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Jalur Surabaya-Malang, yang melintasi Bangil, dimiliki oleh Staatspoorwegen (SS) yang merupakan perusahaan milik pemerintah Hindia Belanda. Perusahaan ini didirikan untuk melanjutkan proyek penggabungan dua jalur kereta milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang terancam terbengkalai karena defisitnya anggaran. Staatspoorwegen juga diberi beban kerja untuk memperpanjang jalur kereta hingga Surabaya ke Pasuruan, serta dari Depok ke Bogor.

Pembangunan periode pertama SS terbagi menjadi lintas Bogor (Buitenzorg) – Bandung – Banjar – Kutoarjo –Yogyakarta, Surabaya Kota – Sidoarjo – Tulangan –Mojokerto – Madiun – Solo Jebres, Sidoarjo – Pasuruan, dan Bangil – Malang. Tokoh yang menjadi pemegang kuncisukses jalur kereta api tersebut adalah David Maarschalk, mantan perwira Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), yang kemudian beralih profesi menjadi teknisi perkeretaapian. Bersama Johannes Groll sebagai rekan sejawatnya yang juga ditunjuk oleh Belanda menjadi petinggi SS (Maarschalk adalah Kepala Jawatan SS yang pertama), Maarschalk mendesain peta rute jalur-jalur kereta api tersebut sampai turun dari jabatannya pada tahun 1880.

Kereta yang beroperasi di masa itu masih memakai teknologi mesin uap. Stasiun ini pun awalnya dibangun untuk mendukung teknologi tersebut. Di ujung peronnya, hingga kini, masih ada pompa air yang berfungsi untuk mennyuplai air ke kereta. Alat yang dibuat tahun 1919 itu diproduksi oleh Young & Gill dari Surabaya. Perusahaan tersebut bergerak di bidang bengkel mesin uap, pengecoran logam, pembuatan ketel dan telah memiliki alat pemukul uap.

Meningkatnya penggunaan kereta api sebagai transportasi di Jawa Timur, termasuk di Pasuruan dan Bangil, pada masa itu dipicu oleh beberapa hal. Selain teknologi yang semakin maju, perkembangan industri perkebunan di Jawa Timur juga menjadi faktor penting.

Kereta api pada masa itu tidak hanya berguna untuk mengangkut orang saja, tetapi juga sebagai alat angkut hasil perkebunan. Tahun 1870 dikenal sebagai masa liberalisasi, yang menjadikan Hindia Belanda terbuka pada modal asing. Perusahaan-perusahaan perkebunan kemudian banyak berdiri di Jawa Timur, seperti di Pasuruan, Jember, Malang, dan Banyuwangi. Untuk mengangkut hasil perkebunannya itu mereka membutuhkan angkutan kereta api.

Hadirnya jaringan kereta api itu kemudian menjadi stimulus yang mendorong kemajuan industri perkebunanSebagai contoh, sejak dibukanya jalur Surabaya-Pasuruan, pengangkutan gula dari Pasuruan menjadi lancar, hal ini berdampak kepada semakin meluasnya areal penanaman tebu di Pasuruan dari 4.027 Ha di tahun 1875 menjadi 6.556 Ha di tahun 1900. Pohon tebu tersebut dipanen antara bulan Mei hingga September. Setelah itu digiling dan kemudian dijadikan gula. Menjelang depresi ekonomi tahun 1930 tercatat produksi gula mencapai 4.461.000 juta ton. Dari jumlah tersebut sebagian besar diangkut dengan kereta api ke pelabuhan untuk diekspor.(Lap.Pendataan Bangunan Kolonial Kab.Pasuruan-2019)