Gua Selomangleng

0
193

Gua Selomangleng merupakan cerukan pada sebuah baongkahan batu vulkanik  yang terletak di Dusun SanggrahannKidul, Desa sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Secara astronomi Goa berada di 49 M    0601025  9101454dan  menempati areal perhutani lingkungan BKPH Kalidawir dengan luas lahan 29,5 m x 26 m. Gua ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Bupati Tulungagung pada tahun 2019 dengan  SK Nomor SK 188.45/96/013/2019.  

Sebelah barat gua  merupakan jurang terjal yang berbatasan dengan kebun milik penduduk. Di kompleks ini terdapat dua buah gua, yang dipahatkan pada sebuah batu gunung yang berukuran besar. Mulut gua pertama menghadap ke barat, berbentuk segi empat berukuran: pj. 395 cm, lb. 325 cm, kedalaman 380 cm,  tinggi langit-langit 195 cm dan tinggi dari tanah sekitarnya 80 cm. Di kanan – kiri mulut gua dipahatkan relief manusia dalam posisi berdiri dan di bagian depan atas mulut gua terdapat  relief kala yang berukuran sangat besar memenuhi hampir seluruh sisa bagian atas batu, sedangkan di sisi utara mulut gua terdapat pahatan tangga naik menuju ke atas, jumlah anak tangga sebanyak 8 buah. Dalam gua, pada ketiga sisi dindingnya terpahat relief cerita Arjuna Wiwaha yakni ketika Indra memerintahkan bidadarinya untuk menggoda Arjuna di Gunung Indrakila. Digambarkan pula adegan ketika bidadari menuruni awan dari kahyangan ke bumi. Selanjutnya pada sisi selatan gua pertama, terdapat juga sebuah gua berbentuk segi empat, menghadap ke selatan, berukuran: pj. 400 cm, lb. 200 cm, kedalaman 380 cm, tinggi langit-langit 200 cm, dan tinggi dari tanah sekitarnya 2,30 cm. Gua ini sama sekali tidak memiliki relief atau hiasan.

Berdasarkan cara pemahatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Sulaiman berpendapat bahwa gua tersebut berasal dari masa awal Majapahit. Relief yang dipahatkan mengambil cerita bagian dari Arjuna Wiwaha, khususnya pada episode penggodaan bidadari terhadap Arjuna yang sedang menjalankan tapa. Ini mencerminkan kedekatan mereka akan wiracarita gubahan para pujangga sejak jaman Kerajaan Kadiri. Melihat relief yang terdapat di kompleks gua pertapaan ini, yaitu ilustrasi bagian dari Arjuna Wiwaha, dapat diduga bahwa sifat keagamaan yang melatar belakangi  kekunaan ini adalah Hindhu. Gua dalam kehidupan manusia telah dikenal sejak zaman prasejarah. Bukti arkeologis pada masa itu menujunjukkan bagaimana manusia telah memanfaatkan sebagai tempat tinggal , baik bersifat sementara maupun permanen.

 Bernet Kempers Gua Selomangleng dibuat sekitar abad X Masehi, namun menurut Krom gua ini dibuat pada masa Majapahit hal ini didasarkan pada pahatan relief tokoh yang bermahkota kiritamahkuta dan diapit sepasang teratai yang keluar dari jamang, hal ini merupakan ciri Majapahit.

Goa Selomangleng merupakan salah satu dari beberapa goa yang terletak di perbukitan wajak, yang pada masa lampau digunakan oleh para Rsi dalam aktivitas religi. Para Rsi memilih tempat tinggal jauh dari keramaian, memilih untuk tinggal di hutan dan perbukitan. Agus Arismunandar menghubungkan goa-goa di perbukitan wajak ini dengan candi Dadi yang merupakan pusat kegiatan keagamaan para Rsi.

Kegiatan pelestarian yang pernah di lakukan di Gua Selomangleng ini adalah inventarisasi dan registrasi tahun 1996, penetapan cagar budaya dan penempatan jurupelihara di situs ini. (Purwanti)

Daftar Pustaka :

1. Laporan Inventarisasi Inventarisasi Cagar Budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi  Jawa Timur di Kabupaten Tulungagung pada tahun 1996

2. Laporan Usulan penetapan benda cagar budaya / situs Tahun 2010

3. Laporan Studi Perencanaan Pengembangan tempat-tempat benda bersejarah  dan Purbakala di Kabupaten Tulungagung Tahun 1995