Candi Tepas

0
670

Candi Tepas berada di Dusun Dawung, Desa Tepas, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Candi ini tercatat dalam beberapa penelitian yang dilakukan pada masa Belanda diantaranya oleh R.D.M. Verbeek dalam Oudheden van Java tahun 1891, dicatat dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) tahun 1915, juga dimuat dalam tulisan N.J. Krom yaitu Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst, tahun 1923. Saat pertama kali ditemukan, candi dalam keadaan runtuh dan kondisi batuannya sudah aus. Pada candi ini tidak ditemukan tulisan, angka tahun, arca maupun relief. Bahan pembuatan Candi Tepas berupa batu Trasit (batuan vulkanik) sebagai bahan lapisan luarnya dan bata di bagian isiannya. (Abdul Jabbar, 2011 : 5-6).

Merujuk pada penelitian Alvin Abdul Jabbar tentang identifikasi bentuk arsitektur Candi Tepas (FIB UI, 2011), diuraikan tentang latar belakang keagamaan dari candi tepas yang di duga berlatar belakang Agama Buddha, sumber acuan dugaan ini adalah kakawin Nagarakretagama, pada pupuh 76: 1-4 yang berisi tentang wilayah-wilayah yang termasuk dari Dharmadhyaksa Kasogotan. Dharmadhyaksa ring Kasogatan merupakan salah satu pejabat dalam pemerintahan masa Majapahit yang mengawasi hal yang berkenaan dengan agama Buddha, dalam kakawin ini Candi Tepas disebut dengan Těpas Jita, dan Těpas Jita berada dalam wilayah tanggung jawab dari Dharmadhyaksa ring Kasogatan, yang dapat diasumsikan Candi Tepas memiliki latar belakang agama Buddha. Hal lain yang jadi penguat dugaan adalah tidak adanya hiasan pada Candi, tidak adanya hiasan menunjukkan bahwa terdapat penerapan tentang konsep sunyata. Sunyata dimaksud dengan ketiadaan, suatu perumusan dari keadaan yang hakiki dari segala benda (Magetsari, 1997: 414). Sunyata adalah keadaan pikiran yang bebas dari anggapan yang salah, anggapan yang salah maksudnya adalah bentuk-bentuk luar yang pada dasarnya tidak berada, atau kesemuanya itu hanya terdapat di dalam pikiran, dapat pula disamakan dengan mimpi (Magetsari, 1997: 203-204). Sebagai contoh implementasi pada kehidupan sehari-hari adalah seseorang tidak harus merasa kesal disebabkan perilaku seseorang, karena menurut pemahaman sunyata, hal tersebut tidak nyata. Candi Buddha yang memiliki ciri yang sama adalah Candi Sumberawan, berbentuk sebuah stupa yang terletak di Kabupaten Malang. Candi Sumberawan merupakan candi Buddha yang memiliki ciri yang sama dengan Candi Tepas yaitu tidak memiliki hiasan sama sekali.

N.J. Krom memperkirakan bahwa Candi Tepas dibangun sekitar abad 14, tepatnya lebih muda dari 1395 M, hal ini tercantum dalam tulisan Pigeaud (1960: 234). Berdasarkan kronologi yang dimiliki oleh candi pembanding yaitu Candi Sanggrahan yang juga candi Buddha, memiliki kronologi 1369-1388 M. Berdasarkan kedua hal tersebut dapat diperkirakan bahwa Candi Tepas memiliki kronologi abad-14 M.

Bentuk stuktur Candi Tepas berdenah bujur sangkar dengan tangga dan penampil di bagian Barat sebagai pintu masuk candi. Permukaan tanah lokasi candi terlihat agak lebih tinggi jika dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Candi ini hanya tersisa bagian kaki dan tubuhnya saja, diperkirakan bagian atap berasal dari bahan yang mudah lapuk sehingga sudah tidak ditemukan lagi keberadaannya. Denah bagian kaki melebar dan semakin keatas semakin meramping dengan bagian tangga di sebelah Barat. Ujung pipi tangga membulat. Candi Tepas memiliki pagar keliling sebagai pembatas yang sampai kini masih terlihat sisa pondasinya. Selain struktur bata yang ditemukan sebagai batas keliling dari Candi Tepas, pada masing-masing sudutnya juga terdapat lingga yang jika ditarik garis lurus membentuk pola persegi sebagai tembok keliling candi. 

Upaya pelestarian yang dilakukan terhadap Candi Tepas adalah dengan melakukan kegiatan teknis berupa pencatatan dalam kegiatan inventarisasi, melakukan konservasi secara berkala dan menempatkan juru pelihara.(deasy)