KOMPLEK MAKAM RAJA TAEBENU KUPANG

0
291

Letak dan Lingkungan

Wilayah Nusa Tenggara Timur topografinya secara umum sangat berbeda dengan topografi daerah Pulau Jawa atau pulau-pulau lainnya di Indonesia, karena hampir 70%  terdiri  dari wilayah perbukitan, pegunungan, dan dataran tinggi yang memiliki kemiringan lereng yang beraneka ragam, sedangkan wilayah datarannya sangat terbatas dan pada umumnya sangat sempit.

Wilayah Kota Kupang sebagian besar terdiri dari bukit-bukit dan gunung kapur dengan  luas wilayah 180,27 km2 , dengan wilayah tertinggi berada pada posisi 100 – 350 meter di atas permukaan laut dan wilayah terendah berada pada posisi 0 – 50 meter di atas permukaan laut. Kemiringan rata-rata wilayah Kota Kupang berkisar di angka 15%. Komposisi tanah di Kota Kupang tersdiri dari tanah keras dan tanah vulkanis yang tersusun dari pembentukan jenis mediteranan/recinal dan litosol. Kota Kupang sebagaimana daerah lainnya di Nusa Tenggara Timur dikenal memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Bulan Juni sampai dengan bulan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga terjadi musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan bulan Maret arus angin yang datang dari benua Asia dan samudra Pasifik banyak mengandung uap air sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan bulan Mei sampai Juni dan bulan November sampai dengan Desember.

Kondisi lingkungan alam  Kota Kupang secara umum seperti diuraikan tersebut di atas berbanding lurus dengan kondisi lingkungan dimana Komplek Makam Raja Taebenu berada. Secara administratif  Komplek Makam Raja Taebenu berada di Kelurahan Manutapen, Kecamatan Alak, Kota Kupang, dan dilihat dari letak astronomis berada pada koordinat 51 L0563465 UTM 8875507, dengan ketinggian berkisar 86 meter di atas permukaan laut. Komplek Makam Raja Taebenu terletak di wilayah perbukitan yang cukup tinggi, dengan kondisi tanah berkapur. Untuk mencapai lokasi komplek makam ini cukup mudah karena sudah didukung insfratruktur jalan yang sudah beraspal, sehingga dapat dijangkau dengan mempergunakan segala jenis kendaraan bermotor.

Secara umum kondisi lingkungan di dalam Komplek Makam Raja Taebenu sudah tertata dengan baik, dilengkapi jalan-jalan setapak serta beberapa buah bangunan balai-balai (lopo) untuk pengunjung yang datang ke situs ini. Kondisi lingkungan Komplek Makam Raja Taebenu memeliki pemandangan yang cukup indah, dengan posisi yang berada di ketinggian membuat pengunjung yang datang dapat melihat secara bebas wilayah perkotaan Kota Kupang serta juga apabila kita mengarahkan pandangan ke arah utara kita akan dapat melihat keberadaan Kota Tua Kupang. Hal ini merupakan suatu nilai lebih dari keberadaan Komplek Makam Raja Taebenu yang kiranya dapat dikembangkan menjadi tujuan wisata budaya yang kiranya dapat memberikan keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat di sekitar Komplek Makam Raja Taebenu.

Data Sejarah

Nama Kupang yang sesungguhnya berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopanatau Lai Kopan yang memerintah Kota Kupang sebelum datangnya bangsa Portugis di Nusa Tenggara Timur. Pada abad ke-15 daerah Nusa Tenggara Timur pada umumnya dan pulau Timor pada khususnya telah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari wilayah Indonesia Barat dengan maksud untuk berdagang kayu cendana. Pada tahun 1436 Pulau Timor memiliki 12 bandar, namun tidak disebutkan nama kedua belas bandar tersebut. Dugaan ini didasrkan bahwa kota bandar tersebut terletak di pesisir pantai yang strategis, dan salah satu daerah tersebut terletak di sebelah barat Pulau Timor, diperkirakan daerah tersebut berada di sekitar Teluk Kupang. Daerah ini merupakan wilayah kekuasaan Raja Helong, dan yang menjadi raja pada saat itu adalah Raja Koen Lai Bissi. Pada abad ke-16 datang dua kekuasaan asing di Nusa tenggara Timur, yaitu Portugis dan Belanda. Pada tahun 1561 Portugis mulai merintis kekuasaannya di Nusa Tenggara Timur dengan pusat kegiatannya di Pulau Solor, dan membangun sebuah benteng perthanan yang dikenal dengan nama Benteng Lohayong. Dari Pulau Solor Bangsa Portugis mulai memperluas kekuasaannya ke seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur.

Pada tahun 1613 VOC yang berkedudukan di Batavia mulai melakukan kegiatan perdagangan di wilayah Nusa Tenggara Timur dengan mengirimkan tiga buah kapal yang mendarat di Teluk Kupang. Kedatangan VOC di Kupang disambut dengan baik oleh penguasa di Kupang, yaitu Raja Helong. Kedatangan VOC di Kupang dibarengi dengan adanya penawaran tanah oleh Raja Helong untuk dijadikan sebagai markas VOC, namun tawaran tersebut belum mendapatkan tanggapan dari pihak VOC, karena mereka merasa belum memiliki kedudukan yang tetap di Pulau Timor.

Kedatangan VOC di Kupang disusul dengan mendaratnya oarang-orang Portugis pada tahun 1645. Bangsa Portugis ini juga mendapatkan penawaran yang sama dari Raja Helong. Berbeda halnya dengan VOC, penawaran Raja Helong terhadap Bangsa Portugis ini mendapatkan tanggapan yang baik, dengan mendirikan sebuah benteng kecil. Namun pada akhirnya benteng tersebut ditinggalkan karena terjadi perselisihan diantara mereka.

Akhirnya VOC menyadari akan pentingnya wilayah Nusa Tenggara Timur  untuk usaha perdagangannya. Berkenaan dengan hal tersebut pada tahun  1625 sampai dengan 1633 VOC berusaha merebut wilayah kekuasaan Portugis di Pulau Solor. Upaya VOC tersebut mendapatkan bantuan dari penduduk lokal Solor, usaha mereka berhasil merebut benteng Portugis yang terdapat di Pulau Solor. Setelah berhasil merebut benteng Portugis di Pulau Solor, pada tahun 1653 VOC melakukan pendaratan di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Fort Concordia yang terletak di muara sungai di Teluk Kupang. VOC berhasil menguasai Kupang dari tahun 1653 sampai dengan 1810. Untuk pengamanan wilayah Kupang VOC membentuk daerah penyangga di sekitar Teluk Kupang dengan banyak mendatang penduduk dari daerah Rote, Sabu dan  Solor. Untuk meningkatkan pengamanan Kota Kupang VOC pada 23 April 1886 menetapkan batas-batas kota yang ditetapkan dalam lembaran negara nomor 171 tahun 1886 dengan luas wilayah lebih dari 2 km2 .

Urain tersebut di atas adalah sejarah singkat Kupang secara umum, dan bila dikorelasikan dengan keberadaan Komplek Makam Raja Taebenu akan dapat ditarik suatu garis mengenai hubungan antara keberadaan Kupang dengan Raja-raja Taebenu. Dimana pada awalnya Suku Taebenu mendiami wilayah Mantasi dan Maumata yang masih merupakan wilayah Kupang. Suku Taebenu membentuk pemerintahan sendiri atas izin raja dan berdiri sebagai kerajaan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Helong. Awal keberadaan Suku Taebenu di Kupang berasal dari wilayah Mollo, yang kemudian mengungsi ke Lelogama dan Bioba sebelum akhirnya menetap di Kupang.

Perkembangan selanjutnya mengenai bentuk Kerajaan Taebenu berubah menjadi bentuk Kefetoran. Perubahan ini berawal dari kepentingan politik VOC yang ingin memasuki wilayah Kupang. Berakhirnya Kefetoran Taebenu disebabkan perubahan bentuk pemerintah di wilayah hukum Dawasti II dalam Daerah Tingkat I NTT, berdasarkan surat keputusan Gubernur NTT dan Kefetoran Taebenu dimasukan menjadi wilaya hukum Kecamatan Kupang Selatan. Keberadaan Komplek Makam Raja Taebenu adalah bukti keberadaan Kerajaan Taebenu. Kuburan utama di Komplek Makam Raja Taebenu berbentu persegi empat, dengan sistem penguburan yang dilaksanakan secara bergantian antara satu raja dengan raja berikutnya. Selain kuburan di Komplek Makam Raja Taebenu juga masih ada bekas-bekas struktur bangunan istana Raja Taebenu.

Data Arkeologi

Komplek Makam Raja Taebenu merupakan tempat makam-makam Raja Taebenu yang memerintah Kerajaan Taebenu. Makam yang terdapat di Komplek Makam Raja Taebenu terdiri dari makam primer dan makam skunder, karena terdapat makam untuk menyimpan jenazah dan tempayan (wadah) untuk menyimpan tulang. Makam-makam yang terdapat di Komplek Makam Raja Taebenu memiliki ciri Belanda dengan latar belakang Agama Kristen. Selain makam raja di Komplek Makam Raja Taebenu juga terdapat makam-makam kerabat raja yang beragama Islam serta makam-makam untuk prajurit Kerajaan Taebenu. Adapun uraian tentang makam-makam yang terdaat di Komplek Makam Raja Taebenu adalah sebagai    berikut:

  • Makam Raja

Makam raja memiliki ukuran yang paling besar dari keseluruhan makam yang terdapat di Komplek Makam Raja Taebenu, dan merupakan makam dari 12 Raja Taebenu yang dijadikan satu. Makam ini berbentuk menyerupai keranda, lengkap dengan pintu masuk untuk pada sisi depannya. Pintu ini berfungsi untuk memasukkan jenazah dan juga untuk mengeluarkan tulang sebelum dimasukkan kedalam periuk (wadah). Makam Raja ini memiliki ornamen hias berupa bulatan bersusun tiga yang terletak pada sisi depan dan belakang.

  • Makam Permaisuri Raja

Makam Permaisuri Raja  terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian dasar dan badan berbentuk segi empat  dengan motif hias garis-garis simetris berbentuk belah ketupat dan bagian atap makam berbentuk limas.

  • Makam Permaisuri Raja

Makam Permaisuri Raja ini mempunyai bentuk yang identik dengan Makam Permaisuri Raja yang lainnya, yaitu terdiri dari tiga bagian. Bagian dasar dan badan berbentuk segi empat  dengan motif hias garis-garis simetris berbentuk belah ketupat dan bagian atap makam berbentuk limas.

 

 

 

  • Makam Kerabat Raja

Makam kerabat raja berbentuk memanjang setengah lingkaran dan tanpa hiasan. Makam kerabat raja ini berjumlah tiga buah.

BAGIKAN
Artikulli paraprakZonasi Situs Wadu Pa’a
Artikulli tjetërBEKAS ISTANA RAJA DOMPU
artanegara
Balai Pelestarian cagar Budaya Bali Wilayah Kerja prov. Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur Jalan Raya Tampaksiring, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali 80581 Telepon (0361) 942347, Fax (0361) 942354 e-mail: bpcbbali@kemdikbud.go.id dan bp3_bali@yahoo.com

TINGGALKAN KOMENTAR