Kegiatan Studi Konservasi Cagar Budaya/Objek Diduga Cagar Budaya Situs Goa Jepang, Desa Lembongan

0
604

Latar Belakang

Pelestarian Cagar Budaya merupakan salah satu usaha untuk mewujudkan kebudayaaan yang mandiri dan bermartabat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pelestarian warisan budaya dalam memperkuat ketahanan budaya bangsa dan manfaatnya bagi masyarakat luas. Balai Pelestarian Cagar Budaya sebagai salah satu instansi yang menangani masalah pelestarian terhadap tinggalan Cagar Budaya yang berhubungan dengan benda, bangunan, kawasan, struktur dan  situs. Sesuai dengan tugas dan fungsi Balai Pelestarian Cagar Budaya yaitu melakukan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Cagar Budaya untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, sosial, kebudayaan dan pariwisata. Terkait dengan hal tersebut maka akan dilakukan kegiatan Studi Konservasi Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung untuk merekam kondisi keterawatan Cagar Budaya, dalam upaya merencanakan langkah pelestarian dalam bentuk konservasi.

Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung merupakan tinggalan sejarah kolonial Jepang yang terdiri dari 3 (tiga) Goa Jepang, 1 (satu) Pemandian, dan 1 (satu) Sumur Tuan. Tinggalan tersebut menjadi bukti sejarah penting masyarakat pada masa itu. Mengingat potensi yang dimiliki, maka Cagar Budaya Goa Jepang tersebut perlu dipelihara sebagai upaya dalam menjaga dan merawat agar kondisi fisik Cagar Budaya tetap lestari.

Maksud dan Tujuan

Pelaksanaan kegiatan Studi Konservasi Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung dimaksudkan untuk merekam kondisi keterawatan Cagar Budaya dalam upaya merencanakan langkah pelestarian dalam bentuk konservasi. Sedangkan, tujuannya adalah untuk dapat mempertahankan kelestarian Cagar Budaya/Situs tersebut. Kegiatan ini juga dilakukan sebagai langkah untuk menentukan kerusakan-kerusakan terhadap Cagar Budaya, baik yang diakibatkan oleh faktor alam, unsur kimia, perbuatan manusia, binatang maupun jasad renik.

Letak dan Lingkungan

Cagar Budaya ini terletak di wilayah Banjar Kangin di Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Sedangkan secara geografis situs tersebut berada pada koordinat UTM 50 L 0329782 UTM 9039297. Situs ini terletak ± 100 m dari jalan raya utama Desa lembongan menuju Jungut Batu, 100 m dari tepi pantai.

Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung yang terdiri dari goa Jepang, sumur tuan dan pemandian ini berada di lahan pekarangan yang menjadi kesatuan dengan tempat tinggal pemilik lahan di bagian belakang arah barat laut. Tepatnya berada di dua buah bukit karst kecil yang ditumbuhi berbagai tanaman seperti kelapa, pohon jati, rerumputan, semak belukar, dll. Di sekitar goa terdapat sumur tuan dan area pemandian menandakan bahwa di lokasi ini menjadi bukti aktivitas  kegiatan manusia pada saat itu. Adapun batas-batas situs yaitu :

  • Sebelah Utara         : Tegalan
  • Sebelah Timur        : Tegalan 
  • Sebelah Selatan      : Tegalan
  • Sebelah Barat         : Tegalan

Latar Sejarah

Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung merupakan bukti sejarah dari masa penjajahan kolonial Jepang. Pada tanggal 23 Februari 1942 Jepang secara resmi mengambil alih kekuasaan Kolonial Belanda. Setelah Bali berhasil diduduki oleh Angkatan Laut Jepang akhirnya seluruh Bali dapat dikuasai jepang dan mulailah diadakan perubahan-perubahan dalam bidang pemerintahan serta dimulainya berbagai propaganda untuk mendukung Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Berbagai organisasi yang pada dasarnya dibentuk untuk peperangan didirikan dengan melakukan perekrutan terhadap pemuda. Hampir segala aktivitas baik perekonomian, pendidikan dan perdagangan segalanya ditujukan untuk kemenangan perang Jepang.

Setelah beberapa waktu berlangsung, segala aktivitas-aktivitas yang dilakukan rakyat pribumi sebagian besar ditujukan untuk kepentingan menyediakan perlengkapan dan persediaan perang tersebut. Semua pekerjaan seolah-olah dipaksakan dengan sistem kekerasan sehingga rakyat dengan sendirinya merasa takut, cemas, dan tidak senang dengan situasi yang serba kurang sandang dan kurang pangan. Rasa simpati terhadap balatentara  Jepang akhirnya memudar dan berubah menjadi kebencian hingga akhirnya Jepang menyerah kepada sekutu dan meninggalkan wilayah Indonesia.

Berdasarkan pengamatan di lahan milik Made Suwita terdapat beberapa tinggalan arkeologis yang dibangun antara tahun 1942 –  1943 berupa 3 (tiga) buah goa, sumur tuan, dan area pemandian. Tinggalan arkeologis ini membuktikan bahwa tentara Jepang sempat menetap di Banjar Kangin Desa Lembongan. Pembuatan goa, sumur tuan dan bak pemandian dikerjakan oleh masyarakat sekitar Desa Lembongan atas perintah tentara Jepang yang pada saat itu berkuasa. Melihat kondisi geografis di sekitar goa yang berjarak 250 m dari tepi pantai tersekat dan letaknya cukup tersembunyi karena tidak menghadap laut lepas sebagaimana goa Jepang pada umumnya yang berada di tidak jauh dari tepi pantai. Kemungkinan goa tersebut difungsikan sebagai tempat persembunyian sekaligus pengintaian mengingat lokasinya yang strategis.

Kondisi Fisik

Berdasarkan observasi di lapangan dapat disimpulkan bahwa Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung mengalami kerusakan dan pelapukan yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Kondisi riil dari kerusakan dan pelapukan berupa retak, runtuh, roboh dan pertumbuhan lumut serta akar pepohonan.

  • Goa Jepang 1

Goa ini terdiri dari dua mulut sejajar, dipisahkan dengan jarak 8 m antara keduanya. Goa berbentuk U dengan arah hadap barat daya dan lorong goa berbentuk elips. Koordinat mulut goa bagian depan 50 L 0329782 UTM 9039297 dan koordinat mulut goa bagian belakang 50 L 0329789 UTM 9039298. Berdasarkan hasil pengukuran mulut goa a memiliki tinggi 1,6 m, lebar 1,5 m dan panjang 15,35 m. Mulut goa b memiliki tinggi 1,6 m, lebar 1,4 m, dan panjang 10,6 m. Bagian sisi goa c memiliki tinggi 1,6 m, lebar 1,5 m, dan panjang 10 m.

Berdasarkan pengamatan kondisi fisik mulut goa a mengalami retak di bagian sisi kanan dan terdapat beberapa akar pohon yang tumbuh di sekeliling mulut goa. Kondisi fisik mulut goa b tampak utuh dan tidak mengalami kerusakan. Kondisi fisik pada bagian dalam goa tampak reruntuhan dinding goa dan kotoran dari kelelawar. Kondisi lingkungan di sekitar mulut goa dipenuhi dengan pepohonan lebat dan tanaman perdu yang juga menjadi kendala selama proses pengamatan dan pengukuran. Sehingga pembabatan tanaman tersebut juga sudah dilakukan untuk memudahkan kegiatan studi konservasi.

Mulut goa a (bagian depan) sebelum dibersihkan

Mulut goa a (bagian depan) setelah dibersihkan

Mulut goa b (bagian depan) sebelum dibersihkan

Mulut goa b (bagian belakang) setelah dibersihkan

  • Goa Jepang 2

Goa ini terdiri dari mulut yang sejajar, dipisahkan dengan jarak 16 m antar keduanya. Goa berbentuk U dengan arah hadap selatan dan lorong goa berbentuk elips. Koordinat mulut goa a 50 L 0329742 UTM 9039331 dan mulut goa b 50 L 0329741 UTM 9039315. Berdasarkan hasil pengukuran, mulut goa memiliki tinggi 1,5 m, lebar 1,4  m, dan panjang 11 m. Mulut goa b memiliki tinggi 1,6 m, lebar 1,3 m, dan panjang 10 m. Bagian sisi goa c memiliki tinggi 1,7 m, lebar 2,7 m, dan panjang 9,5 m.

Berdasarkan pengamatan, kondisi fisik mulut goa a mengalami retak di bagian kiri sedangkan kondisi fisik  mulut goa b utuh atau tidak mengalami kerusakan akan tetapi terdapat akar pepohonan yang tumbuh di sekeliling mulut goa. Kondisi fisik bagian dalam goa mengalami kerusakan biotis dengan adanya pertumbuhan lumut dan kotoran kelelawar. Kondisi lingkungan di sekitar mulut goa dipenuhi dengan pepohonan lebat dan tanaman perdu yang juga menjadi kendala selama kegiatan.

Mulut goa a (bagian depan) sebelum dibersihkan

Mulut goa a (bagian depan) setelah dibersihkan

Mulut goa b (bagian belakang) setelah dibersihkan

  • Goa Jepang 3

Goa ini terdiri dari dua mulut yang sejajar, dipisahkan dengan jarak 6 m antar keduanya. Goa berbentuk U dengan arah hadap timur laut dan lorong goa berbentuk elips. Koordinat mulut goa a 50 L 0329744 UTM 9039252 dan mulut goa b 50 L 0329738 UTM 9039254. Berdasarkan hasil pengukuran mulut goa a memiliki tinggi 1,58 m, lebar 1,26 m dan panjang 10 m. Tinggi mulut goa b 1,65 m, lebar 1,25 m, dan panjang 11m. Tinggi sisi goa c 1,7 m, lebar 2 m, dan panjang 6 m.

Berdasarkan hasil pengamatan kondisi mulut goa 3 baik bagian a atau b mengalami retak di sekitar mulut goa dan juga ditumbuhi akar pohon. Kondisi lingkungan di sekitar goa 3 dipengaruhi oleh letak mulut goa yang dipisahkan oleh pohon beringin besar yang akar tanamannya menjalar hingga bagian dalam goa. Berbeda dengan goa 1 dan goa 2, kondisi di depan mulut goa 3 adalah lahan terbuka yang merupakan jalan setapak sehingga tidak ada kendala untuk mencapai goa ini.

Mulut goa a (bagian depan)

Mulut goa a (bagian belakang)

  • Sumur Tua

Sumur tuan berbentuk persegi empat dengan panjang 1,35 m, lebar 1,25 m, dan tebal 18 cm, Tinggi dinding dari permukaan mencapai 35 cm. Sumur tuan ini terletak di samping area pemandian. Sumur tuan ini terbuat dari batu karang, pasir dan semen. Berdasarkan hasil pengamatan, kondisi fisik sumur tuan ini telah mengalami kerusakan berupa kerusakan mekanis seperti retak dan gempil. Selain itu sumur tuan juga mengalami kerusakan biologis seperti ditumbuhi lumut. Terdapat pipa air yang menunjukan bahwa sumur tuan ini telah digunakan warga sekitar sebagai sumber mata air. Bagian atas sumur ini ditutup dengan seng dan kayu.

Kondisi fisik sumur tuan tampak dari depan

  • Pemandian

Pemandian ini terpisah menjadi dua bagian yaitu kolam pancuran dan areal mandi yang dikelilingi tembok tetapi dalam satu kesatuan. Kolam pancuran terbagi menjadi dua pancuran dengan kolam penampungan air yang kecil memiliki kedalaman 23 cm, panjang 58 cm, dan lebar 110 cm. Pemandian ini terbuat dari material batu, pasir, dan semen. Berdasarkan pengamatan, kondisi fisik pemandian telah mengalami kerusakan yang berupa kerusakan mekanis, kerusakan fisik, kerusakan chemis dan kerusakan biologis.

Kondisi fisik pemandian tampak dari depan

Data Keterawatan

Berdasarkan jenis kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis yaitu : kerusakan mekanis,  fisis, chemis,dan biologis. Berikut merupakan jenis kerusakan pada Cagar Budaya Goa Jepang Nusa Lembongan:

  • Kerusakan mekanis

Kerusakan mekanis adalah kerusakan yang dapat dilihat secara visual, berupa retak, pecah dan patah. Kerusakan ini juga terkait dengan kondisi lingkungan bangunan cagar budaya terutama fluktuasi udara, disamping tidak terlepas dari gaya statis maupun gaya dinamis yang diterima oleh sebuah bangungan. Gaya statis adalah adanya tekanan beban dari atas terhadap lapisan batu di bawahnya, sedangkan yang dimaksud dengan gaya dinamis adalah suatu gaya yang dipengaruhi oleh faktor luar (eksternal), seperti getaran gempa bumi dan penggunaan bangunan oleh manusia. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan kerusakan mekanis yang terjadi pada Cagar Budaya Goa Jepang Nusa Lembongan mencapai 20%. Berikut merupakan kerusakan mekanis yang terjadi:

Terdapat keretakan pada bagian kanan mulut goa 1 a. Keretakan ini dapat disebabkan karena akar pohon yang tumbuh di sekitar mulut goa.

Keretakan juga terjadi pada bagian kiri mulut goa 2 a. Keretakan ini dapat disebabkan karena akar pohon yang tumbuh di sekitar mulut goa.

Terdapat reruntuhan pada dinding bagian dalam mulut goa. Reruntuhan ini dapat disebabkan oleh getaran dinamis seperti gempa bumi.

Terdapat keretakan pada dinding kolam pancuran  area pemandian yang dipicu oleh kerusakan chemis atau pengkaratan yang terjadi pada pipa besi lubang pancuran.

Dinding pemandian yang terbuat dari batu dengan perekat semen dan pasir mengalami roboh. Roboh tersebut dapat disebabkan karena perekat yang kurang kuat.

  • Kerusakan fisis

Kerusakan fisis merupakan kerusakan yang disebabkan oleh iklim dimana cagar budaya itu berada, baik secara mikro maupun secara makro. Unsur iklim seperti suhu, air, hujan dan kelembapan merupakan faktor utama kerusakan fisis. Gejala kerusakan fisis ditandai dengan adanya perubahan bentuk dari material seperti adanya perubahan warna dan pengelupasan material. Kerusakan fisis yang terjadi pada Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini mencapai 100%.

Kerusakan ini terjadi pada seluruh cagar budaya. Kerusakan fisik dapat ditunjukan dengan kondisi fisik cagar budaya yang mengalami pengelupasan atau aus.

  • Pelapukan chemis

Pelapukan chemis merupakan pelapukan yang disebabkan oleh proses atau reaksi kimiawi. Dalam proses ini faktor yang berperan adalah air, penguapan dan suhu. Air hujan dapat melapukan benda melalui proses oksidasi, karbonatisasi, dan hidrolisis. Pelapukan  chemis yang terjadi pada Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung mencapai 5%.

Korosi terjadi karena kontak besi dengan air yang menyebabkan terjadinya oksidasi. Karat ini terjadi pada kedua pipa besi pancuran.

Pelapukan kimiawi ini ditunjukan dengan adanya bisul batu yang pecah atau yang biasa disebut dengan alveol pada permukaan batu. Kerusakan ini terjadi disebabkan oleh kapilarisasi air yang berasal dari air hujan meresap ke dalam pori-pori batuan yang menyebabkan air tersebut menjadi asam, sehingga material penyusun terurai.

  • Pelapukan biologis

Pelapukan biologis adalah pelapukan yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan jasad biotis makro atau mikro. Pertumbuhan jasad biotis pada cagar budaya ini dapat menurunkan kualitas material benda cagar budaya. Pertumbuhan jasad biotis pada Cagar Budaya Goa Jepang Nusa Lembongan berupa lumut/moss, kotoran kelelawar dan akar pohon. Pelapukan biologis yang terjadi mencapai 30% dengan didominasi oleh pertumbuhan akar pohon yang dapat merusak material dari goa.

Kondisi lingkungan di sekitar goa yang didominasi oleh pepohonan dan tanaman perdu atau semak belukar menyebabkan kerusakan pada goa. Akar dari pepohonan yang besar dan kuat dapat merusak atau mengakibatkan keretakan. Kerusakan akibat akar pohon ini mendominasi pada bagian mulut goa baik pada goa 1, goa 2, dan goa 3.

Lumut dapat tumbuh pada batuan yang memiliki porositas yang tinggi dan pada bagian batu yang terdapat akumulasi tanah dan debu. Jasad biotis jenis lumut ini biasanya tumbuh pada cagar budaya yang berada diluar ruangan yang terkena sinar matahari dan hujan secara langsung. Pertumbuhan lumut ini ditemukan pada bagian batu penyusun dinding pemandian.

Ketiga goa menjadi tempat hidup dari kelelawar dan ditemukan kotoran kelelawar di lantai goa.

Rencana Penanganan Konservasi

Penangan konservasi yang akan dilakukan terhadap Cagar Budaya Goa Jepang Nusa Lembongan adalah perawatan secara kuratif, yang bertujuan untuk menanggulangi segala permasalahan kerusakan dan pelapukan. Perawatan secara kuratif akan dilakukan pada dua komplek yang berbeda yaitu komplek Goa Jepang dan komplek pemandian dan sumur tuan.

  • Goa Jepang

Luas permukaan dinding Goa dan lantai Goa 1 84 m2, Goa 2 54 m2, Goa 3 38 m2, sehingga total luasnya menjadi 176 m2. Penanganan konservasi Goa Jepang Nusa Lembongan adalah dengan dilakukan pembersihan mekanis di dalam Goa dan di luar Goa.

Pembersihan di dalam Goa, Pembersihan dinding Goa dan lantai Goa dari kotoran kelelawar dan reruntuhan dinding Goa juga akar-akar pepohonan yang masuk ke dalam Goa.

Pembersihan di luar Goa, Melakukan pembabatan pepohonan dan perdu yang menutupi permukaan Goa kurang lebih 1 hektar. Kemiringan permukaan tanah dapat menyebabkan air masuk ke dalam Goa. Sehingga cara penanganan untuk hal ini adalah dengan memperbaiki kemiringan tanah tersebut dengan dilakukan pengerukan atau dengan pembuatan saluran air 10 meter dari mulut Goa.

  • Pemandian dan Sumur Tuan

Dinding pemandian memiliki ukuran sisi selatan panjang 1,35 m, tinggi 1,19 m, tebal 0,19 cm sehingga luasnya menjadi 1,6 m2 dan volumenya menjadi 0,31 m3. Sedangkan ukuran sisi utara panjang 1,25 m, tinggi 0,7 m, tebal 0,19 m sehingga luasnya menjadi 0,9 m2 dan volumenya 0,17 m3. Sehingga total luas menjadi 2,5 m2 dan total volume menjadi 0,5 m3. Luas permukaan dinding pemandian 18 m2, luas permukaan dinding sumur 2,5 m2 sehingga luas keduanya menjadi 20,5 m2. Rencana penanganan untuk pemandian dan sumur tua terdiri dari pembersihan secara mekanis, perawatan tradisional, dan perbaikan dinding permukaan.

Pembersihan mekanis, Pembersihan yang dimaksud adalah untuk membersihkan akumulasi debu, kotoran hewan, rumah serangga, serta pertumbuhan mikroorganisme yang mengering dan menempel pada Cagar Budaya. Adapun peralatan yang digunakan berupa sapu lidi, sikat dan kuas eterna. Sedangkan, pembersihan mekanis basah hampir sama dengan pembersihan mekanis kering, hanya saja disertai dengan guyuran air agar kotoran-kotoran hanyut bersama air.

Perawatan tradisional, Pembersihan tradisional dilakukan dengan menggunakan jeruk nipis untuk menghilangkan karat yang ada pada pipa besi pancuran pemandian.

Perbaikan dinding pemandian, Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, sudut dinding pemandian sebelah timur laut sudah lepas atau retak. Rencana penanganan untuk memperbaiki retak yaitu dengan dicor menggunakan lem epoxy. Sedangkan rencana penanganan yang akan dilakukan untuk memperbaiki dinding pemandian adalah dengan pemasangan kembali batu-batu dinding yang sudah roboh menggunakan campuran semen dan pasir. Kemudian dilakukan kamuflase dengan menggunakan perbandingan semen dan pasir 1:6.

Upaya Pelestarian

Dalam upaya pelestarian terhadap Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung akan dilakukan tindakan pelestarian berupa konservasi secara tradisional. Adapun volume luas permukaan Cagar Budaya di situs tersebut, yaitu: (1) Goa Jepang  : Luas 176 m2, dan (2) Pemandian dan Sumur tuan  : Luas 20,5 m2.

Simpulan

  1. Peninggalan Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung merupakan bukti sejarah yang dibangun sekitar tahun 1942 – 1943, dimana peninggalan ini merupakan peninggalan dari masa penjajahan kolonial Jepang yang memaksa rakyat untuk membangun tempat persembunyian perang.
  2. Secara umum kondisi Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung telah mengalami kerusakan dan pelapukan secara mekanis, fisis, chemis, dan biologis. Kerusakan dan pelapukan terhadap Cagar Budaya tersebut sampai saat ini belum pernah mendapatkan tindakan pemeliharaan berupa konservasi baik secara tradisional maupun modern.

Saran

  1. Untuk menjaga kelestarian Cagar Budaya Goa Jepang, Dusun Kangin, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung Lembongan perlu dilakukan pemeliharaan berupa tindakan konservasi secara periodik. Pembersihan secara tradisional perlu diterapkan mengingat biaya yang murah, serta aman terhadap Cagar Budaya dan lingkungannya, dibandingkan dengan pembersihan secara modern.
  2. Selain konservasi pada Cagar Budaya, konservasi juga perlu dilakukan pada lingkungannya.
  3. Perlu adanya kerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah setempat dan instansi terkait dalam penanganan pelestariannya.

TINGGALKAN KOMENTAR