You are currently viewing KEGIATAN KONSERVASI OBJEK DIDUGA CAGAR BUDAYA (ODCB) DI PURA PUSEH AMPING, DESA KERAMAS

KEGIATAN KONSERVASI OBJEK DIDUGA CAGAR BUDAYA (ODCB) DI PURA PUSEH AMPING, DESA KERAMAS

Latar Belakang

BPCB Bali atau Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Bali memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan terhadap cagar budaya di wilayah kerjanya. Cagar budaya tersebut dapat berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya baik yang berada di daratan maupun di air. Cagar budaya memiliki sifat rapuh, unik, langka, terbatas, tidak terbaharui dan rentan dari ancaman baik faktor alam maupun ulah manusia. Sehingga kegiatan-kegiatan pelestarian terhadap cagar budaya menjadi penting untuk dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kerusakan dan menjaga keterawatannya.

Salah satu program kerja dari BPCB Bali adalah kegiatan pemeliharaan terhadap objek yang merupakan cagar budaya atau yang diduga cagar budaya. Kegiatan pemeliharaan tersebut terdiri dari studi konservasi, konservasi, dan evaluasi hasil konservasi yang dilaksanakan oleh suatu kelompok kerja teknis atau yang disebut Pokja Pemeliharaan. BPCB Bali sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) memiliki program kerja terkait pelestarian cagar budaya yang harus direalisasikan setiap tahunnya. Kegiatan Konservasi di Pura Puseh Amping, Desa Keramas merupakan salah satu bentuk dari realisasi dari program kerja BPCB Bali tahun anggaran 2020.

Kegiatan Konservasi ini penting dilakukan mengingat kondisi cagar budaya yang telah mengalami kerusakan dan belum pernah mendapatkan perawatan yang tepat. Kegiatan konservasi ini sekaligus memperbaiki kerusakan yang terjadi serta mencegah terjadinya kerusakan pada cagar budaya di masa mendatang. Dengan adanya kegiatan konservasi ini juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya melestarikan nilai-nilai budaya yang terkanadung di dalam cagar budaya.

Maksud dan Tujuan

Kegiatan konservasi cagar budaya di Pura Puseh Amping, Desa Keramas bertujuan untuk memperbaiki kerusakan dan merawat cagar budaya serta mencegah terjadinya kerusakan di masa mendatang.

Sasaran Kegiatan

Sasaran kegiatan ini adalah  Benda Cagar Budaya dan  Obyek Diduga Cagar Budaya yang terdapat di Situs Pura Puseh Amping, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar berupa tinggalan arca, fragmen arca, arca binatang, arca lingga, yoni dan lain sebagainya

Pelaksana

Kegiatan ini dilaksanakan oleh sebuah tim dari Pokja Pemeliharaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Bali,   dengan susunan tim sebagai berikut :

  1. Jenny Pramuditha, S.Si  (Ketua tim)
  2. I Gusti Ngurah Agung Wiratemaja (Pengelola Data Cagar Budaya dan Koleksi Museum)
  3. I Nyoman Sumertha (Teknisi Pelestari Cagar Budaya)
  4. I Made Suandi (Juru Bantu)
  5. Ni Luh Putu Widiantari (Juru Bantu)

Letak dan Lingkungan

Puseh Amping berlokasi di Dusun Gelgel, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.  untuk mencapai lokasi pura sangat mudah dapat dijangkau dengan mudah dengan menggunakan kendaraan bermotor, melalui jalan desa menuju arah selatan dari Dusun Gelgel berjarak sekitar ± 3 kilometer, lebih tepatnya berada di tengah area persawahan penduduk (subak ampingan). Disebut subak Ampingan karena lokasinya berada disisi selatan desa Keramas.

Pura ini berada disebelah barat jalan desa dengan letak yang sangat setrategis karena berada ditengah-tengah hamparan persawahan dan tegalan. Adapun batas-batasnya adalah disebelah utara, timur,dan barat merupakan hamparan persawahan, disebelah selatan pura adalah tanah tegalan dan merupakan bagian dari laba (milik) pura. Dilihat dari topografis desa Keramas terletak didaerah pesisir yang terbentang oleh lautan sepanjang ± 4 Km. Kondisi topografis sumber daya desa Keramas berupa hamparan lahan dataran dengan komposisi dan luas sawah ± 354 ha, tanah kering (tegalan) 57,54 ha adalah merupakan daerah yang sangat subur sebagai penghasil padi dan palawija di Kabupaten Gianyar. Desa Keramas memiliki luas wilayah ±472 ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Disebelah Utara  : Desa Belega
  • Disebelah Barat : Desa Pering
  • Disebelah Selatan : Selat Badung
  • Disebelah Timur : Desa Medahan

Disekitar lingkungan pura telah berkembang tempat pembuatan batu bata merah yang berada pada 8´ 34’13 karena minimnya data, terlebih-lebih tidak diketemukannya data tertulis berupa prasasti maupun data tertulis lainnya. Pura ini berada pada´. Lintang Selatan dan 115´ 15” 54´ Bujur Timur Timur. Struktur Pura Puseh Amping terbagi menjadi dua mandala, yaitu: mandala Jeroan dan mandala jaba, di mandala Jeroan terdapat bangunan /pelinggih: Piasan, taksu, padmasana, Padma lingga, pelinggih arca, Ngelurah, bale pesanekan. Menuju ke area jaba dibatasi oleh candi bentar yang nenghadap arah utara-selatan, pada halaman jaba terdapat bangunan gudang, bale pesanekan, perantenan (dapur) dan kamar kecil. Pada  sisi timur jaba sisi terdapat candi bentar dengan arah hadap timur-barat, dan disebelah barat dan timur pura merupakan ladang.

Latar Sejarah

Untuk mengungkapkan sejarah keberadaan Pura Puseh Amping masih banyak menemukan kesulitan, karena minimnya data, terlebih-lebih tidak diketemukannya data tertulis berupa prasasti, maupun lontar. Walaupun demikian, berdasarkan bukti-bukti arkeologis berupa arca-arca perwujudan diketemukan sedikit kejelasan tentang keberadaan pura ini. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya arca-arca ini diperkirakan berasal dari masa yang cukup tua yakni dari abad XIII-XIV Masehi. Dari penuturan tetua masyarakat diperoleh keterangan bahwa Desa Keramas telah ada sejak abad ke XVII Masehi yaitu pada masa pemerintahan Dewa Agung Maruti.

 Di Bali pada masa itu pemerintahan dipegang oleh Raja Dalem Dimade dengan pusat pemerintahannya berada di Gelgel. Namun jauh sebelum itu tinggalan berupa arca-arca yang sekarang tersimpan di Pura Puseh Amping sudah ada. Disamping itu tersebar cerita, bahwa desa Keramas yang ada sekarang merupakan desa yang berkembang belakangan yaitu sekitar abad ke XVII Masehi. Lokasi desa kuna sebelumnya berlokasi di Subak Ampingan sebelaitemukanh selatan desa yang merupakan tanah persawahan yang sangat subur. Dari data Akeologi menunjukkan selain tinggalan berupa arca-arca kuna ditemukan juga sejumlah kereweng, gerabah dan tulang manusia disepanjang area persawahan di sekitar pura. Hal ini memperkuat dugaan, bahwa area pura dan daerah sekitarnya dahulunya merupakan sebuah pemukiman kuna.

Konservasi Cagar Budaya

Menurut Kamus bersar Bahasa Indonesia, konservasi adalah pelestarian, pemeliharaan dan pelindungan sesuatu untuk mencegah kemusnahan (kerusakan dan sebagainya) dengan cara pengawetan. Dalam bidang cagar budaya juga digunakan istilah konservasi. Secara umum, konservasi cagar budaya sebenarnya memiliki cakupan yang luas dan bias diartikan  sebagai pelestarian atau perlindungan itu sendiri.

Sementara itu, dalam lingkup yang lebih sempit konservasi dapat diartikan sebagai tindakan pemeliharaan, pengawetan, atau tretmant tertentu yang diaplikasikan pada material cagar budaya. Kegiatan ini lebih difokuskan pada upaya untuk membersihkan cagar budaya dari faktor penyebab kerusakan, pelapukan dan upaya mengawetkan material cagar budaya agar tidak terjadi degradasi lebih parah.

Pada dasarnya cagar budaya perlu dikonservasi supaya tetap “ada”, supaya pesan “nilai” dan data masa lalu dapat tersampaikan pada generasi sekarang dan generasi berikutnya walaupun tidak seutuhnya. Konservasi konservasi terhadap material cagar budaya yang selama ini dilakukan akan membawa konsekwensi terhadap pelestariannilai-nilai historis, arkeologis dan niali penting lainnya yang terkandung dalam material cagar budaya. Nilai kesejarahan (historis), nilai otentisitas (authenticity), nilai kelangkaan (rarity), nilai pendidikan (educational), dan berbagai data yang terkandung dalam cagar budaya menjadikan cagar budaya penting untuk dilestarikan. Cagar Budaya merupakan asset budaya bangsa yang dapat menjadikan identitas dan karakter bangsa.Mengacu kepada pemahaman konservasi baik dalam arti luas, maupun dalam arti sempit diatas, pada dasarnya konsevasi cagar budaya tetaplah bertujuan melestarikan cagar budaya dengan melindungi materinya, menjaga kwalitas dan nilainyai mendatang.

Pada dasarnya semua benda yang ada didunia ini termasuk cagar budaya akan mengalami degradasi dan bahkan pada akhirnya mengalami proses pelapukan menjadi tanah (soiling process). Seiring dengan perjalana panjang waktu, interaksi benda dengan lingkungan akan mengakibatkan penuaan alami (an tidak jarang, material cagar budaya yang sampai ke tangan kita tindaklanjuti dengamengakibatkan cagar budaya mudah mengalami kerusakan dan pelapukan (degradable). Mengingat perlu dilakukan tindakan konservasi secara tepat terhadap cagar budaya.

Ada prosedur konservasi cagar budaya yang harus diikuti sebelum melakukan tindakan penanganan konservasi secara langsung terhadap material cagar budaya. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir kesalahan penanganan yang dapat mengancam atau memberikan dampak negative terhadap material cagar budaya dapat berupa kerusakan atau pelapukan. Kerusakan adalah suatu proses perubahan yang terjadi pada bahan tanpa diikuti oleh perubahan unsur-unsur penyusunannya, seperti retak dan pecah. Sementara kehancuran menunjukkan kondisi yang lebih parah dari rusak, kondisi ambruk, bentuk asli tidak tampak lagi, tapi unsurnya tidak hilang. Pelapukan adalah suatu proses perubahan yang terjadi pada suatu benda yang diikuti oleh perubahan unsur-unsur penyusunannya baik sifat fisik (desintegrasi) maupun kimiawinya (dekomposisi), seperti: korosi.Cagar Budaya dikatakan musnah apabila bentuk asli cagar budaya tidak ditemukan lagi, contohnya terbakar habis.

Permasalahan pada cagar budaya tersebut, sesuai dengan prosedur konservaskondisi yang lebih parah dari rusak, kondisi ambruk, bentuk asli tidak tampak lagi, tapi unsurnya tidak hilang. Pelapukan adalah suatu proses perubahan yang terjadi pada suatu benda yang diikuti oleh perubahan unsur-unsur penyusunannya baik sifat fisik (desintegrasi) maupun kimiawinya (dekomposisi), seperti: korosi.Cagar Budaya dikatakan musnah apabila bentuk asli cagar budaya tidak ditemukan lagi, contohnya terbakar habis.

Permasalahan pada cagar budaya tersebut, sesuai dengan prosedur konservasi i akan di tindaklanjuti dengan melakukan observasi lapangan (studi konservasi). Observasi lapangan merupakan pengamatan pada cagar budaya dengan melakukan perekaman data dan dokumentasi objek dan lingkungannya. Selanjutnya dilakukan identifikasi dan analisis untuk mengetahui jenis dan kualitas bahan, faktor penyebab, proses gejala kerusakan dan pelapukan yang terjadi, dan analisis konprehensif terhadap objek dan lingkungannya. Faktor penyebab kerusakan dan pelapukan cagar budaya bias berupa faktor intrinsic dan ekstrinsic.  Faktor intrinsic berasal dari material cagar budaya sendiri yang meliputi jenis bahan, faktor penyebab, proses, gejala kerusakan dan pelapukan yang terjadi, dan analisis konprehensif terhadap objek dan lingkungannya. Faktor penyebab kerusakan dan pelapukan cagar budaya bias berupa faktor intrinsic dan ekstrinsic. Faktor intrinsic berasal dari material cagar budaya sendiri yang meliputi jenis bahan, sifat-sifat fisik maupun kimiawinya dan teknologi pembuatan benda. Sedangkan faktor ekstrinsic berasal dari lingkungan disekitar material cagar budaya baik berupa faktor biotik (seperti : flora,fauna, dan fandalism) maupun faktor abiotic (seperti: iklim, gempa bumi, dan lain-lain). Proses kerusakan dan pelapukan pada cagar budaya dapat terjadi melalui proses kerusakan mekanis, proses pelapukan fisik, proses pelapukan kimiawi, dan proses pelapukan biologi. Analisis komprehensif terhadap cagar budaya tersebut dilakukan untuk meminimalisir intervensi secara langsung terhadap material cagar budaya.

Sebelum tindakan langsung pada material cagar budaya, terlebih dahulu juga dilakukan pengujian konservasi dalam rangka menentukan metode, teknik dan bahan konservasi yang tepat. Kemudian baru dilakukan penanganan konservasi baik berupa pembersihan, perbaikan, kamuflase (penyelarasan), konsolidasi (perkuatan), pengawetan dan lain-lain. Prosedur konservasi merupakan upaya mempertahankan keaslian bahan (authenticity). Karena pada dasarnya cagar budaya akan bernilai tinggi jika dalam kondisi otentik atau asli. Penanganan konservasi tidak menghentikan secara total proses kerusakan dan pelapukan yang terjadi.

Hasil Kegiatan

  • Arca Siwa
    • No Inventaris: 1/14 −04/BB/617
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Arca perwujudan
    • No Inventaris: 1/14−04/BB/620
    • Bahan: padas
    • Kondisi: utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14−04/BB/626
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Kepala tidak ada, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Arca Ganesa
    • No Inventaris: 1/14/ −04/BB/618
    • Bahan: padas
    • Kondisi: Patah dua bagian
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, penyambungan, serta konsolidasi
  • Arca Nandi
    • No Inventaris: 1/14−04/BB/623
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Permukaan aus
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Arca Perwujudan
    • No Inventaris: 1/14−04/BB/622
    • Bahan: padas
    • Kondisi: Patah dua bagian
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembesrihan chemis menggunalan AC-322, penyambungan, serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14−04.BB/627
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh
    • Penanganan: pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14−04/BB/626
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Lingga
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/631
    • Bahan: padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakn AC-322, serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: 1/14−04.BB/627
    • Bahan: padas
    • Kondisi: Utuh
    • Penangan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/629
    • Bahan:  Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen lingga
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Tidak utuh, bagian atas hilang
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/633
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis dengan menggunakan  AC-322,  serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/628
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Fragmen bangunan
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/628
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah. Pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Fragmen
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/628
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca Perwujudan
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/630
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/629
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/633
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/629
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/629
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Bangunan
    • No Inventaris: 1/14−04/BB/625
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/633
    • Bahan: Padas.
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/629
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Lingga Semu
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/632
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaan aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/628
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, permukaa aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: utuh, permukaan aus.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Fragmen arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Kemuncak
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Lingga
    • No Inventaris: 1/14 −04/BB/619
    • Bahan: Padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.
  • Arca Perwujudan
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/621
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh. Batu ini diletakan di bagian tengah dari lingga kembar
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Stela Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/635
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh. Batu ini diletakan di bagian tengah dari lingga kembar
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Stela Arca
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh. Batu ini diletakan di bagian tengah dari lingga kembar
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Stela Arca
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/634
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh. Batu ini diletakan di bagian tengah dari lingga kembar
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Nandi
    • No Inventaris: –
    • Bahan: Batu alam
    • Kondisi: Utuh.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah serta konsolidasi.
  • Lingga Yoni
    • No Inventaris: 1/14-04/BB/624
    • Bahan: padas
    • Kondisi: Utuh, mengalami pelapukan biologis.
    • Penanganan: Pembersihan mekanis kering dan basah, pembersihan chemis menggunakan AC-322, serta konsolidasi.

Kegiatan Konservasi

Pembersihan Mekanis Kering

Pembersihan mekanis kering bertujuan untuk membersihkan kotoran seperti debu tanah dan kotoran yang menempel pada cagar budaya. Pembersihan mekanis kering dilakukan dengan menggunakan sikat halus seperti sikat gigi, sikat plastic, kuas, sudip bambu.

Pembersihan Mekanis Basah

Pembersihan mekanis basah ini dilakukan dengan cara yang sama seperti pembersihan mekanis kering yang dibantu dengan mengunakan guyuran air untuk membersihkan kotoran atau organisme yang masih menempel pada benda.

Perbaikan (Penyambungan arca yang patah)

Kegiatan perbaikan dilakukan pada 1 buah arca perwujudan  dan 1 buah arca ganesha yang patah menjadi dua bagian. Alat dan bahan yang digunakan antara lain angkur, bor, epoxy resin, hardener, bubuk padas, kapur putih, semen. Berikut merupakan proses dari kegiatan penyambungan.

Kamuflase

Kamuflase bertujuan untuk menutupi bagian yang terlihat patah agar terlihat seperti semula. Kamuflase dilakukan dengan mengoleskan bubuk padas yang sudah dicampur dengan semen dengan perbandingan 6:1 pada bagian yang disambung.

Konsolidasi

Konsolidasi bertujuan untuk memperkuat ikatan-ikatan partikel dari material cagar budaya. Konsolidasi dilakukan dengan mengoleskan larutan paraloid B-72 ke seluruh permukaan cagar budaya dengan menggunakan kuas.

Simpulan dan Saran

Dari hasil kegiatan konservasi di Pura Puseh Amping, Desa Keramas, Kabupaten Gianyar, maka dapat disimpulkan :

  • Objek Diduga Cagar Budaya di Pura Puseh Amping merupakan peninggalan pada masa hindhu yang memiliki nilai penting bagi sejarah ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan yang dapat menceritakan sejarah kehidupan leluhur masyarakat Desa Gianyar pada masa lalu, maka sesuai  Undang-undang Cagar Budaya situs ini  perlu dilestarikan.
  • Konservasi berupa pembersihan secara mekanis baik kering dan basah serta konsolidasi telah dilakukan terhadap objek diduga cagar budaya di Pura Puseh Amping, selain itu juga telah dilakukan penyambungan pada arca yang patah.
  • Pelestarian juga perlu dilakukan dari Pemerintah Daerah (Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar), dan instansi terkait yang menangani masalah Cagar Budaya agar benar-benar dapat memperhatikan, memahami dan melestarikan peninggalan cagar budaya, sesuai amanat Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya
  • Peran pihak Bendesa selaku pengelola, masyarakat banjar sampiang serta pengempon pura, sangat diperlukan dalam upaya pelestarian terutama dalam bentuk pemeliharaan secara tradisional, agar pelestarian tersebut dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Leave a Reply