BIARA SANGKILON: HARTA KARUN TERPENDAM KABUPATEN PADANG LAWAS DITELITI OLEH TIM BALAI ARKEOLOGI SUMATERA UTARA

0
830

BIARA SANGKILON: HARTA KARUN TERPENDAM KABUPATEN PADANG LAWAS DITELITI OLEH TIM BALAI ARKEOLOGI SUMATERA UTARA

Runtuhan bangunan yang terletak di tengah-tengah lahan kelapa sawit tersebut terlihat merana karena termakan usia dan cuaca. Beberapa lembar lumut hijau dan rumput tampak menyelimuti tubuh bangunan tersebut. Sebuah monumen yang terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Lubuk Barumun yang tidak utuh lagi, seolah menjadi saksi bisu yang merekam aktivitas masyarakat Padang Lawas pada masa lampau. Pada sisi lain, bangunan yang mendapat julukan “temple in the jungle” oleh para peneliti Belanda di sekitar tahun 1930-an itu juga menyisakan jejak aktivitas modern yang ternyata “salah kaprah” terhadap pengertian harta karun terpendam. Sebuah lubang besar sedalam 3 meter, sepanjang 5 meter, dan selebar 2 meter pada tubuh bangunan sisi selatan menjadi bukti kerakusan oknum yang haus akan harta masa lampau. Monumen tersebut digali secara liar sekitar tahun 2000-an, yang menyebabkan bangunan tersebut mengalami kerusakan yang cukup parah. “Waktu menggalinya orang itu kami tidak tahu,” ungkap Pak Ali selaku juru pelihara biara. “Ada laporan dari penggarap sawit tentang penggalian liar itu, trus kami ke lokasi, ternyata udah ada lubang besar di situ,” lanjutnya seraya menunjuk ke arah lubang bekas galian liar.

Gambar 1. Biara Sangkilon dilihat dari sudut timur laut

Berkaitan dengan hal tersebut, tim Balai Arkeologi Sumatera Utara, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang dipimpin oleh Andri Restiyadi, MA. pada tanggal 21 Oktober—9 Novermber 2018 ini mengadakan penelitian arkeologis di Kompleks Biara Sangkilon, Desa Sangkilon, Kecamatan Lubuk Barumun, Provinsi Sumatera Utara. Pada penelitian kali ini UPT yang memiliki wilayah kerja lima provinsi (Provinsi Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat) tersebut juga melibatkan beberapa stakeholders yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas, tokoh adat, dan masyarakat setempat. Pelibatan masyarakat sekitar dalam kegiatan dirasakan cukup penting, selain sebagai media pendidikan dan sosialisasi tentang kesadaran pelestarian cagar budaya, juga diharapkan agar tidak terjadi kecurigaan terhadap upaya perburuan harta karun pada aset mereka.

Selain dilakukan dengan cara ekskavasi, penelitian yang bertopik arkeologi lansekap tersebut juga disertai dengan survei, pemetaan terestrial dan foto udara menggunakan drone (pesawat tanpa awak) serta wawancara terhadap beberapa tokoh masyarakat terkait dengan pemanfaatan lahan di sekitar biara. Pada penelitian kali ini lebih dari 7 kotak ekskavasi dengan ukuran bervariasi 2 x 2 m, 4 x 4 m, sampai 4 x 6 m telah dibuka, tersebar di dua lokasi berbeda yang dikodekan dengan sektor II dan IV, dan V. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui relasi antarkompleks bangunan utama dengan bangunan-bangunan di sekitarnya, juga terhadap lingkungan alam, dan perubahan lahan hasil aktivitas pemanfaatan manusia. Senyampang dengan kegiatan tersebut, Balai Arkeologi Sumatera Utara, pada penelitian tahun 2018 ini juga dilakukan diskusi dan sinkronisasi misi, visi terhadap upaya pelestarian dan pengelolaan tinggalan budaya yang terdapat di kawasan Padang Lawas. Kegiatan tersebut melibatkan Bupati, ketua adat, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas.

  

 Gambar 2. Keterlibatan masyarakat setempat dalam kegiatan ekskavasi

Gambar 3. Survei dan pemetaan terestrial yang dilakukan oleh tim penelitian

Gambar 4. Diskusi dan Sinkronisasi visi, misi pelestarian tinggalan arkeologis dengan Bupati, tokoh adat, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Lawas

Menuju ke lokasi Biara Sangkilon memang tidak mudah, tetapi cukup menyenangkan bagi yang menyukai tantangan. Dari jalan utama Sibuhuan—Gunung Tua, memang sampai saat ini belum terdapat papan nama yang menunjuk ke arah situs tersebut. Walaupun begitu kita bisa memulai pencarian ke Desa Sangkilon di Kecamatan Lubuk Barumun. Dari lokasi tersebut dapat ditanyakan kembali kepada masyarakat setempat arah menuju biara. Oleh karena jalan menuju ke biara tidak dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat, kita harus melintasi jalan setapak membelah kebun kelapa sawit. Kadang jalan setapak tersebut menjadi becek karena hujan. Dari jalan utama Sibuhuan—Gunung Tua sampai ke Biara Sangkilon kira-kira sejauh 1 km masuk ke arah kebun kelapa sawit melalui jalur darat. Jalur kedua dapat ditempuh dengan cara menyeberangi Sungai Sangkilon. Apabila sungai dalam kondisi surut, kedalamannya hanya sekitar 30-50 cm, tetapi apabila dalam kondisi banjir dapat mencapai 100-200 cm. Lebar Sungai Sangkilon yang harus diseberangi kira-kira 10 meter. Dalam kondisi normal, airnya cukup jernih dan arusnya sedang, sehingga kita bisa melihat tatanan alami kerakal-kerakal sungai, dan beberapa ekor ikan yang lalu-lalang. Secara umum, jarak dari Biara Sangkilon—Kota Sibuhuan sejauh 9 km ke arah utara.

TINGGALKAN KOMENTAR