Ratusan Perupa dari Seluruh Indonesia Pamerkan Karyanya di Manado

0
2008

Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) 2016 di Manado, Sulawesi Utara. Sebanyak seratus perupa tanah air dari 34 Provinsi akan berkumpul memamerkan karya seni rupanya pada 6 s.d 9 September 2016.

art-visuall Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-4. PBSR pertama kali diselenggarakan di Lampung pada tahun 2013, kemudian berlanjut di Papua pada tahun 2014, dan di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2015.

Tahun ini, PBSR 2016 diselenggarakan Kemendikbud bersamaan dengan kegiatan tahunan nasional bertajuk Temu Karya Taman Budaya. Kedua kegiatan itu akan berlangsung di Taman Budaya Sulawesi Utara.

pameran-seni-manado

Tema besar  yang diangkat dalam PBSR 2016 adalah “Harmoni dalam Keragaman Budaya”, dengan subtema “Episentrum Lokal”.  Kurator yang terlibat dalam PBSR 2016 antara lain Rikrik Kusmara, dibantu tim kurator lokal Temy Katoppo dan Elias Pangkey dari Universitas Negeri Manado (Unima).

pengunjung-manado

Rikrik Kusmara mengatakan, Pameran Besar Seni Rupa ke-4 ini hendak mencermati fenomena para kreator di berbagai wilayah Indonesia. “Tujuannya adalah mendorong berubahnya cara melihat fenomena seni dan kreatif dalam bidang seni rupa secara geopolitik dan administratif dengan yang cenderung melihat posisi ‘pusat ‘dan ‘daerah’ serta yang ‘utama’ dan yang ‘pinggiran’,” ujar Rikrik yang juga mengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung.

pembukaan-manado

Untuk mengapresiasi seniman lokal atau pelukis Indonesia asal Tomohon, Sulawesi Utara, akan diadakan acara “Napak Tilas Henk Ngantung” pada Rabu (7/9/2016). Seluruh peserta PBSR 2016 akan berangkat pagi-pagi benar (sebelum matahari terbit), dari Kota Manado menuju Galeri Sonny di Kota Tomohon. Mereka akan menjelajah kawasan Matani, dan melihat kampung dan rumah keluarga Henk Ngantung. Perjalanan akan dilanjutkan menuju Rurukan, yang terkenal dengan pemandangannya yang mengagumkan. Di situ, para perupa  akan berkarya bersama, dengan obyek alam, maupun kesenian tradisi (musik dan tari Maengket, serta Kabasaran).