W.J. Th. Tangkau 2: Beberapa Pengalaman Dari Masa Dinas Sebagai Dokter Bumi Putra 1901-1912

0
546

Kejadian kedua tercatat pada 1904 sebagai “serius tetapi sangat mudah”. Saat itu W.J. Th. Tangkau  sebagai dokter Djawa muda yang belum menikah, diserahi oleh Dinas Kedokteran Sipil untuk melakukan pengawasan atas vaksinasi di sebuah wilayah di Sulawesi Selatan. Jabatan kehormatan yang diserahkan kepada pendahulu W.J. Th. Tangkau  seorang perwira kesehatan dengan tunjangan yang diberikan f 100 per bulan di luar gajinya; sementara saat itu W.J. Th. Tangkau  menerima penghasilan f 90 per bulan.

Dinas kesehatan murni tidak begitu bermasalah, setidaknya mengenai penduduk bumi putra; karena orang Makasar atau orang Bugis terutama suka berkonsultasi dengan dukun bumi putra (sawio). Apabila orang ini menyerah, baru (tidak selalu) dia menghadap kepada “tuan dokter” untuk berdiskusi.

Jadi pada suatu hari, W.J. Th. Tangkau diminta untuk memberikan bantuan medis untuk menangani seorang gadis muda Bugis dari keluarga terkenal, yang sejak dua minggu sakit parah. Tulang bawahnya yang bengkak sangat menyakitkan, disertai dengan demam tinggi dan gemetaran. Pendeknya, dalam pemeriksaan W.J. Th. Tangkau mengutamakan diagnose “abses”. Atas permohonan W.J. Th. Tangkau, pasien diperiksa lebih lanjut, tetapi tampak bagi W.J. Th. Tangkau bahwa hal ini tidak mungkin. Pertama-tama karena menyangkut seorang gadis muda dari keluarga terhormat dan W.J. Th. Tangkau adalah seorang pemuda bujangan.

Kedua, tujuannya hanya untuk meminta obat dari W.J. Th. Tangkau. Setelah berbicara ke sana-ke mari untuk mendapatkan kepercayaan pada penduduk bumi putra, W.J. Th. Tangkau diperkenankan untuk memeriksa pasien itu dengan persyaratan khusus. Pada jam yang ditetapkan siang hari itu, W.J. Th. Tangkau dijemput dan W.J. Th. Tangkau memasuki sebuah kamar besar dengan jendela tertutup, sementara pintu di belakang W.J. Th. Tangkau  langsung ditutup, ketika W.J. Th. Tangkau  dibimbing masuk. Dalam sudut yang gelap, W.J. Th. Tangkau melihat sebuah dipan yang rendah, dan di atasnya satu tumpukan besar yang ditutup dengan sprei dan bantal merah. Pada ujung kakinya W.J. Th. Tangkau merasa sangat heran karena melihat tulang kaki manusia telanjang yang menonjol sampai di bawah lutut. Itu adalah kaki kiri pasien W.J. Th. Tangkau yang bersembunyi di belakang bantal dan selimut dari W.J. Th. Tangkau .

Meskipun karena situasi yang aneh ini kondisinya tidak bisa disebut menyenangkan. Kondisi ini menjadi lebih baik ketika pada tatapan W.J. Th. Tangkau yang pertama tertuju pada pembengkakan akut. Hal ini semakin membenarkan diagnose W.J. Th. Tangkau. Tanpa bertanya lagi, W.J. Th. Tangkau meraba tempat yang sakit, menemukan gejala-gejala tiga hal: “tumor, kalor dan dolor”. Pasien yang tidak tampak berteriak kesakitan ketika diraba dan semuanya jelas akan cepat berubah. Keputusan segera W.J. Th. Tangkau ambil. W.J. Th. Tangkau memegang seperangkat peralatan dan setelah melibatkan anggota keluarga agar menyiapkan sebuah ember, baskom dengan air cuci, handuk dan sebagainya, W.J. Th. Tangkau melakukan operasi dengan kecermatan yang sama seperti yang digambarkan pada bagian sebelumnya. Tetapi di sini semua berlangsung jauh lebih mudah. Kandungan nanah yang muncul dari lobang pengirisan memenuhi ember yang telah disiapkan di samping dan hasilnya, semua mendengar ketika dengan perasaan gembira tampak wajah kelegaan yang nyata, di belakang tumpukan bantal dan selimut. Setelah lima hari perawatan, dalam kondisi seperti itu pasien selanjutnya bisa ditolong. Saat itu begitu banyak W.J. Th. Tangkau  diberi oleh keluarga berbagai bentuk penghargaan dan ucapan terimakasih, bahwa W.J. Th. Tangkau  akhirnya bisa menangani pasien secara normal, yakni dia tidak lagi perlu bersembunyi di belakang tumpukan besar di depan mata W.J. Th. Tangkau .

Penghargaan ini jarang atau tidak pernah diberikan kepada seorang dokter muda yang masih lugu atau bukan dokter, W.J. Th. Tangkau  menerima dengan sukacita karena W.J. Th. Tangkau  terutama bisa mendapatkan lebih banyak kepercayaan dari pihak penduduk bumi putra ini tentang pengetahuan medis Barat. Terlepas dari kecermatan yang W.J. Th. Tangkau curahkan sebagai seorang pemuda W.J. Th. Tangkau dapat berhadapan langsung dengan gadis muda yang mengucapkan terima kasih. Pada saat yang ditetapkan, W.J. Th. Tangkau  tiba di beranda tengah yang dikelilingi dengan kayu papan, dan tidak lama kemudian pintu kamar dibuka, di sana W.J. Th. Tangkau  bertemu dengan pasien yang berterima kasih itu, ia mengulurkan tangan kepada W.J. Th. Tangkau  sebagai bukti pengakuan yang dalam. Sambil tersenyum tetapi kecewa dalam hati, W.J. Th. Tangkau  segera berpamitan karena gadis muda itu terbukti W.J. Th. Tangkau sayang sekali telah terserang oleh cacar, terutama di wajahnya.