Selamatkan Budaya Sagu Melalui Sekolah Lapang Kearifan Lokal

0
371

Skouw adalah satu dari kota perbatasan Indonesia dan Papua Nugini yang berada di Distrik Muaratami, 60 kilometer dari Kota Jayapura. Skouw begitu istimewa memiliki garis pantai yang indah dan kekayaan hutan yang melimpah. Pergeseran alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat, termasuk kebudayaan yang ada di sana. Sebagai tindakan kongkrit Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat (KMA) untuk melestarikan kebudayaan, diantaranya dengan menggerakkan pemuda-pemuda adat melalui platform Sekolah Lapang Kearifan Lokal (SLKL).

“Melalui platform ini, kami membekali pengetahuan tentang menggali, mendapatkan informasi dari Empu atau Ondoafi yang lebih tahu tentang sejarah dan juga 10 objek pemajuan kebudayaan dan kearifan lokal yang dimiliki di masyarakat Skouw,” Ungkap Sjamsul Hadi Direktur KMA.

Inti dari program SLKL adalah pembelajaran menggali kembali kearifan lokal yang hampir terlupakan di masyarakat khususnya kepada pandu budaya, menjadi ruang pembelajaran terbuka menyatu dengan alam sehingga dimungkinkan mereka menginisiasi terbentuknya Sekolah Adat yang didirikan dan dikelola oleh Masyarakat Adat didukung oleh Dana Desa/Kampung.

Melalui program SLKL yang telah dilaksanakan bulan April lalu dan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, dilaksanakanlah Festival Skouw. Dengan melibatkan seluruh masyarakat di sana, mereka dapat mengeksplorasi dan menunjukkan ragam kekayaan budaya yang ada di Skouw. Festival ini dilaksanakan di tiga kampung, yakni Skouw Mabo, Skouw Sae, dan Skouw Yambe pada tanggal 21-22 Juni 2023 yang bertepatan dengan hari sagu.

Rangkaian festival Skouw dimulai dengan Lomba Permainan Tradisional di Skouw Mabo seperti kaki kuda dan kuci yang dimainkan di pinggir pantai. Kegiatan dilanjutkan dengan jelajah kuliner tradisional, melibatkan Papua Chef Jungle Charles Toto serta Chef Hassan dari Qatar. Mereka menampilkan eksebisi memasak menggunakan pengetahuan tradisional “Bakar Batu,” dengan aneka olahan berbahan dasar sagu dan aneka menu tradisional tersedia untuk dinikmati bersama.

Selanjutnya di Skouw Yambe diadakan Pembukaan Festival yang dihadiri oleh Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Sjamsul Hadi, Walikota Jayapura Frans Pekey, Serta Walikota-Walikota dari Indonesia Timur yang tergabung dalam Asosiasi Walikota Seluruh Indonesia (APEKSI) Wilayah Indonesia Timur. Rombongan Pejabat Walikota dan Kemdikbudristek disambut dengan pengalungan noken dan tarian sambutan tokok sagu yang menceritakan tentang proses menokok sagu yang dilakukan masyarakat papua.

Dalam festival ini Walikota Jayapura mengatakan Festival Tokok Sagu ini sangat bagus dan nantinya akan dijadikan agenda tahunan sehingga bisa dikembangkan lagi karena sagu saat ini kondisinya sudah terancam punah, harus ada pelestarian dari pemerintah dan masyarakat,

Berbagai kesenian ditampilkan dalam festival ini seperti Atraksi Tokok Sagu, yakni pengunjung bisa mengetahui proses kearifan lokal mengolah sagu mulai dari menokok sagu, meramas sagu, hingga menjadi olahan sagu. Di sekitar panggung hiburan juga disediakan stand pameran produk unggulan lokal berbahan sagu dan hasil olahan masyarakat Skouw lainnya.

Pandu budaya yang dilatih oleh Direktorat KMA melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Papua dan Penggiat Budaya Lokal mengemban tugas sebagai motor penggerak berjalannya festival.

“Kami bertugas mengarahkan masyarakat dan mengkoordinir tamu-tamu yang hadir, serta memberi informasi pemahaman tentang budaya di Skouw,” ujar Ferliya Taresay selaku Ketua Pandu Budaya Skouw.

“Harapannya kedepannya ada pandu-pandu budaya baru lagi yang hadir untuk membantu kami juga, serta diadakan pelatihan-pelatihan lanjutan untuk melestarikan budaya adat Skouw” tutup Ferliya.

Di hari kedua Festival Skouw, diadakan sarasehan “Jalan Kebudayaan Papua dan Jalan Pangan Masyarakat Adat.” Sarasehan ini memepertemukan masyarakat Skouw dengan para pemangku kepentingan, mengangkat isu-isu dan permasalahan yang terjadi di Papua, khususnya wilayah Skouw. Menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten di antaranya Ketua Komisi II DPR Papua Jhon Gobay, Perwakilan Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Port Numbay Eddy Ohoiwutun, Ketua Gugus Tugas Masyarakat Adat (GTMA) dan Mantan Bupati Jayapura Mathius Awaitouw, Antropolog dan Kurator Universitas Cenderawasih Enrico Yory Kondologit, dan Perwakilan Dekan Fakultas MIPA Universitas Cendrawasih Daniel Lantang serta Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Sjamsul Hadi

Dari sarasehan ini didapat poin poin penting untuk pemajuan kebudayaan di Skouw ke depan, diantaranya pentingnya hutan sagu dan pelestariannya ke depan, pentingnya membangun Kembali kebudayaan dari kampung, memasukkan kurikulum kebudayaan ke dalam muatan lokal Pendidikan formal, serta mendorong pemerintah untuk mengeluarkan peraturan mengenai kurikulum kebudayaan tersebut.

Dalam sarasehan tersebut John Gobay, Ketua Komisi II DPR Papua menyebutkan pandu budaya berperan dalam pelestarian budaya. Pandu budaya menurutnya bisa dilibatkan untuk mengajar kebudayaan yang ada di sini ke depannya. Dalam upaya pelestarian budaya, Pandu Budaya sebagai penggerak pelestari budaya harus mendapat dukungan dari pemerintah Kota agar warisan budaya Indonesia tetap terjaga.