Tari Prajuritan Kabupaten Semarang

0
10275

Data Sejarah

Di dalam buku Tari Prajuritan Kesenian khas Kabupaten Semarang  dari Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang Tahun 2005 Tari Prajuritan mula mula tumbuh dan berkembang di wilayah Getasan Kabupaten Semarang khususnya di Dusun Manggisan. Tari Prajuritan ini merupakan bentuk tiruan atau penggambaran derap langkah prajurit dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai prajurit kemudian dikemas dalam bentuk tarian.

Embrio tari prajuritan diperkirakan mulai muncul abad XVIII dimana pada saat itu seorang tokoh pejuang pembela rakyat yang sangat kharismatis  dalam menentang penjajah Belanda beliau adalah Pangeran Samber Nyawa , dalam memimpin perlawan terhadap Penjajah  dengan perang gerilyanya memiliki semboyan “ Tiji Tibeh “ ( Mati siji mati kabeh , mukti siji mukti kabeh ) dan berpegang teguh pada “  Tridharma “ prajurit yaitu Rumongso Handarbeni – melu Hangrungkebi – Mulat Sariro Hangrosowani , dan semboyan  tridharma ini merupakan kekuatan yang sangat sulit untuk ditumpas. Menghadapi kelompok Sambernyawan membuat Belanda kewalahan , Maka diundanglah Pangeran Sambernyawa untuk mengadakan  perundingan  dengan fihak Belanda di Salatiga tanggal 17 Maret 1757 dengan hasil kesepakatan  Dinobatkannya Pangeran Sambernyawa menjadi Adipati bergelar Adipati Mangkunegara I

Pada saat diadakan perundingan prajurit sagelar sepapan Sambernyawan setia berjaga disekitar Salatiga untuk bersiap bila diperlukan membela pimpinan mereka.

Prajurit – preajurit ini mendirikan barak barak disekitar Getasan dan pada waktu waktu tertentu mengadakan latihan perang perangan,  dari latihan prajurti Sambernyawan ini kemudian anak anak muda sekitar Getasan mencoba menirukan gerak prajurit prajurit tersebut sambil bekerja di kebun tembakau  sehingga gerak gerak mereka tirukan disesuaikan dengan posisi mereka bekerja dikebun tembakau .

Sesuai dengan fungsinya ,kesenian dapat dijadikan sebagai salah satu media aktualisasi jatidiri,wahana untuk mengekpresikan pengalaman jiwa maupun sarana hiburan serta mengkomunikasikan ide – ide atau pikiran Demikian juga Tari Prajuritan dalam perkembangannya berfungsi sebagai media ekspresi dan penanaman rasa cinta terhadap nusa,bangsa dan negara disamping sebagai media hiburan .

 

Usaha Mengembangkan Tari Prajuritan

Upaya memperkenalkan tari Prajuritan sebagai hasil budaya dilakukan masyarakat dengan mengadakan pentas pentas didusun dengan perlengkapan dan pakaian seadanya mereka mulai membentuk kelompok kelompok untuk berlatih dan  dipentaskan diperhelatan perhelatan dusun , dari gerak gerak yang ditampilkan dan pakaian serta perlengkapan yang digunakan ternyata menarik kaum muda dari dusun lain  untuk juga membentuk kelompok kelompok sehingga tari ini mulai dikenal didusun lain dengan mengembangkan pola pola lantai gelar prajurit serta memakai kostum seperti  prajurit yang pernah mereka lihat berlatih di Getasan . Sekitar  tahun 1980 Kasi  Kebudayaan  Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan  Kab. Semarang pada saat itu Ki Adi Samidi  Tarian ini dikareografi   dengan gerak gerak yang menarik tanpa meninggalkan bentuk dan makna serta tujuan ditarikannya gerak gerak ala prajurit Sambernyawan tersebut sebelumnya , bersama dengan para Seniman pada saat itu seperti Bapak Sutrisno BA, Hernowo Sujendro , Sugiyati  dll mereka bersepakat menamakan tari tersebut sebagai TARI  PRAJURITAN “ dengan gerak , pakaian dan peralatan yang sudah ditentukan . Untuk selanjutnya diadakan kajian dan seminar seminar serta pelatihan – pelatihan untuk membakukannya dan terbentuklah gerak gerak seperti yang kita lihat sekarang sebagai Tari Prajuritan yang dipentaskan secara kelompok kecil maupun secara massal serta ditetapkan sebagai kesenian Khas Kabupaten Semarang .

 

Diskripsi

Tari Prajuritan  merupakan salah satu tarian tradisional dari Kabupaten Semarang

Penari tari Prajuritan biasanya berjumlah 14 orang dengan 5 orang penabuh, 1 orang manggalayuda dan 1 orang pekathik .

Untuk iringan yang digunakan adalah

1. Benda

2. Trendheng  ( Dheng  – thek )

3. Bedhug

4. Saron

Busana

Busana yang digunakan oleh penari Tari  Prajuritan :

1. Busana Manggala Yuda  : celana panjen, kain barong putih, sabuk cinde merah, boro

dan samir, epek timang, baju putih lengan panjang, dasi

kupu , teni hitam, blangkon, sumpung kudhup, keris ladrang

2. Busana Wirapati   : Celana panjen, Kain barong putih, sabuk cinde merah, boro dan

samir , epek timang, surjan motive bunga, blangkon, kalung ulur,

keris ladrang

3. Busana Prajurit     : Celana panjen warna hitam , kain lereng, sabuk cinde, epek timang,

Baju lengan panjang warna putih, rumpi warna hitam, kalung kace

Nyakram atau iket warna hitam dan merah

4. Busana Pekathik   : Celana panjen  warna hitam,kain panjang bebas, sabuk, epek

Timang, rumpi warna hitam, iket udhar dasar hitam , cemethi

5. Busana Pengiring  : Celana panjen, kain, sabuk , epek timang, surjan lurik, iket udhar

Gelar

Gelar tari Prajuritan  : Gelar sawo jajar, Gelar Garuda Nglayang, Gelar Kunthul Nebo,

Gelar Wulan Tumanggal , Gelar Supit Urang , Gelar Waringin Sung

Sang .

Peralatan

Peralatan / kelengkapan  : Cemethi, Tameng, Pedang, Terompet, Keris Ladrang, Kuda kepang

 

Tari Prajuritan merupakan kesenian tari khas Kabupaten Semarang. Tari Prajuritan adalah sebuah tari yang menggambarkan ulah gerak para prajurit dalam berlatih untuk meningkatkan kemampuan perang.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900944

Nama Karya Budaya :Tari Prajuritan Kabupaten Semarang

Provinsi :Jawa Tengah

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda