SANG MAESTRO SILAT DARI BETAWI

0
1595

H. Sanusi atau Babe Uci begitu beliau akrab dipanggil oleh murid ataupun orang-orang yang mengenalnya merupakan seorang tokoh dalam dunia persilatan di Indonesia. Babe Uci lahir di Jakarta tanggal 4 September 1929. Beliau tumbuh dan besar di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat. Sejak usia 12 tahun beliau berlatih pencak silat dan itu semua berkat kedisiplinan hidupnya dalam hal sholat dan mengaji sehingga sang Guru mau mewariskan ilmunya kepada Babe Uci. Tahun 1950 beliau mendirikan Pusaka Jakarta yang merupakan Persatuan Pencak Silat Betawi. Menurut beliau pencak silat betawi dipengaruhi aliran silat dari berbagai daerah antara lain Silat Sunda, Silat Minang, bahkan aliran ilmu bela diri dari Negara Tiongkok. Silat betawi “ga pake filosofi”, yang penting bisa mukul dan bisa menghindar kata Babe Uci. Tujuan dari awal beliau belajar dan mengajarkan pencak silat kepada masyarakat adalah semata-mata untuk melestarikan budaya Indonesia.

Dari kesukaannya dalam dunia persilatan tersebut Babe Uci mendapatkan beberapa penghargaan antara lain sebagai Maestro Seni Tradisi dalam bidang Pencak Silat tahun 2014 dari Kemendikbud, Penerima Anugerah Budaya kategori Seniman tahun 2013 dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta dan yang paling utama adalah Piagam Penghargaan sebagai Seniman Penerima Penghargaan Anugerah Budaya tahun 2013 oleh Bapak Joko Widodo serta beberapa penghargaan dan piagam dari berbagai pihak.

Selain ini Babe Uci juga banyak terlibat dalam berbagai Film di Indonesia sebagai Guru atau Pengajar Adegan Silat di Film Film Laga, antara lain : Film Si Jampang Mencari Naga Hitam, Si Pitung, Panji Tengkorak, Pacar Ketinggalan Kereta dan lain sebagainya. Total dari keseluruhan film yang melibatkan beliau ada sebanyak 28 judul film, maka tak heran kalau nama besar Babe Uci menggema diantara para Sutradara dan Aktor Film ternama di Indonesia.

Dimasa tuanya saat ini Babe Uci menitipkan pesan kepada generasi muda Millenial agar mencintai budaya bangsa terutama seni bela diri yaitu pencak silat. Yang terpenting dalam hidup itu ada 3S : Silat, Sholat dan Silaturahim begitu motto hidup beliau, sehingga silat bukan hanya menjadi sebuah tontonan melainkan juga menjadikan tuntunan dalam kehidupan. Harapan beliau kedepannya supaya Pemerintah lebih menyediakan fasilitas dalam berlatih pencak silat dan agar silat bisa masuk ke dalam kurikulum sekolah seperti yang beliau kemukakan saat diundang dengar pendapat oleh Komisi X DPR RI.