Richard Harry Chauvel: Masyarakat Indonesia Itu Terbuka

0
655

Empat pulau tahun silam, Chauvel yang tertarik pada mata kuliah tentang Asia Tenggara mendarat di Medan, tepatnya tahun 1967. Seorang pegawai Imigrasi Medan bahkan memberi tumpangan di rumahnya. Ia mengaku sangat tertolong mendapat berbagai gambaran tentang Indonesia dari pegawai tersebut.

Lantas, ia melakukan perjalanan di Sumatera, mulai dari Medan, Aceh, Toba, Bukit Tinggi (Sumatera Barat), hingga ke Jawad dan Bali. Perjalanan tersebut membangkitkan ketertarikannya pada Indonesia dengan masyarakatnya yang terbuka dan beragam.
Letak Indonesia yang berada di persimpangan jalur laut membuat banyak budaya Indonesia bertemu dengan berbagai budaya mulai dari China, India, Timur Tengah sampai Eropa. Pertemuan budaya ini saling memperkaya. Kenyataan ini sungguh menarik perhatian Chauvel yang saat itu sedang mencari tema untuk program doktornya.

Semula Chauvel yang gemar makan rendang tertarik untuk mempelajari sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Namun ada yang menyarankannya untuk mempelajari kawasan Indonesia timur. Lantas ia memutuskan memilih Ambon. Di sini pun ia menemukan sejarah Ambon dan Maluku pada umumnya tidak kalah dalam mendapatkan pengaruh dari budaya luar seperti daerah-daerah lain. Indonesia makin menarik baginya karena tak jauh dari negeri asalnya, Australia.

Akibat pengaruh perdagangan, terutama perdagangan rempah pada masa lalu, daerah Ambon dan sekitarnya banyak menerima pengaruh dari luar. Juga karena sistem penjajahan yang berlaku saat itu. Bahkan Belanda telah mendirikan sekolah di sana sejak abad ke-19 sehingga banyak orang Ambon yang terdidik dan ditugaskan di mana-mana di Indonesia.

Pria yang suka makan papeda dan ikan colo-colo ini menuturkan, masyarakat Ambon yang dilihatnya 40 tahun silam sudah berbeda dengan saat ini. Keberagaman itu terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Perhatian Chauvel juga melebar sampai ke Papua.

Dari tangannya telah lahir, antara lain, buku Nationalists, Soldiers and Separatists: The Ambonese Islands foto Colonialism to Revolt (1990), lalu artikel-artikelnya tentang Papua, di antaranya “Papua as a multilateral issue for Indonesia and Australia” dalam buku Tim Lindsey da David McRae (Ed), Strangers Next Door? Australia-Indonesia Relations in the Asia Century.

Chauvel saat ini memang dikenal sebagai ahli dalam bidang sejarah Indonesia dan politik, hubungan Australia-Indonesia dan kebijakan luar negeri Australia. Penelitiannya banyak menekankan pada isu-isu persatuan nasional, hubungan pusat-daerah dan desentralisasi serta perubahan politik dan sosial di Indonesia timur, terutama Maluku dan Papua. Ia tidak hanya melakukan penelitian dan menulis buku di Indonesia, tetapi juga membimbing mahasiswa program S2 dan S3. Tahun 1987-1992 ia mengajar di Universitas Indonesia. Lalu menjadi konsultan untuk International Crisis Group di Papua dan laporannya diterbitkan dengan judul Ending Repression in Irian Jaya pada 2001. Lalu, dari 2007 sampai 2013 dan 2016 ia menjadi anggota Joint Selection Team for Australian Development Scholarships (sekarang Australia Awards) di Indonesia.

Sebagai seorang peneliti dan penulis buku, kebahagiaan Chauvel adalah kalau bukunya makin banyak dibaca dan dibahas. Syukur-syukur kalau bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. “Saya berharap buku yang saya tulis bisa memberikan inspirasi kepada siapa saja, khususnya melakukan penelitian lebih lanjut dari apa yang pernah saya lakukan dan tulis. Itu yang paling penting,” ujar pria yang suka musik Ambon ini.

Ketika hadir dalam sebuah seminar di Ambon, tahun 2016, ia terkejut karena banyak peserta seminar sudah membaca bukunya. “Saya yakin mungkin banyak orang tidak terlalu setuju dengan apa yang saya tulis. Itu tidak penting bagi saya. Yang penting, saya telah memberi inspirasi dan mendorong perdebatan mengenai sejarah masyarakat itu sendiri,” paparnya.

Chauvel terkejut ketika mendapat kabar dirinya mendapat Anugerah Kebudayaan Kategori Perorangan Asing dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2017. “Penghargaan ini luar biasa. Tapi saya tidak pernah mengharapkan mendapat penghargaan ini. Tapi ternyata Pemerintah Indonesia memberikan apresiasi terhadap apa yang saya lakukan selama ini dan mengakui kontribusi akademis dari luar negeri. Itu sangat mengesankan,” katanya.

Suami dari Janet Alice itu mengemukakan, ketika ia pertama kali terjun meneliti di Indonesia, sebagian besar sejarawan dan ahli politik bukan orang Indonesia. Sekarang kondisinya sudah berubah. Sudah banyak ahli tentang Indonesia justru orang Indonesia sendiri.

“Pakar politik dan sejarah justru banyak dari Indonesia. Itu menyenangkan. Prosesnya seharusnya seperti ini. Senang sekali untuk membimbing begitu banyak mahasiswa,” kata pria yang menyukai tenun tradisional dari provinsi Nusa Tenggara Timur ini.