Reak Dogdog

0
7248

Reak asal kata dari “reok”/”reog” yang berarti membuat kebisingan atau gaduh. Seni Reog sendiri diyakini sudah ada sejak jaman Majapahit, dan masuk ke Jawa Barat di jaman Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Cirebon. Kemudian menyebar ke Sumedang hingga sampai ke wilayah Ujungberung – Bandung. Seni Reak awalnya berfungsi sebagai penyerta ritual pada budaya nyawah (bercocok tanam padi).

Tahun 1952, Abah Nurfa’i, seorang pedagang dari Sumedang, dengan kawan-kawannya sudah menyertakan seni Reak pada acara “Ngaronggeng”, yakni ritual pesta panen padi, di sekitar Pusat Pemerintahan Distrik Ujungberung Tempo Doeloe (Komplek Neglasari Sekarang). Tahun 1962, Aki Rahma dan Abah Juarta dari Cinunuk mengubah fungsi seni tersebut menjadi seni pertunjukkan untuk mengarak anak khitan. Mereka menghilangkan waditra angklung sehingga suara dari waditra dogdog lebih dominan. Oleh karena itu seni tersebut kemudian dinamakan seni “Reak Dogdog”.

Reak dogdog merupakan sebuah seni helaran yang atraktif, berjalan beriringan dengan rute biasanya tidak terlalu jauh dari rumah yang punya hajat (khitanan). Garis awal iring-iringan adalah rumah yang punya hajat kemudian berjalan berkeliling kampung dan kembali ke rumah yangpunya hajat.

Ihwal rute iring-iringan, seni reak dogdog merupakan sebuah seni yang cukup memahami perkembangan selera penonton. Atraksi iring-iringan yang diistilahkan dengan dogju (dogdog maju) kemudian mengalami penambahan variasi iringan yang diistilahkan dengan atraksi dogcing (dogdog cicing). Dogcing adalah iring-iringan hanya melakukan atraksi ditempat saja tanpa berjalan beriringan mengelilingi kampung.

Pelaku seni terdiri dari sinden, pemain reak dan nayaga yang lengkap dengan waditranya yaitu, 1 unit tilingtit, 1 unit tong, 1 unit berung, 1 unit badumbamplak. Seiring perkembangan zaman, waditra reak dogdog ditambah dengan 1 unit bedug dan 1 unit tarompet. Biasanya, agar suara alunan musik dapat terdengar lebh keras, iringan helaran tersebut juga dilengkapi dengan seperangkat pengeras suara. Lagu yang dimainkan memberikan makna tersendiri mengenai arti kehidupan dan pentingnya rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Semakin lama lagu dimainkan dalam helaran, pemain reak terlihat seperti trans (kesurupan). Akhir dari seni reak dogdog ditandai dengan mulai sadarnya pemain reak dari trans.

Efek trans (kesurupan) yang menjadi bagian dalam seni reak dogdog memberikan arti bahwa ada interaksi dan komunikasi para pelaku seni, malim, masyarakat, serta mahluk gaib yang melakukan intrans. Tercapainya interaksi dan komunikasi tersebut kemudian menyiratkan pentingnya rasa bersyukur dan mencari ridha dari Allah (Ramdhani, tt: 6)

*

Reak adalah sebuah kesenian khas masyarakat Cianjur yang memperpadukan kesenian reog, angklung, kendang pencak, dan topeng. Konon, kesenian ini lahir sekitar abad ke-12. Ketika itu Prabu Kiansantang (putra Prabu Siliwangi) menginginkan agar penduduk pulau Jawa, khususnya Jawa Barat menganut agama Islam. Dalam agama Islam ada kewajiban bahwa seorang anak laki-laki mesti dikhitan. Mengingat bahwa khitanan berarti memotong bagian ujung penis, maka dalam pelaksanaanya seringkali membuat anak menjadi ketakutan. Untuk itu, para sesepuh Sumedang menciptakan suatu kesenian dengan tujuan agar yang disunat terhibur, sehingga mengurangi rasa takut. Dan, kesenian itu disebut sebagai ?reak? karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian, sehingga mewujudkan kehiruk-pikukan dan kesorak-soraian baik dari pemain maupun penonton. Sekitar tahun 50-an kesenian ini dibawa oleh para pedagang Sumedang ke daerah Cianjur. Oleh karena itu, para seniman reak di daerah Cianjur saat ini sebagian besar adalah keturunan orang-orang Sumedang. Ciri khas kesenian yang disebut sebagai reak ini adalah ?susurakan? atau ?eak-eakan? (sorak-sorai). Oleh karena itu, jumlah pemainnya minimal 20 orang. Lebih banyak lebih baik (misalnya 30 orang). Mereka terdiri atas: 4 orang pemegang alat reog, 4 orang penggendang pencak, 10 orang pengangklung, 2 orang penari topeng, 6 orang penari, dan 4 orang pengecrek. Adapun busana yang dikenakan adalah pakain sehari-hari (apa adanya). Dengan perkataan lain, tidak seragam. Peralatan yang digunakan dalam kesenian tradisional reak ini adalah: dogdog yang terbuat dari kayu dan kulit, angklung yang terbuat dari bambu, kendang yang terbuat dari kayu dan kulit, goong yang terbuat dari perunggu, terompet yang terbuat dari kayu dan tempurung, topeng yang terbuat dari karton (kertas) dan kulit, dan kecrek yang terbuat dari besi. Sedangkan pementasannya diawali dengan penabuhan dogdog. Bersamaan dengan tetabuhan ini para pemain berjalan mengelilingi arena, termasuk para penggendang, pengangklung, dan pengegoong. Ini adalah suatu pengenalan agar para penonton mengetahui orang-orang yang akan memainkan kesenian ini. Setelah semuanya sudah diperkenalkan, maka pemimpinnya memberi sambutan yang isinya permohonan maaf jika dalam pementasan ada kekhilafan. Selain itu, juga ucapan terma kasih baik kepada yang punya khajat maupun penonton. Setelah itu, barulah semua peralatan dibunyikan sesuai dengan lagu-lagu yang diminta oleh si empunya khajat. Dan, bersamaan dengan itu para pemain masing-masing menunjukkan kehebatannya. Dalam hal ini mereka tidak hanya menunjukkan kelincahan dalam menggerakkan tubuh dan memainkan peralatan, tetapi juga menunjukkan gerakan-gerakan sedemikian rupa, sehingga menarik penonton. Pendek kata, semuanya berusaha agar para penonton bersorak-sorai dan tertawa terpingkal-pingkal. Demikian, seterusnya sampai lagu-lagu yang diminta oleh yang punya khajat terpenuhi. Dan, dengan terpenuhinya lagu-lagu itu, maka Sang pemimpin kembali memberi sambutan penutup yang isinya kurang lebih sama dengan sambutan pembukaan. Dan, dengan selesainya sambutan, maka pementasan reak pun berakhir.

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900934

Nama Karya Budaya :Reak Dogdog

Provinsi :Jawa Barat

Domain :Seni Pertunjukan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda