Pulau Bali Menjadi Pusat Perayaan Hari Warisan Dunia 2019

0
989

Sesuai dengan tema yang diusulkan ICOMOS, yaitu Lanskap Perdesaan, maka Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya akan memusatkan Perayaan Hari Warisan Dunia Tahun 2019 di Bali. Hal ini disebabkan karena salah satu warisan dunia Indonesia adalah “Lanskap Budaya Provinsi Bali: Sistem Subak sebagai Perwujudan Filosofi Tri Hita Karana” atau yang biasa disebut dengan Sistem Subak saja. Namun demikian, warisan budaya dunia di Indonesia yang lain, termasuk situs-situs yang masih berada dalam Daftar Sementara (Tentative List), juga akan disinggung karena sebagian besar situs/kawasan cagar budaya tersebut berada di tengah-tengah masyarakat perdesaan.

Sistem Subak Bali dan Filosofi Tri Hita Karana

Pura Subak

Terkait hal di atas, maka Sistem Subak menjadi sangat unik karena tidak hanya merupakan bagian dari sistem pertanian tradisional Bali tapi juga statusnya yang telah menjadi warisan dunia. Bentang lahan subak yang telah bertahan sejak berabad silam adalah wujud warisan budaya yang senantiasa hidup di Pulau Bali.

Tri Hita Karana sebagai falsafah hidup yang dianut oleh masyarakat Bali adalah wujud tradisi budaya yang telah mendapat perhatian dunia, khususnya menjaga keseimbangan hidup antara manusia, lingkungan alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa. Refleksi Subak melalui pengaturan pembagian air yang teratur dan seimbang – menjaga ekosistem melalui organisasi subak dan persembahan rasa syukur pada Sang Pencipta- dilaksanakan pada pura yang ditempatkan pada area-area tertentu dalam kawasan. Hampir semua kabupaten di Provinsi Bali masih memiliki subak.

Guna memberikan gambaran utuh kehidupan subak di Bali dan berdasarkan kesepakatan bersama serta telah disetujui oleh Komite Warisan Dunia UNESCO, telah dipilih empat klaster situs/kawasan yang mewakili lanskap subak yaitu (1) Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur di Kabupaten Bangli; (2) Lanskap Subak dan Pura Subak di sepanjang DAS Pakerisan di Kabupaten Gianyar; (3) Kawasan Caturangga Batukaru di Kabupaten Tabanan dan Buleleng; dan (4) Pura Taman Ayun di Kabupaten Badung.

Isu yang Muncul di Warisan Dunia Sistem Subak Bali

Masalah yang akan diungkap adalah kerapuhan warisan dunia sebagai cagar budaya dan lahan pertanian di masa sekarang. Keduanya memiliki tantangan masing-masing yang membuat posisi mereka semakin rentan. Alih fungsi lahan, perubahan lingkungan, dan desakan pembangunan merupakan beberapa masalah yang selalu dihadapi oleh warisan dunia dan lahan pertanian. Menjamin tersedianya aliran air yang mengalir di saluran-saluran irigasi merupakan hal penting demi ketahanan pangan. Hal ini berarti semua pihak juga harus berupaya untuk mempertahankan kelestarian ekosistem di daerah-daerah resapan air dan tersedianya danau/embung untuk menampung air tersebut.

Di Indonesia, segala sesuatu mengenai Warisan Dunia kategori Budaya dikelola oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Warisan Dunia di Indonesia selain sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan, juga difungsikan sebagai sarana diplomasi.