Papeda, Papua Barat

0
1516

Notice: Trying to get property 'roles' of non-object in /home/website/web/kebudayaan.kemdikbud.go.id/public_html/wp-content/plugins/wp-user-frontend/wpuf-functions.php on line 4663

Papua Barat mempunyai makanan tradisional yaitu sagu, betatas, keladi, dan umbi-umbian. Makanan tradisional orang Papua adalah sagu. Sagu dalam bahasa orang Waropen/Napan/Sentani adalah Fi sedangkan untuk orang Yaur adalah Moore dan orang Moi menyebutnya Hi. Masyarakat/orang Papua Barat menganggap sagu ini merupakan sesuatu yang mempunyai nilai-nilai yang amat tinggi dalam pemenuhan kebutuhan atau acara-acara ritual. Bagi orang Papua pohon tertua dari satu rumpun sagu diinterpretasikan sebagai seorang manusia dewasa semakin berisi dan berpendirian teguh seperti tegaknya pohon sagu; bertindak yang benar dan adil seperti lurusnya pohon sagu. Proses pembuatan papeda sebenarnya sederhana. Tepung sagu diaduk-aduk sambil dituang air mendidih secara bertahap hingga terbentuk adonan yang menyerupai gulali dan siap dimakan. Papeda pada umumnya disajikan dengan kuah ikan kuning, yaitu ikan yang dimasak dengan campuran bumbu-bumbu yang menghasilkan kuah berwarna kuning. Papeda sendiri pada dasarnya tidak berasa. Kuah ikan kuning inilah yang memberi rasa enak dan gurih pada santapan papeda. Cara mengambil papeda terbilang unik, bukan menggunakan sendok tapi sepasang sumpit. Sumpit dipegang dengan kedua tangan, diputar dengan cepat sehingga menghasilkan gulungan gulali papeda hingga putus. Saat sudah terpisah dari wadah utama, papeda dituangkan ke piring dan diberi kuah ikan kuning. Di Kabupaten Sentani Papeda juga dibungkus dengan daun sehingga bisa bertahan untuk beberapa hari, dan dalam bahasa Sentani disebut Finukhu. Papeda bungkus atau finukhu, makanan ini biasanya disajikan sebagai makanan/bekal pada waktu kegiatan gotong royong yang terjadi di hutan atau di luar kampung dan juga bekal pada waktu pembayaran maskawin. Pada waktu pembayaran maskawin yang mempunyai kewajiban menyiapkan Finukhu adalah pihak perempuan sebagai pihak yang menerima pembayaran maskawin. Finukhu dalam pembayaran maskawin biasanya diisi di dalam keranjang dan dijadikan semacam paket (karkir) yang isinya papeda bungkus beserta ikan gabus.