Larung Sesaji Pantai Tambakrejo, Ritual ini merupakan ungkapan syukur

0
17441

Masyarakat Blitar di kawasan pantai selatan memiliki tradisi upacara adat Larung Sesaji atau Larungan. Ritual ini merupakan ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun, serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa rintangan di kemudian hari. Simbol rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk gunungan yang berisikan hasil bumi dan kepala hewan ternak, yang selanjutnya diarak dan dilarung ke tengah laut.

Salah satu Larung Sesaji ini adalah di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto. Konon tradisi ini berawal dari larung sesaji yang dilakukan oleh Atmaja atau Atmo Wijoyo salah satu prajurit dari Mataram, anak buah Pangeran Diponegoro. Atmaja melarikan diri ke Pantai Tambakrejo dan melakukan tasyakuran atau yang kemudian dikenal Larung Sesaji.

Versi lain mengaitkan dengan sosok Mbok Ratu Mas yang berdiam di laut selatan yang dalam kehidupan sehari-hari bersinggungan dengan warga Desa Tambakrejo. Oleh karena itu, warga Desa Tambakrejo merasa harus menaruh hormat kepada sosok yang memimpin keraton di alam gaib bawah laut. Kemungkinan Mbok Ratu Mas adalah Kanjeng Ratu Kidul.

Meski demikian dalam Larung Sesaji ini juga terdapat penghormatan kepada Tuhan, alam dan sesama mahluk, sebagai  tindakan mulia bahwa manusia dalam kehidupan ini tidak sendirian, namun ada ketergantungan pada alam, mahluk lain dan Tuhan. Oleh karena itu penghormatan tersebut dimanifestasikan dalam larung sesaji setiap menjelang pergantian tahun Muharam atau tanggal 1 Suro.  Penyelenggaraannya dilakukan bergantian setahun sekali antara pantai Tambakrejo dan pantai Serang, desa Serang kecamatan Panggungrejo.

Semula  upacara ini berlangsung sederhana semenjak tahun 1838.  Sekalipun upacara ini ditujukan kepada yang gaib, secara struktur bisa disebut lentur.  Gagasan perubahan justru sering muncul dari pihak luar yang memiliki kepedulian terhadap pergelaran upacara larung sesaji. Misalnya, gagasan mengadakan perubahan secara kolektif upacara larung sesaji datang dari Kepala Desa pertama Desa Tambakrejo pada 1969, Soebadi.   Juga gagasan menambah dan membuat ukuran tumpeng menjadi besar oleh Rijanto, Bupati Blitar pada saat itu, dan menggemparkan acara ini agar dikenal oleh khalayak di luar daerah.

Namun yang tidak berubah antara lain persembahan sesajian berupa tumpeng emas, takir plonthang dan cok bakal. Tumpeng emas merupakan representasi paling penting atas doa keselamatan dan upaya untuk ngaweruhi keberadaan Mbok Ratu Mas dan memetri keselamatan dan kesejahteraan kepada Tuhan. Sedangkan kepala kambing kendit sudah diubah menjadi kepala sapi.

Malam hari sebelum Larung  Sesaji digelar pertunjukan Pergelaran wayang kulit. Esok paginya, upacara larung sesaji Pantai Tambakrejo dibuka oleh Bupati atau tokoh lain yang mewakilinya ditandai dengan pemukulan gong dan penyerahan selendang kepada juru kunci Pantai Tambakrejo, Ladi (Mbah Sangkrah).

Biasanya terlebih dahulu dibacakan sejarah Desa Tambakrejo dan tujuan dari prosesi larung sesaji. Dikisahkan, kawasan pantai tersebut dahulu kala merupakan hutan belantara yang lebat. Cikal bakal (perintis/pendahulu) permukiman di tempat itu diawali datangnya seorang pelarian perang zaman penjajahan Belanda. Pelarian itu adalah prajurit laskar Pangeran Diponegoro bernama Ki Atmo Wijoyo. Sejak Pangeran Diponegoro diperdaya Jendral De Kock dalam perundingan penuh rekayasa, anak buahnya langsung bercerai-berai. Beberapa diantaranya melanjutkan perang gerilya, namun banyak pula yang kembali hidup di tengah masyarakat. Ki Atmo Wijoyo berusaha bertahan hidup di tempat yang jauh dari pertempuran, di hutan tepi pantai.

Di hutan itu, Ki Atmo Wijoyo melepas baju keprajuritannya dan bersatu dengan alam. Untuk mempertahankan hidupnya, ia memanfaatkan segala sesuatu yang berada di sekelilingnya. Berada di persembunyian asing ini, ia tidak hanya berhadapan dengan tantangan alam berupa lapar, dahaga, dan gangguan binatang buas, tetapi juga gangguan makhluk halus. Tetapi Ki Atmo Wijoyo mampu mengatasinya.

Kunci keberhasilan Ki Atmo Wijoyo mengalahkan tantangan-tantangan itu dengan kekuatan lahir dan batin. Sebagai seorang prajurit Diponegoro, ia memiliki kemampuan kanuragan yang prima. Sedangkan secara psikis, ia memiliki ilmu batin dan tenaga dalam yang linuwih, hebat. Ia mampu menjalin komunikasi dengan lingkungan barunya. Tidak hanya itu, ia juga berhasil membina hubungan dengan masyarakat di luar hutan. Hingga akhirnya, banyak yang tertarik ke pantai yang dibuka Ki Atmo Wijoyo.

Masyarakat Pantai Tambakrejo sekarang ini tidak melupakan jasa Ki Atmo Wijoyo. Untuk menunjukkan rasa syukur, dipilih suatu cara berupa persembahan yang dikirim ke laut. Pengorbanan ini sebagai bagian dari keinginan untuk mencapai harapan yang lebih besar, berupa kemakmuran. Tuhan diminta selalu menurunkan nikmat dan karunia-Nya melalui hasil bumi dan laut yang menghidupi mereka.

Dimulai dari iring-iringan bergerak menuju pantai Tambakrejo. Berada di posisi paling depan adalah sosok pewayangan Hanuman membawa gada, disusul kepala kerbau (sapi) di atas tandu, berbagai sesajen digotong oleh empat orang seperti tandu beralaskan tatakan berkaki empat. Kemudian sebuah lagi dengan isi sesajian yang berbeda. Tatakan yang terlihat seperti meja ini berfungsi untuk alas ketika tandu diturunkan sehingga sesajian tidak langsung berada di tanah.

Barulah sebuah tumpeng besar tambak berwarna putih menjulang tinggi yang diletakkan di sebuah wadah besar berisi berbagai sesajen ditandu oleh 4 orang. Juga terdapat sebuah gunungan berisi beraneka macam buah-buahan yang disusun tidak kalah tingginya. Menyusul sejumlah orang mengenakan busana adat Jawa dan juga orang-orang berpakaian hitam-hitam mengenakan udeng lantas di barisan paling belakang adalah rombongan kesenian Jaranan yang terus menari dan membunyikan musik sepanjang perjalanan. Disusul oleh banyak anggota masyarakat umum yang berjalan kaki maupun mengendarai motor. Nampaknya urutan dan iring-iringan ini tidak sama setiap tahun pelaksanaan.

Tiba di pantai, tumpeng dan semua sesajian diletakkan di sebuah panggung rendah di bawah tenda.  Seorang sesepuh masyarakat memberikan sambutan dan doa-doa dalam Bahasa Jawa. Selanjutnya gunungan beserta aneka lauk pauk dan hasil bumi yang telah didoakan itu diarak menuju bibir pantai. Gunungan segera dinaikkan ke atas perahu untuk diberangkatkan menuju lautan. Terlebih dahulu perahu membawa gunungan berputar sebanyak 3 x mengelilingi teluk. Baru setelah itu gunungan dibawa ke laut atau dilarung melalui dermaga pelelangan ikan sejauh sekitar 4 kilometer ke tengah laut lantas ditenggelamkan.

Ada beberapa Fungsi yang terkandung dalam Upacara Adat Larung Sesaji, yaitu :

a. Fungsi Sosial,: nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan dalam masyarakat, yang merupakan simbol kerukunan antar umat beragama;

b. Fungsi Upacara yaitu : seni dalam pelaksanaan upacara mengandung arti bahwa kesenian khususnya seni tari mempunyai peranan penting yaitu untuk menambah suasana magis dan sakral;

c. Fungsi Hiburan yaitu : seni pertunjukan yang memberikan kepuasan sebagai pelengkap dalam suatu pesta, perayaan hari besar;

d. Fungsi Pertunjukan upacara adat ini adalah kesenian tradisional yang tidak bisa dilepaskan dengan mitos dan ritual

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201900982

Nama Karya Budaya :Larung Sesaji Pantai Tembakrejo

Provinsi :Jawe Timur

Domain :Adat istiadat masyarakat ritus, perayaan dan perayaan

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda