Johar Saad: “Dulmuluk Sudah Mendarah Daging”

0
1806

Siang hari menjelang senja, ketika matahari sedang terik- teriknya,Johar Saad bin Saad masih terlihat gigih melatih generasi muda yang tergabung dalam sanggar buatannya: Sanggar Seni Harapan Jaya yang beralamat di Perum Patra Sriwijaya, Kecamatan Gandus, Palembang. Sebelum mendirikan sanggar tersebut, mulanya iamendirikan dan mengajar Dul Cik (Dulmuluk Kecil). Pada 1972-1973, ia mengajar Dulmuluk remaja. Intinya, sanggar ini merupakan cara untuk melestarikan seni teater tradisional khas Sumatera Selatan, Dulmuluk.

Oleh masyarakat danpraktisi seni ataupum pecinta seni tradisi Dulmuluk di Sumatera Selatan, Johar Saad lebih dikenal dengan nama Jonhar. Lelaki kelahiran 15 Agustus1952 ini mengaku, nama Jonhar diperoleh ketika tampil membawakan pertunjukan Dulmuluk di TVRI Palembang. Katanya, waktu itu penulisan namanya keliru. “Setelah dipikir-pikir, nama itu bagus juga. Akhirnya saya tidak jadi meralat

penulisan nama yang kelirutersebut. Sejak saat itu, hingga sekarang, nama Jonhar telah menjadi nama panggung saya,” terangnya.

Mengenai masuknya cerita ini ke Sumatera Selatan, berdasarkan cerita dari kakeknya, pada 1902 Wak Nang Nong mengambil pemikiran dari pertunjukan yang ditontonnya. Kemudian diajarkanlahke Iyek Kamaludin (kakekJohar) dan Iyek Mesir. Masih menurut cerita kakeknya, saat itu yang belajar teatertradisional ini datang dari seluruh kabupaten yang di Sumatera Selatan, sepertidariBangka Belitung, Sekayu,dan Pagar Alam. Namun, yang terkenal hanyaIyek Mesir dan Iyek Kamaludin, karena mereka terus memainkannya, sedangkan yang di kabupaten lainnya tidak berlanjut.

Johar sendiri mula berkecimpung di seni teater tradisi Dulmuluk sewaktu berusia empat tahun. Pada 1958-1959, dirinya diperkenalkan dan kerap diajak menonton pertunjukan Dulmuluk oleh kakeknya. Kali pertama tampil adalah ketika duduk dikelas Isekolah rakyat (SR). Masa itu,iaberperan sebagai anak-anak. Perihal alasan bermain teater tradisi Dulmuluk, Johar menuturkan bahwa itu semata-mata atas dasar suka, dan cinta.

Yang tak kalah pentingtentu karena adanya rasa tanggungjawab untuk melestarikan Dulmuluk. Pasalnya, kakeknya belajar dan main teater ini. Jika kakeknya sudah tiada lagi, siapa yang melestarikannya. Lantas, jiwanya pun terpanggil untuk belajar,bermain, dan melestarikan Dulmuluk. “Sebab, Dulmuluk sudah mendarah daging serta jadi tanggungjawab kami,” paparnya.

Soal honor yang kecil, Johar tidak terlalu mempersoalkan karena cintanya yang sudah mendarah itu terhadap seni tradisi Dulmuluk. Ditambah lagi, pada masa itu ia belum menikah alias belum memiliki tanggungan. Duka lainnya, pernah dalam satu bulan tidak pulang, uangnya habis di jalan, atau terkadang mesti jalan kaki hingga 30 kilometer ke pelosok hanya untuk memenuhi undangan bermain Dulmuluk.

Johar juga menuturkan tidak sedikit tokoh maupun pemain atau praktisi teater Dulmuluk meninggalkan Dulmuluk dengan berbagai alasan. Maka, kecintaan dan semangat bermain teater ini ditularkannya kepada anak kandung dan generasi muda. Hal tersebut dilakukan agar generasi muda mengenal akar traditi daerahnya melalui kesenian tradisi. “Mudah-mudahan, melalui seni tradisi inimereka juga bisa mendapatkan rezekinya,” harapJohar.

Menurut Johar, secara umum struktur dan konsep pertunjukan Dulmuluk memiliki banyak kemiripan dengan teater tradisonal lainnya. Sebutlah seperti pertunjukan teater Bangsawan. Hanya saja, kata Johar, Dulmuluk mengangkat kisah dari syair karangan Raja Ali Haji yang berjudul “Sultan Abdul Muluk”.

(Namun, dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa teks-teks syair Abdul Muluk sesungguhnya karangan penulis perempuan bernama Saleha, bukan karya Raja Ali Haji. Saleha adalah saudara perempuan Raja Ali Iba Raja Achmad Iba, Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fi Sabilillah. Ketika pertama kali teks syair Abdul Muluk diterbitkan pada 1847 diberijudul Kejayaan Kerajaan Melayu— ed).

Mengenai pakem Dulmuluk, kata Johar, untuk kostum umumnya sama. Misalkan songket trompa Palembang yang dipakai panglima atau datu. Akan tetapi nilai dasarnya beragam. Begitu juga pada musik, yang pakemnya memiliki ympat tabuhan.

Alatnya menggunakan biola, gendang, beduk, bendi/gong. Tetapi sekarangalat musiknya sudahditambah piano, melodi, akordeon, gendang, drum, bas dengan nada diatonis untuk memenuhi permintaan pasar.

Dalam menekuni Dulmuluk, Johar bertekad untuk tidak berubah, dalam arti terus bermain Dulmuluk meski tidak dapat rezeki dari sana. Pepatah lama mengingatkan, Tak lekang karena kepanasan, tak lapuk karena kehujanan. Dirinya tetap eksis bermain Dulmuluk. Sebab itu, ia harus bisa meyakinkan anak dan istri. Tak jarang memberikan uang panjar pada istri untuk biaya hidup keluarga. Sejak awal hingga sekarang, ia hidup dan menghidupi keluarga serta membiayai pendidikan anak-anaknya dari bermain Dulmuluk.

Johar adalah generasi ke-3 dari keluarga pemain Dulmuluk. Sebuah bentuk pewarisan tradisi secara alamiah: dari kakek ke bapak, dari bapak keanak! Saat ini Johar pun sudah mempersiapkan generasi penerusnya, generasi ke-4, lewat sang anak: Randi Putra Ramadhan. Kepada Randi, Joharterus menanamkan kecintaan terhadap teater tradisi ini agar tidak punah ditelan zaman. Generasi ke-4 ini beranggotakan ratusan orang, akan tetapi yang aktif sekitar 40-50 orang.

Mengenai Anugerah Kebudayaan 2017 yang diberikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk kategori pelestari seni tradisi, Johar menyampaikan terimakasih karena pemerintah telah memperhatikan seni tradisi dan seniman seperti dirinya lewat pemberian anugerah semacam ini. “Mudah-mudahan perhatiansemacam ini terus berlangsung agar budaya tradisi kita tetap eksis dan lestari,” katanya.