Irwansyah Harahap: Musik sebagai Dunia Ekspresi dan Pengetahuan

0
2484

Berkat ketekunan Irwansyah Harahap, musik tradisi Batak hadir berpilin dengan orkestra kelas dunia asal Spanyol. Musik tradisi Batak dan Melayu juga menjadi akar dan warna komposisi pada karya-karyanya yang bergenre world music. Karya musik dosen Universitas Sumatra Utara ini pun telah mendapat tempat di panggung-panggung internasional dari Asia hingga Amerika Serikat.

Lima puluh komposisi dan tiga buku tentang pengetahuan musik telah ia lahirkan. Musik telah  menjadi  kehidupannya.  “Musik  adalah cara ungkap saya kepada Pencipta, kepada sesama, dan kepada alam di mana saya hidup,” tutur Ketua Jendela Toba ini. Irwansyah Harahap lahir dari keluarga besar penyuka musik. Anak bungsu dari pasangan Oemar Harahap dan Djarundjung Tagon Siregar ini bermain musik sejak umur lima tahun. Irwan kecil yang tumbuh di perkebunan, menikmati malam sunyi bersama 11 saudaranya dengan bermain musik hingga mereka dapat membentuk band. Satu peristiwa yang membuatnya berhidmat dengan dunia musik, yakni saat ia kelas V SD. Pada upacara bendera hari Senin, kepala sekolah mengumumkan bahwa sekolah mereka mendapatkan sumbangan alat musik angklung. Sang kepala sekolah pun menyatakan bila ada siswa yang dapat memainkan angklung diminta maju ke depan dan memainkannya.

Irwansyah yang belum pernah belajar angklung memberanikan diri memainkannya. Dengan modal melihat angka nada pada angklung, saat itu ia pun memainkan lagu Ibu Kita Kartini. Lapangan upacara menjadi senyap dan tepuk tangan meriah terdengar di akhir permainan. “Sejak itu musik menjadi obsesi saya,” tutur Irwansyah.

Menginjak SMP dan SMA, Irwansyah banyak menghabiskan waktu di kamar untuk bermain musik. Pendalamannya pada musik tradisi Batak ia mulai sejak kuliah di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sumatera Utara (USU). Di masa itu, ia berguru kepada Marsius Sitohang, seorang maestro musik Batak, untuk mempelajari musik perkusi taganing. Ia lulus dari Jurusan Etnomusikologi USU dengan skripsi mengenai musik Batak yang berfokus pada taganing. Di masa itu juga Irwansyah aktif di Lembaga Kesenian USU yang mempelajari musik tradisi Batak lainnya. Ia juga menekuni ensembel gordang sambilan khas Mandailing kepada Dagar Lubis. Kemudian ia melanjutkan studi musik program master etnomusikologi di Universitas Washington, Seattle, Amerika Serikat. Di negara Paman Sam itu ia mendalami aneka musik tradisi dunia atau world music, antara lain, belajar Qawwali, nyanyian sufi Pakistan, dari Nusrat Fateh Ali Khan.

Sekembalinya ke Indonesia, Irwansyah bersama istrinya, Rithaony Hutajulu, yang menekuni seni vokal, membentuk kelompok musik Suarasama (1995). Kelompok musik ini mengkreasi musik-musik tradisi dunia. Melalui Suarasama, komposisi world music dengan warna tradisi Batak karya Irwansyah dikenal dunia.

Debut karya mereka pertama kali dipublikasikan oleh Radio France Internationale in, 1998, yang diputar selama satu bulan di 600 kota-kota di dunia. Suarasama diundang ke berbagai negara, antara lain, oleh Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) 1997 di Univerity of California Los Angeles (UCLA) di Los Angeles, AS; Minpaku Museum of Ethnology, Osaka, Jepang; Sufi Soul World Music dan Festival di Lahore, Pakistan. Pasangan pencinta musik ini juga beberapa kali mendapatkan undangan artist residence. Residensi itu mempertemukan mereka dengan musisi dari berbagai negara yang memungkinkan untuk saling belajar. Selain mendalami musik Batak, Irwansyah kemudian mendalami juga musik dari tradisi dunia lainnya, seperti tabla dari India dan tradisi Afrika. Ia menyukai musik India karena unsur metamatika dan kerumitannya.

Irwansyah dan Rithaony juga membentuk kelompok musik Mataniari, yang secara khusus menyajikan musik tradisi Batak. Kelompok yang melibatkan maestro pemusik tradisi Batak ini juga berhasil menarik perhatian dunia. Pertunjukan teranyarnya adalah kolaborasi mereka dengan kelompok musik orkestra Vinculos dari Madrid, Spanyol. Kolaborasi ini menampilkan komposisi musik gondang dan nyanyian Opera Batak yang dielaborasi dalam format opera. Pertunjukan yang didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI ini mereka gelar di kota Balige, Laguboti (Kabupaten Tobasa), di Desa Bakkara (Kabupaten Humbahas), serta di Desa Sianjur Mula-mula, Lumban Suhi-Suhi, Sigulati (Kabupaten Samosir), dan di Jakarta. Vinculos sendiri sebuah inisiatif dari Siero Chamber Orchestra (OCAS) Spanyol yang mengampanyekan integrasi sosial dan budaya melalui musik.

Kelompok orkestra ini telah tampil di 12 negara dengan melakukan lebih dari 300 konser musik dan menyelenggarakan lebih kurang 100 kali kegiatan workshop dan master-class. Semangat Unidad en la diversidad, Bhinneka Tunggal Ika, menjadi tema pertunjukan mereka. Membuat komposisi musik adalah kecintaan yang Irwansyah tekuni sejak masa mahasiswa di USU. Tiga tema yang menarik perhatiannya dalam berkarya, yaitu spiritual, alam, dan manusia. Mengenai ketertarikannya pada tema tema spiritual, ia menuturkan, “Saya hanya punya hipotesis sederhana. Manusia itu paling jujur ketika ia membuat komposi musik untuk Tuhannya. Kalau ia mencipta untuk manusia lain biasanya ada maksudnya. Karena itu, saya ingin menangkap energi kejujuran itu.” Musik spiritual yang jujur itu juga ia rasakan pada permainan musik gondang dalam tradisi Batak.

Komposisi spiritualnya antara lain Beauty of Silence. Sebuah komplilasi instumental bersuasana hening yang menginterprestasi tentang kesunyian. “Dalam kesunyian ada sesuatu. Suasana yang intim dengan alam dan Pencipta. Ada yang kita rasakan, sesuatu yang tak terjelaskan,” demikian Irwan menjelaskan karyanya. Adapun komposisinya mengenai alam antara lain Lebah, terinspirasi oleh Kitab Suci umat Islam yang memberikan keistimewaan satu surat khusus tentang lebah (Quran, Surat An Nahl). Tema kemanusiaan mengguggahnya karena ketimpangan dan peperangan yang ia amati dalam realitas saat ini. Dalam menggubah musik, Irwansyah tidak hanya mengkreasi instrumental, sebagian juga berjalin dengan verbal atau nyanyian.

Selain mencipta musik, ayah satu anak ini juga melakukan penelitian dan memublikasikannya dalam bentuk buku. Baginya musik tidak semata dunia ekspresi, tapi juga dunia pengetahuan. Ia prihatin dengan dengan pendokumentasian pengetahuan musik yang masih minim di Indonesia, padahal dalam aspek ekpresi, menurutnya, tak ada negara yang lebih kaya dengan kesenian dibandingkan Indonesia. Tetapi kekayaan ekpresi seni tersebut belum diimbangi dengan pendokumentasian pengetahuannya. Menurutnya, mendokumentasikan pengetahuan musik diperlukan untuk kelestarian dan perkembangan musik di Indonesia. Hata Ni Debata Etnografi Kebudayaan Spiritual Musikal Parmalim Batak Toba adalah salah satu bukunya yang membuat pembaca tidak hanya mengerti tradisi gondang dari keilmuan musik, tetapi juga memahami sejarah dan dinamika perkembangan musik gondang pada kebudayaan dan spiritual masyarakat Parmalin.

Di tengah aktivitasnya membuat komposisi, memenuhi undangan pertunjukan di berbagai negara dan mengajar, Iransyah juga menikmati kerja-kerja kemanusiaannya. Saat ini ia tergabung dengan forum kemanusiaan antarumat beragama dan komunitas Jendela Toba yang peduli pada kelestraian alam dan kebudayaan masyarakat di sekitar Danau Toba.

Tahun 2017 ia mendapat Anugerah Kebudayaan untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Atas penghargaan itu ia menyampaikan, “Saya bahagia. Penghargaan ini sangat berarti karena diberikan oleh negara kepada anak bangsanya. Ini penghargaan terbesar yang diberikan kepada saya. Saya menghormatinya dan bahagia.” Ia juga berpesan kepada bangsa Indonesia agar musik Indonesia bisa berdiri tegak di antara bangsa-bangsa lain. “Tetapi musik Indonesia harus digauli tidak semata artistik, juga konteks pengetahuan agar terjadi komunikasi, interaksi, diseminasi. Orang Batak harus tahu musik orang Papua supaya makin mengayakan bukan menghilangkan, sementara akarnya masih akan tumbuh”.

Musik itu sendiri telah menyatu dengan kehidupan dan tujuan hidup Irwansyah. “Makna musik bagi hidup saya, hidup saya itulah musik. Musik itu hidup dalam hidup saya. Musik itu ibadah, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga memberi sesuatu pada yang lain. Itulah kehidupan saya. Musik adalah cara ungkap saya pada Pencipta, sesama ,dan kepada alam di mana saya hidup. Musik itu sendiri kehidupan,” demikian ia menutup perbincangan.