Ifa Isfansyah: Film sebagai Medium Berekspresi

0
1367

“Di satu siang menjelang senja—di sebuah studio yang terletak kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan—Ifa Isfansyah tampak sedemikan sibuk menjalankan rutinitas penciptaan filmnya. Ditengah kesibukannya, Ifa (panggilan akrabnya) menyempatkan diri bercerita tentang ketertarikannya pada film, menekuni dan memilih film sebagai jalan hidupnya.”

 

Semasa remaja, Ifa serupa pemuda pada umumnya yang mencoba berbagai hal. Ketika SMA dan saat kuliah, ia sempat mencoba bidang musik, olahraga, dan lain sebagainya. Ia tumbuh digenerasi anak muda yang telah mengenal dunia digital. Film yang tadinya merupakan sesuatu yang sangat eksklusif menjadi sangat memasyarakat. Komputer yang tadinya hanya bisa untuk mengetik, kini bisa digunakan untuk memotong dan menyambung gambar.

Hanya ketika mengenal medium film, ia merasa belum pernah menemukan satu mediumpun yang bisa mengembalikan energi sebesar film kepadanya. Artinya, ketika membuat film dan filmnya ditonton, ia merasa secara energi lebih berarti sebagai seorang manusia. Mulai saat itu, ia memutuskan film merupakan medium untuknya berekspresi, dalam menyampaikan apa yang ingin diceritakan. Untuk memperlengkap pengetahuannya, Ifa lalu memutuskan untuk kuliah di Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Di sana ia pun bertemu dengan teman yang sama-sama memiliki ketertarikan terhadap media rekam.

Akan tetapi, ketika memilih dunia perfilman sebagai jalan hidup, ia tidak terlalu didukung—dalam konteks ini ia juga tidak dilarang dalam artian tidak boleh—oleh keluarga. Apalagi ia tumbuh dan besar di Yogyakarta, yang pada saat itu tidak ada budaya sinema. Semua aktivitas perfilman masih terpusat di Jakarta. Begitu juga ketika timbul keinginan membuat film, semua orang tidak percaya lewat serangkaian gugatan: bagaimana caranya, bagaimana aksesnya, dan lain sebagainya.

Orang tua Ifa tentu saja menginginkannya ke jalur yang lebih akademis, semisal jadi insinyur dan dokter gigi, seperti kakak-kakaknya: sekolah, kuliah dan menjadi sesuatu. Hingga suatu ketika ia membuat film pendek, lalu diapresiasi di luar negeri, diikutsertakan dalam beberapa festival internasional, dan mendapat penghargaan. Namun, bagi orang tua Ifa, hal tersebut tetap belum merupakan jaminan. Baru setelah Ifa memenangi Piala Citra 2006 dengan mendapat penghargaan untuk film pendek terbaik, orangtuanya mulai menyadari bahwa sang anak benar-benar serius menggeluti dunia sinematografi. Juga, tentu saja, ada prestasi yang bisa dibanggakan dari sang anak.

Setelah itu, Ifa mendapatkan beasiswa ke Korea selama dua tahun untuk belajar lebih dalam tentang pembuatan film. Kedua orang tuanya semakin sadar bahwa dunia film ternyata merupakan sesuatu yang bisa diseriusi dan menjadi media untuk berekspresi sekaligus sebagai pilihan hidup. Pada 1999, di Yogyakarta hanya sedikit sekali orang yang berani bilang, “Saya ingin menjadi pembuat film.”Mengapa? Karena di sana tidak ada budaya sinema. Ifa masih ingat bagaimana susahnya berproses membuat film. Sekarang, bisa dibilang Yogya menjadi salah satu tempat pas buat anak muda untuk belajar membuat film. Lebih dari 100 komunitas ada Yogya, lebih dari 100 film pendek dibuat di sana. Bisa dibilang Yogya sudah menjadi kiblatnya film-film yang lebih lokal, meski film sebagai industri tetap saja adadi Jakarta.

Bicara soal permintaan, menurut Ifa, film sekarang sudah jauh berkembang. Film yang diproduksi dan pekerja filmnya jauh lebih banyak. Film sebagai salah satu industri kreatif mendapat ruang. Ifa mengaku bahwa yang membuat dirinya bisa menjadi seperti sekarang tak lain adalah konsistensi. Pada saat memulai, banyak teman yang juga memulai, tapi berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, Ifa bersama teman-teman komunitasnya tetap konsisten.

Pada masa-masa transisi, paling susah di saat memulai film sebagai hobi, kemudian berpikir bahwa hobi saja tidak cukup dan menjadikan film sebagai media profesional yang mampu memberikan hidup. Sebab, saat itu sudah banyak sekali tuntutan. Akhirnya, pada 2008-2009, Ifa sudah mulai menganggap dunia film sebagai pekerjaan yang sifatnya profesional. Film pendek pertamanya pun lahir pada 2001, berjudul Mayar, menghasilkan beberapa penghargaan.

Sejauh ini Ifa sudah membuat lima film pendek. Salah satunya, Setengah Sendok Teh, mendapatkan penghargaan sebagai film pendek Asia terbaik. Pada 2009, Ifa membuat film layer lebar, Garuda di Dadaku, yang mencapai box office, yaitu mendapatkan lebih dari 1,5 juta penonton. Kemudian, film keduanya, Sang Penari, menyabet penghargaan Piala Citra dan Ifa sendiri diganjar sebagai sutradara terbaik. Mengenai dukungan pemerintah terhadap dunia film, Ifa merasakan selama 10 tahun berkecimpung justru sekarang ini dukungan pemerintah sedang bagus-bagusnya. Artinya, pemerintah sedang sadar sekali bahwa film adalah salah satu bagian yang penting untuk didukung, terutama dibidang SDM perfilman dan distribusinya.

Apalagi sekarang ini budaya sinema bukan hanya milik sekelompok orang, mengingat teknologinya sudah sangat mendukung untuk bisa dijangkau seluas mungkin. Dengan kata lain,budaya sinema sudah berkembang dan bisa diakses siapapun. Artinya, kebutuhan tentang film, baik aktivitas penontonnya maupun aktivitas pembuatnya sudah harus lebar. Disanalah pemerintah dapat berperan, selain—tentu saja—mendukung di bidang industrinya. Sudah waktunya pemerintah memperhatikan hal-hal yang lebih detail, misalnya menemukan bakat-bakat baru dan menggelar festival-festival.

Dalam kaitan inilah dibutuhkan sistem untuk menemukan bakat-bakat baru, bagaimana sinema bisa dikembangkan secara lokal. Sebab, budaya sinemalokal memiliki budaya dan cara berbeda. Perbedaan itu yang membuat sinema mempunyai sistem, gaya bercerita, dan produksi yang berbeda-beda. Tahun 2015, Ifa membuat film Siti, yang seluruh dialognya berbahasa Jawa. Selama ini orang menonton film berbahasa Inggris atau berbahasa Indonesia. Akan tetapi,mereka juga harus disadarkan bahwa film itu bisa menang di Piala Citra sebagai film terbaik walaupun belum diputar dibioskop. Di sanalah sebenarnya kekuatan sinema Indonesia, yaitu sinema yang muncul dari kelokalannya.

Perihal Anugerah Kebudayaan 2017 untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu yang diberikan kepadanya, Ifa mengucapkan terima kasih dan senang. Tenyata apa yang ia lakukan bermanfaat bagi bangsadan negara sehingga dirinya diberikan penghargaan tersebut. “Artinya, apa yang saya lakukan masuk dalam radar pemerintah, itu yang saya senang. Selain itu, yang saya harapkan, pemerintah juga lebih peka terhadap orang lain, bisa memotivasi orang lain,” tutupnya.