Candi Cangkuang: Islamisasi dan Sanksi

0
896

Sebagai suatu gambaran masa lalu, Candi Cangkuang tegak berdiri diatas sebuah lahan bernama Kampung Pulo. “Candi hasil pemugaran yang (diperkirakan) berasal dari abad ke 8 – 9 masehi ini merupakan peninggalan zaman Hindhu-Buddha tertua yang terdapat di tanah Priangan”, tutur Zaki (juru pelihara situs).

Gerbang masuk menuju Candi Cangkuang dan Makam Embah Dalem Arif Muhammad

Bagi para “penikmat senja”, lokasi Candi berada pada posisi yang sangat menggugah hasrat diri untuk mengunjungi. Pemandangan yang disuguhkan sungguh menarik, mulai dari daerah perairan (Danau Cangkuang) sampai dengan saksi bisu masa penyebaran agama Islam berupa Kampung Adat (Pulo) dapat dijadikan sarana penyejuk mata dikala senja.

Kampung Adat Pulo, memiliki keterkaitan yang mendalam dengan sejarah perkembangan Islam di daerah tersebut. Kampung ini merupakan kediaman dari  keturunan asli almarhum Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Beliau memiliki tujuh anak, enam diantaranya perempuan dan satu laki-laki. Saat ini yang mendiami kampung tersebut merupakan keturunan ke-8 sampai dengan ke-10 dari salah satu tokoh agama, sekaligus (mantan) panglima perang kerajaan mataram. 

Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, merupakan seorang tokoh sentral dalam persebaran agama islam di daerah tersebut. Singkat cerita, Sultan Agung memerintahkan Eyang Embah Dalem Arif Muhammad selaku panglima perangnya untuk menyerang VOC di Batavia, namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, sang panglima perang takluk dalam perang tersebut. 

Eyang Embah Dalem Arif Muhammad kemudian melarikan diri ke daerah Parahyangan yang sekarang kita kenal dengan nama Cangkuang. Beliau memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram karena takut akan mendapatkan sanksi. Pelarian beliau dari asumsi (mendapatkan sanksi) kemudian menghadirkan cerita baru di tanah Cangkuang yang mayoritasnya adalah pemeluk agama Hindu. Secara perlahan tapi pasti, Eyang Embah Dalem Arif Muhammad bersama dengan rekan-rekannya yang berhasil melarikan diri dari Batavia kemudian menyebarkan agama Islam. Saat ini (tahun 2021) mayoritas penduduk di sekitar candi menjadi pemeluk agama Islam. (Aryastianto Seno Prakoso)