Napak Tilas tokoh dan peristiwa Sejarah Melalui Seni, Semarak Lomba Lukis Kesejarahan 2017

0
1619

Yogyakarta, 9 November 2017. Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Lomba lukis kesejarahan dengan melibatkan peserta siswa siswi SMP/MA sederajat dari seluruh DIY. Kegiatan ini dilaksanakan salah satunya untuk memperingati hari pahlawan yang jatuh pada 10 November. Selain itu, kegiatan tersebut memiliki maksud agar generasi muda lebih mencintai para pahlawan dan tidak melupakan sejarah Bangsa Indonesia. Lomba Lukis kesejarahan dilaksanakan di pendapa Dalem Jayadipuran, dimulai pukul 8.00 hingga kemudian hasil karya akan dinilai pada pukul 13.00WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 117 peserta tingkat SMP/ MA dan sederajat. Kegiatan ini juga disemarakkan oleh beberapa mahasiswa ISI Yogyakarta yang turut menggoreskan cat di atas kanvas. Mereka mereka juga memberikan workshop kepada para peserta untuk memotivasi dalam menghasilkan karya seni kesejarahan yang indah sekaligus memiliki makna yang mendalam. Ada pemandangan menarik dalam lomba lukis kesejarahan yang diikuti oleh generasi muda saat ini, dengan didukung semangat yang kuat serta kuriositas tinggi, mereka melakukan riset kecil terkait profil yang mereka lukis menggunakan media internet pada gawai pintar yang mereka miliki. Melalui cara tersebut, peserta bisa berimajinasi dan menumpahkan ekspresi secara total, sehingga atmosfir ekspresi nasionalisme pada lukisan yang mereka hasilkan bisa lebih bergema.
Para peserta diberikan pilihan untuk melukis tokoh – tokoh sejarah Nasional, antara lain Ir. Soekarno, Jenderal Besar Soedirman, Nyi Ageng Serang, R.A. Kartini dan beberapa tokoh lainnya. Mereka antusias dalam mengikuti kegiatan lomba lukis ini. Guru guru yang hadir juga mengapresiasi positif kegiatan ini . Salah seorang guru pendamping siswi SMP di Parangtritis, Olivia beranggapan bahwa kegiatan ini merupakan sarana bagi generasi muda untuk menumbuh-kembangkan semangat nasionalisme, dan merawat kesadaran diri akan nilai nilai sejarah yang perlu dilestarikan melalui seni lukis.

Seni lukis secara universal merupakan bahasa untuk mengekspresikan sesuatu berdasarkan apa yang dilihat, dirasakan dan dibayangkan (imajinasi). Seni lukis juga memuat berbagai macam makna yang bisa mewakili objek, orang, pemandangan, dan peristiwa tertentu dari sudut pandang tertentu. Para pelukis bisa mengekspresikan suasana hati dan emosi tertentu, sehingga orang yang melihat hasil karya pelukis akan menginterpretasikan karya tersebut dengan beragam kesimpulan namun mengerucut pada satu hal yang sama. Terkait dengan hal tersebut, interpretasi setelah melihat hasil karya peserta nantinya juga akan mengerucut pada kesimpulan mengenai semangat nasionalisme yang diekspresikan melalui hasil karya tersebut. Salah satu dewan juri dari bidang akademisi, Dr. Sri Margana juga menuturkan bahwa kegiatan semacam ini merupakan kegiatan yang menarik, karena mengkombinasikan sejarah dengan seni. Sebagian besar masyarakat saat ini memahami sejarah hanya dari dimensi sosial politik, padahal sejarah juga bisa dipahami melalui beberapa cara, salah satunya dengan seni seperti yang dijumpai pada kegiatan kali ini. Karya seni juga bisa menjadi tolok ukur nasionalisme yang ada dalam diri pelukis, serta ekspresi penikmat hasil karya seni tersebut. Sudah saatnya saat ini nasionalisme dalam kaitan dengan sejarah Indonesia bisa diekspresikan melalui dimensi yang tidak hanya sosial politik semata, namun melalui seni dan budaya agar semangat nasionalisme generasi muda saat ini bisa terus berkibar dan meneruskan para pendahulu yang telah berjuang.