Jurnal Patrawidya Vol. 17 No. 1, April 2016

0
3063
Jurnal Patrawidya Vol. 17 No. 1, April 2016

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena perkenanNya Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I.Yogyakarta dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikemas dalam jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 17 No. 1, April 2016. Jurnal Patrawidya edisi ini memuat tujuh artikel dalam bidang sejarah dan budaya. Jurnal Patrawidya sampai kehadapan para pembaca berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini Dewan Redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk membaca semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada editor bahasa Inggris. Mulai tahun 2016, Patrawidya terbit dalam tiga (3) edisi yakni bulan April, Agustus dan Desember. Mengawali edisi tahun 2016 Patrawidya hadir dengan tujuh artikel. Farabi Fakih menulis tentang ide-ide ekonomi PKI dan perbandingannya dengan ide ekonomi yang dimiliki oleh ‘kelas manajerial’ Indonesia yang muncul pada akhir tahun 1950an dan awal 1960an. Periode itu penuh dengan ide-ide mengenai hubungan negara dengan masyarakat yang lebih luas, khususnya dalam hubungan ekonomis. Fakih membuktikan bahwa PKI punya pandangan ambivalen terhadap ide pembangunan oleh negara yang didorong Sukarno. Artikel yang menarik tersebut dapat dibaca secara lengkap dalam edisi kali ini.

M.Yuanda Zara menghadirkan artikel yang membahas tentang bagaimana para pemimpin Indonesia menghadapi tantangan-tantangan besar untuk membangun negara yang baru merdeka. Satu cara untuk menghadapi berbagai tantangan pada masa itu dengan mengintensifkan komunikasi pemerintah, baik untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang keberhasilan yang telah dicapai pemerintah serta mengajak masyarakat untuk ambil bagian dalam program-programnya. Mimbar Penerangan majalah dari Kementerian Penerangan memperlihatkan bahwa dalam sebuah negara yang baru lahir, pembangunan mental melalui penerangan kepada masyarakat sama pentingnya dengan pembangunan fisik. Lebih lanjut pembaca dapat mengikuti dalam artikel yang berjudul “Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”: Majalah Mimbar Penerangan dan Komunikasi Pemerintah pada Pasca- Revolusi di Indonesia Artikel yang menarik tentang kontruksi kebangsaan di daerah perbatasan ditulis oleh Lina Puryanti dan Sarkawi B. Husain mengulas tentang bagaimana masyarakat Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Tawau- Malaysia, membangun konstruksi kebangsaan di tengah perubahan sosial, migrasi, dan politik identitas. Tulisan ini menyebutkan bahwa peristiwa lepasnya Ligitan-Sipadan dan juga konfl ik blok Ambalat yang terus berlangsung turut memberikan kontribusi terhadap konstruksi identitas nasional kebangsaan Indonesia di Pulau Sebatik. Identitas itu menjadi lived experiences masyarakat yang hidup dalam koneksi tradisional dengan Malaysia.

Artikel lain membahas tentang Kemandirian Petani Garam Perempuan di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, ditengah-tengah Kebijakan Impor Garam, yang ditulis oleh Lucia Juningsih. Hasil penelitian Lucia Juningsih menunjukkan bahwa kebijakan impor garam oleh pemerintah tidak berpengaruh pada usaha pembuatan garam yang dilakukan oleh para perempuan. Penurunan produksi garam karena berkurangnya jumlah pembuat garam yang cukup besar. Sementara itu, generasi muda sebagai penerus kurang tertarik membuat garam. Mereka lebih senang bekerja di sektor lain yakni sebagai buruh di kota-kota besar yang ramai. Mereka meninggalkan lahan garamnya atau mengalihfungsikan sebagai sawah atau pemukiman.

Wiwin Indarti bersama dengan Abdul Munir hadir dengan tulisan yang membahas tentang peran dan relasi gender masyarakat Using dilihat dari lakon Barong Kemiren Banyuwangi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa analisis yang berhubungan dengan peran dan relasi gender dalam lakon Barong Kemiren memperlihatkan adanya perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi tokoh laki-laki, seperti ditunjukkan dalam keberanian dan kebebasan tokoh-tokoh perempuan dalam lakon Barong Kemiren untuk menentukan pilihan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa wacana kesetaraan gender telah ada pada kultur masyarakat Using sejak dahulu seperti terefleksikan dalam lakon Barong Kemiren. Etnografi tentang kehidupan anak-anak Kefamenanu hadir di tengah pembaca melalui tulisan Prayanto W. Harsanto. Kabupaten Kefamenanu di Nusa Tenggara Timur menurut penelitian Prayanto W. Harsanto, umumnya miskin insfrastruktur dan tidak memiliki aksesibilitas yang baik. Kemiskinan memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan sosial yang ada di Kefamenanu. Artikel ini menunjukkan bahwa semangat dan optimisme bisa menjadi kekuatan yang membuat anak-anak hidup dalam perjuangan dan harapan.

 Patrawidya edisi April kali ini ditutup dengan artikel yang menbahas tentang Sinkretisme Budaya dalam Seni Reog di Brijo Lor, Trucuk, Klaten. Sutiyono berusaha menggambarkan terjadinya sinkritisme budaya dalam pertunjukan reog di Brijo Lor, Klaten. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sinkritisme budaya merupakan percampuran budaya baru dan budaya lokal atau merupakan percampuran aktivitas budaya yang terdiri dari bentuk seni pertunjukan yang dilakukan oleh penari berkostum prajurit, naik kuda kepang, bersenjatakan pedang dan tombak, diiringi bende, terbang dan angklung. Pertunjukan reog juga menjadi wadah integrasi sosial dan ekspresi seni reog dipakai untuk penyebaran agama Islam.

Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 17 No. 1, April, 2016 ini masih ada kekurangannya. Namun begitu kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan jurnal ini. Selamat membaca.

 

Dewan Redaksi

Selengkapnya:Jurnal Patrawidya Vol. 17 No. 1, April 2016