Jurnal Patrawidya Volume 18 Nomor 3, Desember 2017

0
2100

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena perkenanNya, Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dapat menerbitkan basil penelitian yang dikemas dalam jurnal/majalah ilmiah Patrawidya Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Volume 18 Nomor 3, Desember 2017. Artikel yang dimuat dalam jurnal/majalah ilmiah Patrawidya berasal dan kiriman berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi.
Jurnal Patrawidya yang telah sampai di hadapan para pembaca bisa dipublikasikan berkat bantuan dan kerja sama dan berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dewan redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk mereview semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada beberapa pihak yang membantu dalam publikasi jurnal Patrawidya edisi ini.
Patrawidya volume 18 Nomor 3 Desember 2017 memuat 8 artikel yang terangkum dalam rumpun kajian tentang sejarah dan Budaya. Artikel pertama merupakan basil penelitian Bambang Purwanto, yang berisi tentang marjinalisasi sejarah kerajaan Pajang dan narasi besar sejarah Indonesia. Historiografi menempatkan sejarah Kerajaan Pajang secara marginal sebagai akibat dari warisan tradisi orientalisme. Hal ini juga diperparah dengan perangkat metodologis yang tidak bisa menginterpretasikan jebakan linguistik pada naskah-naskah kuno.
Artikel selanjutnya berisi tentang peranan sosok Sukaptinah dan Hajinah dalam gerakan Nasionalis di Indonesia. Artikel yang ditulis oleh Mutiah Amini tersebut mengungkapkan bahwa sosok Sukaptinah dan Hajinah memperjuangkan hak-hak warga (terutama kaum wanita) melalui ide dan pemikiran politik dalam kerangaka kebangsaan. Kontribusi perjuangan kedua tokoh tersebut melalui pemikiran dan ide yang diwadahi dalam organisasi- organisasi pada masa pergerakan nasional patut diapresiasi karena memiliki dampak yang besar bagi perkembangan bangsa Indonesia. Galuh Bayuardi, Andang Firmansyah dan Superman menulis artikel tentang Kota
Pontianak dalam prespektif sejarah dan heterogenitas penduduk. Meskipun memiliki heterogenitas penduduk, Kota Pontianak juga pernah mengalami konflik yang bermuara pada fragmentasi antarpenduduk. Namun demikian, sebagian besar masyarakat memiliki asa untuk hidup harmoni dalam bingkai multikultur. Artikel lainnya berisi tentang kearifan lokal masyarakat Kampung Wana di Lampung Timur dalam arsitektur rumah tradisional, yang ditulis oleh Ani Rostiyati. Rumah tradisional tersebut merupakan warisan budaya sebagai manifestasi pengalaman hidup masyarakat Kampung Wana secara turun temurun. Arsitektur tradisional tersebut merupakan bentuk
adaptasi terhadap alam lingkungan sekitar, sehingga menjadi tempat tinggal yang nyaman dan memiliki tingkat keselamatan tinggi terhadap potensi bencana. Keunikan arsitektur rumah tradisional Kampung Wana tersebut menjadi kearifan lokal yang sudah sepatutnya terus dilestarikan.
Mezak Wakim menulis tentang makna dan fungsi arsitektur rumah adat Im sebagai warisan budaya masyarakat Masela, Maluku. Arsitektur Im sendiri merupakan representasi kehidupan manusia yang juga mempertimbangkan keseimbangan kosmis (manusia dengan alam). Bagian-bagian bangunan Im memiliki simbol yang memuat makna tertentu, dan makna tersebut terintegrasi dengan fungsi. Budiana Setiawan menulis tentang makna dan fungsi upacara tradisional masyarakat lereng Gunung Lawu. Upacara tersebut merupakan wujud interaksi baik manusia dengan sesama manusia, maupun manusia dengan alam. Adapun makhluk mitologi yang terdapat dalam upacara tradisional merupakan simbol alam semesta untuk memaknai upacara tersebut, sehingga keselarasan hidup antara manusia dengan alam term terjaga. Tulisan artikel lainnya juga datag dan Yuzar Purnama yang menulis tentang nilai nilai dalam tradisi lisan Buleng,
yaitu kisah Raja Tanpaingan. Tradisi lisan tersebut memuat nilai-nilai dikdaktik antara lain etos kerja, ketaatan beragama, politik, filsafat dan nilai normatif yang berkaitan dengan kebijaksanaan dalam memegang tampuk kekuasaan. Artikel terakhir ditulis oleh Ernawati Purwaningsih yang berisi tentang perubahan pada tradisi nyadran Tuk Tempurng di sekitar Sites Liangan. Perubahan dalam tradisi nyadran muncul ketika sites Liangan ditemukan, yang semula memiliki ranah domestik (kepentingan individu dan kelompok masyrakat Liangan), menjadi ranah publik (dibuka untuk masyarakat secara luas) dengan hitchhiking (membonceng) ketenaran sites Liangan. Meskipun demikian, esensi dari tradisi nyadran Tuk Tempumg sendiri tidak mengalami perubahan. Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jumal atau majalah ilmiah Patrawidya Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Volume 18 Nomor 3 Desember 2017 ini, masih terdapat kekurangan. Meskipun demikian, kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat memanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Selamat membaca.
selengkapnya Patrawidya Volume 18 Nomor 3, Desember 2017