Pembuatan Cidaku Atau Cawat Komunitas Adat Terpencil Orang-Orang Siahari, Maluku Tengah

0
759

Desa Siahari adalah salah satu desa yang terletak tepat didaerah pegunungan di pulau Seram Bagian Utara, sehingga Desa Siahari merupakan wilayah petuanan Negeri Maneo Randa, Kecamatan Seram Utara dengan ibu kota kecamatan Wahai Kabupaten Maluku Tengah. Yang mempunyai luas wilayah 8.345.78 km2. Nama ibu kota Wahai merupakan nama yang dijuluki oleh pemerintah Belanda dan kecamatan Wahai memiliki sekitar 43 Desa salah satunya adalah Negeri Maneo. Desa Siahari dapat ditempuh dengan dua jalur perjalanan yakni melalui darat melewati daerah Kobisonta dengan menggunakan transportasi kendaraan umum dan setelah tiba, dilanjutkan dengan berjalan kaki sepanjang 12 km menuju Desa Maneo tinggi kemudian dilanjutkan menuruni gunung Ulue sepanjang 20 km menuju Desa Siahari. Adapun jalur perjalan kedua yaitu  jalur udara menggunakan pesawat udara dari Kota Ambon menuju Seram Bagian Timur dan melanjutkan perjalanan menuju daerah Kobisonta serta melewati daerah Transmigrasi dan melewati muara sungai sekitar 15 km sampai tiba di Desa Siahari. Keanekaragaman budaya dan tradisi masyarakat Desa Siahari yang memiliki keunikan dan masih asli merupakan ciri-ciri budaya yang berhubungan dengan Taurn dalam Patasiwa dan Patalima salah satu diantaranya adalah Cidaku atau Cawat(pakaian-pakaian yang terbuat dari bahan kulit kayu).

Kemudian masyarakat desa Siahari memang telah mengenal dan menggunakan pakaian modern,walaupun masih terlihat sangat kotor dan belum paham benar fungsi pakaian sebernamya. Masyarakat Siahari pada  prinsipnya memang telah menggunakan pakaian modern namun menurut kenyataan yang kami lihat masih banyak juga menggunakan pakaian dari kulit kayu untuk keperluan sehari-hari seperti melakukan aktifitas berkebun atau berburu. Kondisi seperti ini masih tetap mereka pertahankan sampai sekarang meskipun sudah ada pakaian modern. Keadaan lingkungan pada desa Siahari sebagian besar datar dan berbukit dan struktur tanah di perkampungan sangat berpasir dan bertanah liat. Perkampungan penduduk desa Siahari tepat pada sebuah bukit yang tinggi dan sering diselimuti dengan kabut tebal,poho-pohon besar,pohon sagu dan damar. Hutan juga memiliki jenis-jenis pohon bambu  dan juga jennies kayu yang baik dan berkualitas tinggi yaitu:kayu nani yang memiliki warna kecoklatan dan sering kayu ini sering digunakan oleh masyarakat desa Siahari untuk penyangga sebuah rumah. Selain jenis kayu itu ada juga kayu Gofasa yang fungsinya sebagai bahan pembuat perahu dan juga dinding papan rumah. Kemudian untuk pembuatan Cidaku atau cawat terbuat dari kulit kayu Pohon Ara. Adapun cara pembuatannya yaitu permulaan pembuatan Cidaku atau Cawat yaitu mula-mula kulit luar kayu pohon Ara dilepas dengan cara dikikis sampai munculnya kulit dalam yang berwarna putih. Selanjutnya bahan kulit yang telah dikikis tersebut dipukul dengan alat pukul Lia yang terbuat buku kayu damar selanjutnya pada prosspemukulan dilakukan sampai dataran kulit kayu melentur, kemudian sesudah itu dicuci bersih  untuk dapat menghilangkan lendir yang bila segera tidak dicuci dapat mengakibatkan kulit menjadi gatal. Setelah selesai dicuci bahan dasar kayunya, kemudian di jemur sekitar 2 sampai 4 hari dan pada bagian atas Lia diberi motif garis melintang dan sebagai sebuah hiasan cidaku. Pada zaman dahulu Cidaku biasanya dihiasi  dengan motif bulatan yang dapat diartikan sebagai kepala manusia. Laki-laki yang menggunakan Cidaku sampai tepat diatas lutut yang diikat dengan sangat erat pada pinggang supaya mencegah jangan sampai jatuh. Menurut pemahaman maasyarakat Desa Siahari jika mereka mengikat Cidaku Sangat Erat  dapat membantu mereka kuat berjalan berhari-hari dan sangat kuat untuk berlari cepat saat berburu binatang. Kemudian untuk kaum perempuan menggunakan Cidaku berbentuk seperti rok terbuat dari kulit kayu dan diikat dengan seutas tali dari bamboo dan rotan dan dililitkan tepat pada bagian perut melalui kedua belah kaki dan pakaian ini terus dipakai setiap hari dan tidak akan pernah diganti-ganti sampai rusak kemudian baru diganti yang baru, sedangkan pada bagian dada seringkali dibiarkan terbuka atau juga mereka menyamarkan dengan lilitan tali yang dianyam menyerupai sebuah kalung.

Dengan perkembangan zaman yang berubah pakaian-pakaian ini hampir semua masyarakatnya tidak lagi menggunakannya,namun masih ada sebagian kecil yang menggunakannya yaitu saudara mereka orang-orang Masuwane. Menurut pengakuan dari penduduk Desa Siahari mereka telah beberapa kali mengajak saudara-sauadara mereka yang masih mendiami hutan untuk berpakaian yang layak seperti mereka dan juga telah mengajari mereka cara memakainya. Dengan demikian dapat kita memahami bahwa kemajuan suatu teknologi dapat kita ikuti perkembangannya,namun kita jangan pernah sekali-kali meninggalkan ciri khas dari kebudayaan kita,karena kebudayaan yang kita miliki sangat kaya.