Pementasan Teater Berbahasa Ibu

0
581
Adegan pertunjukan pementasan teater berbahasa ibu, Rabu (10/10/2018)

Pak Amat (Wahyu Umarudin, 23), merenung. Wajahnya gusar. Ia diliputi perasaan bimbang. Setiap hari, saat memandang anak-anak, siapapun mereka, yang ada hanya kekosongan. Anak-anak yang semestinya berkeliaran kesana kemari, bermain berlari-lari, justru kini terpekur di depan game modern yang disediakan gawai orang tua mereka. Ia merindukan suasana ramai anak-anak yang bermain di tanah lapang. Sebab itu, Pak Amat tetap mempertahankan tanahnya saat ada orang yang bermaksud membeli. Pak Amat bersikukuh menjaga tanahnya, bukan untuk dirinya, tapi agar anak-anak memiliki lahan bermain.

Salah satu adegan pertunjukan Main Yok

Akhir pementasan, penonton bertepuk tangan. Malam yang semakin larut tidak mengurangi pesan yang disampaikan dalam pementasan berjudul “Main Yok” itu. 18 orang pemeran berdiri berbaris menghadap penonton, lalu menunduk sebagai tanda terima kasih.

Lakon yang berlangsung pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19.30 WIB ini tidak menggunakan panggung konvensional seperti umumnya pementasan teater. Sutradara sekaligus penulis naskah “Main Yok”, Santo S.Pd, memilih memanfaatkan stager (pelabuhan kapal kecil) sebagai panggung. Sementara penonton menyaksikan pementasan dari geretak (jalan papan di pemukiman bantaran sungai), yang berlokasi di Gang Besar Desa Arang Limbung Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.

Salah satu adegan pertunjukan Main Yok

Pementasan teater “Main Yok” dinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, melalui program pengembangan nilai budaya dengan tema Permainan Tradisional. “Main Yok” menggunakan dialog berbahasa daerah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya menilai pementasan ini sesuai dengan tema permainan tradisional yang sedang digaungkan.

Kepala seksi Pengembangan Seni Budaya dan Kajian Sejarah mengatakan, pentingnya hal ini dilakukan mengingat permainan tradisional sudah mulai di tinggalkan/dilupakan oleh anak-anak di zaman sekarang. Dengan ditampilkannya pertunjukan ini, tentu dapat menggugah perasan dan kesadaran orang tua akan betapa pentingnya masa kecil anak-anak kita.

Sutradara pementasan “Main Yok” sangat mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya. Menurutnya, ia merasa sangat senang karena karyanya dihargai oleh Dinas Pendikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, di tambah lagi antusias penonton yang begitu baik. Semoga saja pesan yang sampaikan dari naskah yang ditulis dapat dipahami hingga dihayati oleh penonton, ungkapnya.

Salah satu adegan pertunjukan Main Yok

Satu diantara penonton ketika di wawancara sangat senang sekali, ini merupakan hal yang pertama dilaksanakan di kampung kami. Harapan kedepannya kegiatan seperti ini bisa rutin dilaksanakan, imbuhnya.

Para pemain dalam pertunjukan tersebut dilakukan oleh pemuda/pemudi yang tergabung dalam Teater Kampung Arang (TERKAM) Kabupaten Kubu Raya.

Inti dari kegiatan pementasan teater dengan tema Permainan Tradisional “Main Yok” adalah :

  1. Pelestarian/revitalisasi bahasa ibu (Bahasa Daerah)
  2. Pelestarian Permainan Tradisonal di daerah Kabupaten Kubu Raya
  3. Pengembangan seni terhadap generasi muda agar dapat mengeksplor potensi-potensi yang ada pada seniman di kabupaten Kubu Raya.

 

Penulis  :  Ilham Setia (Penggiat seni)

TINGGALKAN KOMENTAR