Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Provinsi Jawa Barat (15/3/2025) – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, beserta jajarannya melakukan kunjungan kerja ke Monumen Perjuangan Rawagede yang terletak di Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang. Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kebudayaan didampingi oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Provinsi Jawa Barat pada Sabtu, 15 Maret 2025.
Monumen Rawagede dibangun dengan makna yang mendalam, mencerminkan peristiwa bersejarah dan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan. Makna ini tersirat dari simbol-simbol yang menghiasi kompleks monumen serta berbagai elemen arsitektur bangunan dan area sekitarnya. Arsitektur bangunan utama terlihat seperti bunga melati yang belum mekar, melambangkan kesucian dan keperawanan bangsa yang belum sepenuhnya terwujud akibat tragedi berdarah tersebut. Kuncup bunga ini juga melambangkan cita-cita dan harapan bahwa akan ada generasi yang memekarkan Indonesia setelah banyaknya warga sipil yang gugur.
Monumen ini memiliki 17 anak tangga, melambangkan tanggal 17 sebagai simbol peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Jumlah ini juga mengingatkan kita pada perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Lantai dasar monumen dirancang berbentuk segi delapan, melambangkan bulan kedelapan, yaitu Agustus, bulan ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dinyatakan. Bentuk segi delapan ini mencerminkan stabilitas dan keteguhan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan.
Di dalam monumen terdapat patung seorang ibu yang memeluk jasad suami dan anaknya, melambangkan rasa kehilangan dan duka mendalam yang dialami oleh para istri dan ibu akibat pembantaian Rawagede. Ini juga menjadi simbol ketahanan dan kekuatan perempuan dalam menghadapi kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga.
Di area belakang monumen, terdapat makam-makam para korban pembantaian, yang berjumlah sekitar 181 makam. Setiap makam telah mendapatkan izin dari keluarga korban dan dirancang sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi para pahlawan yang gugur dalam tragedi tersebut. Secara keseluruhan, desain dan filosofi bangunan Monumen Rawagede tidak hanya berfungsi sebagai tempat peringatan, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi penerus mengenai betapa berartinya harga kemerdekaan yang diperoleh melalui pengorbanan.

Dalam kunjungan kerja Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, pada kesempatan berharga ini, beliau juga melakukan ziarah untuk mendoakan 181 jasad pahlawan yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sampurna Raga. Sebagai upaya pemulihan kehormatan bangsa Indonesia, para korban, keluarga, dan masyarakat berjuang melalui advokasi Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) untuk mengajukan berbagai gugatan, salah satunya di depan parlemen Belanda, guna menuntut keadilan atas kejadian pembantaian tersebut.
“Sejarah ini tentunya dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua, generasi penerus bangsa, untuk terus menjadikan keberanian dan ketahanan para pejuang di masa lampau sebagai inspirasi dalam membangun negeri. Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk melestarikan dan mempromosikan sejarah Indonesia melalui pelestarian situs bersejarah, pendidikan sejarah, pengembangan riset, dan melibatkan masyarakat dalam menjaga warisan budaya agar berbagai warisan ini tetap terjaga dan lestari,” ucap Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.

“Esa hilang, dua terbilang” merupakan peribahasa yang berarti terus berjuang atau berusaha dengan gigih sampai tercapai tujuan atau cita-cita. Peribahasa ini juga berarti melakukan suatu usaha untuk mewujudkan cita-cita dengan sungguh-sungguh tanpa takut menghadapi segala risiko.
Suasana Monumen Perjuangan Rawagede yang vibrant menjadikannya berbeda dengan monumen atau museum sejenisnya. Monumen Perjuangan Rawagede terasa layaknya ruang publik yang hidup dengan berbagai interaksi dan aktivitas di dalamnya.