Tinggalan Arkeologis Gua Debu Kabupaten Balangan

0
72

Kabupaten Balangan secara geografis berada di daerah Pegunungan Meratus bagian barat, berderetan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Tapin. Seperti sudah dijelaskan pada bagian latar belakang, Pegunungan Meratus merupakan kawasan pegunungan besar yang membelah Kalimantan Selatan menjadi dua bagian, yaitu bagian barat dan bagian timur. Bagian barat Pegunungan Meratus terdiri dari Kabupaten Tabalong (paling utara), kemudian berturut-turut Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tanah Laut. Sementara bagian timur Pegunungan Meratus hanya terdiri dari Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu (BPS Kalimantan Selatan, 2016). 

Wilayah bagian barat Pegunungan Meratus ini diketahui mempunyai potensi kawasan karst yang cukup bagus. Hasil penelitian Balai Arkeologi Kalimantan Selatan tahun 1996-2000, memperlihatkan adanya kebudayaan prasejarah yang berkembang pesat pada kawasan karst di sekitar Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, yaitu pada situs Gua Babi dan Gua Tengkorak. Kebudayaan prasejarah di kawasan ini menampilkan teknologi penyerpihan batu yang cukup maju (mesolitik), dengan kepandaian membuat perhiasan dari bahan kerang, tulang, dan tanah liat bakar. Manusia prasejarah yang mengembangkan kebudayaan prasejarah ini dipastikan adalah Austromelanesoid, yang rangkanya ditemukan pada sisa penguburan di situs Gua Tengkorak (Widianto dan Handini, 2003).

Hasil survei prasejarah yang dilakukan berikutnya pada kawasan karst yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin memperlihatkan adanya indikasi kuat tentang adanya situs gua hunian lain di wilayah tersebut (Wasita dkk, 2004). Sayangnya belum ada penelitian lanjutan untuk lebih menegaskan keberadaan situs-situs hunian prasejarah pada ketiga kawasan karst tersebut. Sementara itu, Kabupaten Balangan juga mempunyai potensi kawasan karst di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi dan Halong. Keletakannya yang berbatasan langsung dengan beberapa kawasan karst lainnya mempunyai indikasi arkeologi prasejarah yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dengan kegiatan penelitian survei.

Kedua wilayah Kecamatan Tebing Tinggi dan Halong termasuk dalam jajaran kawasan karst Pegunungan Meratus bagian barat (BPS Balangan, 2014), yang kemungkinan besar mempunyai hubungan yang erat dengan budaya prasejarah Gua Babi/Gua Tengkorak di Tabalong serta Gua Janggarawi di Hulu Sungai Selatan. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan, kondisi kawasan karst di Halong dan Tebing Tinggi sungguh memprihatinkan. Hampir semua gunung atau bukit yang ada, dijadikan lahan tambang galian C (batu kapur) oleh penduduk setempat. Berdasarkan pengamatan, sebenarnya banyak gua-gua atau ceruk payung yang cukup potensial sebagai tempat tinggal, namun kondisinya sekarang rusak dan tidak menyisakan deposit budaya apapun untuk penelitian arkeologi. Kebutuhan pupuk tanaman dan pembangunan jalan atau pemukiman penduduk, membuat sebagain penduduk menggali tanah (guano) dari dalam gua-gua untuk pertanian atau perkebunan, dan menambang batu kapur yang ada di gunung atau bukit kapur tersebut.

Khusus di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi, dari tujuh gunung karst yang disurvei, potensi prasejarah hanya terlihat di Gunung Batu Sumsung. Gunung ini juga sudah ditambang oleh penduduk dan bekas-bekas kegiatan tersebut masih bisa kita lihat di sekitar atau sekelilingnya. Saat ini Gunung Batu Sumsung sedang diupayakan menjadi tempat yang dilindungi dan disiapkan sebagai tempat wisata alam yang menantang. Ada jalur penelusuran yang cukup menanjak yang akan membawa kita sampai di puncak gunungnya. Dari puncak gunung ini kita bisa melihat pemandangan sekeliling Desa Batu Sumsung yang sangat menarik. Pada pertengahan jalan setapak pendakian gunung inilah, kita menemukan sebuah gua kecil yang penuh dengan coretan tangan dari para pengunjung yang kurang bertanggung jawab. Gua kecil dengan lorong sedalam 6 meter ini mempunyai morfologi yang sangat memenuhi syarat layak huni. Kondisi lantai tanah yang kering dengan sinar matahari yang bisa menerangi sampai ke dalam gua, merupakan suatu kondisi yang sangat ideal sebagai tempat hunian. Gua kecil tersebut oleh penduduk setempat dinamakan Gua Debu, karena tanahnya yang kering dan berdebu (Tim Penelitian, 2015).

Gua Debu inilah yang kemudian menjadi fokus kegiatan penelitian arkeologi dengan penggalian yang dilakukan pada dua buah lubang uji. Hasilnya sangat menggembirakan dengan temuan artefaktual yang cukup banyak yang dapat menunjukkan eksistensi Gua Debu sebagai situs hunian prasejarah. Terdapat beberapa temuan berupa serpih batu dengan berbagai ukuran, fragmen tembikar, dan fragmen tulang binatang yang menjadi bukti kuat adanya kegiatan kehidupan manusia di dalamnya. Dari sekian banyak temuan artefaktual tersebut, ada dua artefak yang sangat menarik perhatian karena mewakili dua masa yang berbeda dan cukup jauh periodisasinya. Hasil temuan secara umum memang memperlihatkan bahwa Gua Debu adalah situs hunian masa prasejarah, yang kemungkinan besar terus berlanjut sampai ke masa sejarah. Hipotesis ini berasarkan pada temuan “alat batu masa mesolitik” yang diwakili oleh serpih bilah dan mata panah prasejarah, dengan temuan fragmen tembikar “berelief” yang berasal dari masa sejarah.

Mata panah ini merupakan artefak yang jarang ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan. Mata panah dari Gua Debu mempunyai bentuk yang cukup besar dengan bekas-bekas pengerjaan yang sangat teliti. Proses pembuatan mata panah ini sangat rumit dan memerlukan ketelitian, ketekunan, dan kesabaran dari si pembuatnya. Temuan mata panah ini menjadi bukti bahwa pola perburuan binatang menjadi kegiatan utama manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal yang sesuai dengan gambar yang ditemukan pada dinding gua-gua di Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan, yaitu gambar binatang dengan anak panah di bagian perut atau badannya.

Sementara itu, serpih bilah digunakan untuk memotong daging, menyerut kayu atau bambu, membuat lubang pada kain dari kulit pohon atau sebagai alat dalam pembuatan perhiasan dari cangkang kerang. Semua jenis kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan serpih bilah di atas, dan sesuai fungsinya ada yang digunakan sebagai serut, pisau, atau bor (lancipan). Jumlah serpih bilah yang ditemukan di Gua Debu cukup banyak, dan ini menjadi bukti intensifnya proses penyerpihan yang pernah dilakukan ribuan tahun lalu. Kegiatan ini sangat didukung oleh melimpahnya sumber batuan calon alat yang banyak terdapat di sungai-sungai kecil yang ada di sekitar Gunung Batu Sungsum.

Alat-alat batu yang ditemukan pada situs Gua Debu ini satu konteks dengan temuan fragmen gerabah berhias dan polos serta sisa-sisa makanan yang berupa fragmen tulang binatang dan cangkang kerang. Kuantitas temuan fragmen gerabah tidak banyak jumlahnya, tetapi temuan tersebut menunjukkan bahwa penghuni Gua Debu sudah menguasai teknik pembuatan wadah makanan dari bahan tanah liat yang dibakar dengan baik, atau mereka punya hubungan yang baik dengan kelompok manusia prasejarah lainnya yang bisa membuat wadah makanan (gerabah) tersebut. Hubungan dan komunikasi dengan kelompok lain merupakan tingkat kepandaian sosial yang penting bagi kelangsungan hidup dan berkembangnya kebudayaan pada kawasan karst Balangan pada masa lalu. Dengan wadah gerabah tersebut, manusia penghuni Gua Debu bisa mengolah makanan dengan lebih baik dan lebih sehat.

Sementara sisa-sisa makanan yang berupa fragmen tulang dan cangkang kerang air tawar, jelas memperlihatkan bagaimana intensifnya penghuni Gua Debu dalam melakukan kegiatan perburuan binatang dan peramuan bahan makanan alternatif yang bisa didapatkan dari lingkungan sungai dan rawa-rawa di sekitar Gua Debu. Pada masa ini, ada kemungkinan cangkang kerang air tawar, terutama dari species thiaridae dan lymnaidae menjadi pilihan atau favorit sebagai bahan makanan yang disukai ketika hasil perburuan tidak sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, sisa-sisa cangkang kerang terlihat cukup banyak pada lapisan tanah di dalam Gua Debu (Tim Peneliti, 2016).

Unsur menarik yang ditemukan pada Gua Debu adalah fragmen gerabah yang unik, yaitu temuan dua buah fragmen gerabah yang berasal dari masa yang lebih muda dari masa prasejarah. Ada dua fragmen gerabah dari masa sejarah yang ditemukan di Gua Debu yang sangat menarik. Dua fragmen gerabah itu adalah bagian dari tablet gerabah yang biasa digunakan oleh umat Budha dalam kegiatan ritual mereka. Kepastian ini didapatkan dari pengamatan terhadap bentuk gambar atau relief yang ada pada dua fragmen gerabah tersebut. Fragmen gerabah pertama mempunyai gambar kepala manusia yang sangat mirip dengan gambaran arca-arca budha lengkap dengan sinar kedewaan (prabha), dan yang kedua mempunyai relief dua buah kaki manusia dalam kondisi berdiri tegak. Fragmen gerabah berelief Budha ini disebut dengan “amulet” yang digunakan oleh umat Budha dalam berziarah atau mengunjungi tempat-tempat yang dianggap angker atau keramat. Amulet seperti ini banyak digunakan oleh umat Budha di Thailand dan diproduksi secara massal sebagai suvenir bagi para pelancong atau wisatawan yang datang berkunjung.


Tiga artefak penting yang ditemukan di Gua Debu: (1) mata panah, (2) cawrie, perhiasan kerang yang berfungsi ganda sebagai alat tukar, dan (3) fragmen cap gerabah. (Dok. Balai Arkeologi Kalimantan Selatan)

Tradisi pembuatan “cap” atau meterai dari gerabah dengan relief Budha baik dalam posisi duduk atau berdiri, merupakan ajaran agama Budha dan biasanya digunakan pada saat kegiatan ziarah ke tempat-tempat suci agama Budha (Djafar, 2010: 89-91). Ferdinandus mengatakan bahwa meterai tersebut merupakan penggambaran dari Sravasti, yang berkembang pada masa agama Budha Hinayana (Ferdinandus, 1998: 187). Sementara Hariani Santiko berpendapat berbeda, penggambaran itu lebih mirip kepada tokoh Tara, seperti yang ditemukan di Candi Borobudur. Selanjutnya dikatakan bahwa tradisi itu adalah ajaran Budha Mahayana (Santiko, 2003: 41-48). Sementara fragmen meterai yang ditemukan pada Gua Debu belum bisa dijelaskan termasuk dalam kelompok  tradisi yang mana, apakah Budha Hinayana atau Budha Mahayana.

Temuan fragmen meterai gerabah ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, berkaitan dengan masa penggunaan Gua Debu pada masa lalu. Apakah temuan tersebut mencerminkan pemanfaatan situs Gua Debu yang sebenarnya, yaitu dari masa pre-neolitik sampai pada masa pengaruh agama Budha di Kalimantan Selatan? Ataukah temuan fragmen meterai gerabah ini merupakan akibat transformasi yang pernah dilakukan oleh manusia pada masa lalu? Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab karena minimnya data yang ditemukan pada kegiatan penelitian ini.

Sumber: Bambang Sugiyanto, Artikel GUA DEBU: SITUS HUNIAN PRASEJARAH DI KABUPATEN BALANGAN dalam Buletin Kundungga Volume 6 Tahun 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR