PENGELOLAAN INTEGRATIF CAGAR BUDAYA DI KAWASAN KARST SANGKULIRANG-MANGKALIHAT, KUTAI TIMUR

0
1729

Oleh : Nasrudin

Disalin dari Buletin Kudungga, Vol.3, BPCB Samarinda, 2014

Abstrak

Kajian tentang karst adalah kajian yang dapat dilakukan secara holistic, bukan hanya domain untuk para geolog atau tambang semata, tetapi di dalam kawasan karst  terdapat berbagai potensi seperti; tinggalan arkeologis yang berumur ribuan tahu, kelompok-kelompok masyarakat  yang hidup bergantung dengan kearifan karst seperti perburuan sarang walet, pertanian atau pun pemanfaatan menjadi lokasi pemukiman (settlement area), serta kebiasaan-kebiasaan yang diwujudkan dalam bentuk tradisi dan kesenian. Segala jenis potensi di atas memerlukan pengelolaan dalam rangka sinergitas, peran serta dan tanggung jawab bersama dengan pemerintah daerah, lintas  kelembagaan dan organisasi masyarakat, maupun lintas sektoral dan multi disiplin untuk meminimalisir benturan atas berbagai kepentingan di kawasan karst dalam upaya-upaya perlindungan, pemanfaatan dan pengembangannya.

  1. PENDAHULUAN

Bentukan morfologis di kawasan karst memiliki berbagai fenomena dan problematika lingkungan di dalamnya, bahkan juga fenomena dan problematika sosial-budaya-ekonomi. Sejak masa prasejarah lingkungan karst khususnya gua dan ceruk yang terbentuk pada lereng bukit, terbukti dimanfaatkan sebagai tempat hunian pada masa prasejarah. Pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat prasejarah ketika itu, masih pada batas-batas keseimbangan untuk kebutuhan hidup semata, tetapi kemudian faktanya lingkungan karst pada dewasa ini, dengan segala potensinya dieksplorasi secara berlebihan untuk berbagai kepentingan, sehingga terancam keberadaannya. Eksploitasi itu bisa berupa kegiatan pertambangan, perambahan hutan (illegal loging), perkebunan dan pemanfaatan pemukiman.

Kondisi ini juga mulai merambah memasuki kawasan karst Mangkulirang, bahkan perambahan hutan telah terjadi sejak lama dan eksplorasi tambang batu bara juga semakin mendekati kawasan situs gua prasejarah Mangkulirang. Fakta-fakta lapangan ini perlu segera diatasi untuk mencegah konflik kepentingan terhadap pengelolaannya.

Terkait dengan berbagai potensi yang dimiliki karst  Mangkulirang maka dapat diidentifikasi sejumlah persoalan besar yang mengancam punahnya berbagai potensi tersebut. Dapat dikemukakan sejumlah masalah yang dihadapi kawasan ini meliputi:

  1. Kegiatan penebangan hutan yang intensif dan pengambilan sarang burung wallet yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah pemanfaatan yang berkelanjutan
  2. Kegiatan land-clearing untuk perkebunan HTI atau ladang sebagai sumber kebakaran hutan. Munculnya perkebunan skala besar yang bisa mempengaruhi keseimbangan hayati.
  3. Kegiatan aktifitas pertambangan batu bara rakyat yang berpotensi merusak geomorfologi karst dan lapisan penutup vegetasi.
  4. Potensi galian dan bahan baku semen yang telah diincar oleh sejumlah perusahaan besar.
  5. Rencana pembangunan jalan trans timur Kalimantan yang membelah kawasan hutan karst (Batu Putih-Perondongan)
  6. Tidak diakuinya hak masyarakat adat atas sumberdaya alam yang mereka miliki, sehingga seringkali terjadi pengambilalihan penguasaan komunitas adat atas kawasan atau SDA tertentu oleh pemerintah atau badan usaha swasta.
  7. Hukum dan kelembagaan adat tidak lagi berfungsi efektif dalam menyelesaikan konflik-konflik SDA, sementara hukum negara juga tidak mampu menjangkau persoalan tersebut.
  8. Kawasan karst ini berada di dua kabupaten, yaitu Kutai Timur dan Berau, yang hingga saat ini belum adanya pengelolaan yang mencakup perlindungan lingkungan karst dan warisan budaya (situs gua prasejarah), sehingga diperlukan koordinasi yang sinergis untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya alam dan warisan budaya.
  9. Belum adanya pemetaan situs prasejarah dan penetapan batas situs arkeologi dalam kawasan karst Mangkulirang berdasarkar UU Cagar Budaya No.11 tahun 2010.
  10. LETAK GEOGRAFIS KUTAI TIMUR

Kabupaten Kutai Timur merupakan salah satu wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai dibentuk berdasarkan UU No. 47 tahun 1999. Batas-batas Kabupaten Kutai Timur adalah di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bulungan, sebelah timur dengan Selat Makassar, sebelah Selatan dan barat berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Wilayah Kutim terletak pada posisi koordinat antara 115°56’26” – 118°58’19” BT dan 1°17’1” LS – 1°52’39”

Kabupaten Kutai Timur memiliki luas 35.747,50 Km² (termasuk wilayah perairan laut) atau 17% dari luas Propinsi Kalimantan Timur. Secara administrasi Kabupaten Kutai Timur memiliki 18 wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Sangatta (ibukota Kabupaten/Ibukota Kecamatan Sangkulirang), Kec. Muara Bengkal, Kec. Muara Ancalong, dan Kec. Muara Wahau,Telen, Sandaran, Busang, Kaliorang, Kongbeng, Bengalon, Rantau Pulung, Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Karangan, Kaubun, Batu Ampar dan Long Masengat dan dengan memiliki 135 desa (Bappeda, 2007).

Kabupaten Kutai Timur terletak pada posisi yang strategis karena berada pada jalur poros lintas Trans Kalimantan, yang semakin ramai dimanfaatkan dalam transportasi orang dan barang. Selain itu kabupaten ini merupakan pusat dari Kawasan Pengembangan Terpadu (Kapet) SASAMBA (Sangatta – Samarinda – Balikpapan) dan kawasan segitiga pertumbuhan BONSASEMAWA (Bontang – Samarinda – Sebulu – Muara Wahau). Hal ini semakin diperkuat dengan posisi Kabupaten Kutai Timur yang menghadap ke arah Selat Makassar, yang merupakan jalur pelayaran nasional, regional dan internasional (Bappeda, 2007).

  1. SEJARAH DAN PEMUKIMAN AWAL DI KAWASAN KARST SANGKULIRANG-MANGKALIHAT

Perlu diurai juga tentang sejarah pemukiman di kawasan ini. Hal ini akan memberikan gambaran umum tetang kelompok -kelompok masyarakat yang ada di daerah ini. Perhatian kita terhadap kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat berada di atas dua kabupaten, yaitu Kutai Timur dan Berau dengan luas sekitar 100.000 km2. Dewasa ini tidak dite­mukan pemukiman penduduk, dalam arti desa atau kampung. Menurut penelusuran Pindi Setiawan (2004) menyebutkan bahwa dahulu terdapat sedikitnya tiga kampung di daerah ini, yaitu Muara Maau (mungkin dihuni oleh Dayak Punan atau Kutai) di sungai Maau, cabang sun­gai Bengalon), Tintang (dihuni oleh Dayak Basap) di hulu sungai Mepulu (terletak di kaki gunung Mepulu atau Merapun), dan Tabalar Ulu (dihuni oleh Melayu Berau) di hulu sungai Tabalar di kaki gunung Suwatan.

Maau sudah sejak lama ditinggalkan pen­duduknya, konon menurut hikayat mereka hijrah ke Te­pian Langsat (selatan) sejak jaman penjajahan. Menurut keterangan penduduk, kampung itu dulunya merupakan pusat pengumpulan hasil hutan, dan dijual ke orang-orang Cina dan Belanda (kolonial) atau Kutai Kertane­gara di Sepaso (muara sungai Bengalon).

Namun, menurut cerita persaingan hasil hutan dengan daerah Wahau (utara), menyebabkan peperan­gan. Tampaknya kemudian penduduk Muara Maau pindah ke arah hilir (kampung Tepian Langsat). Di wilayah bekas pemukiman ini ditemukan sisa-sisa kuburan Is­lam. Orang-orang ini memang telah lama masuk islam, seiring dengan mekarnya pengaruh kesultanan Kutai Kertanegara. Versi lainnya, Muara Maau merupakan wilayah orang Dayak Basap yang kemudian melakukan perjanjian politik dan ekonomi dengan Kutai Kertanegara.

Perjanjian itu ditandai dengan pembagian wilayah antara wilayah Maau dengan Kutai. Batas wilayah itu ada di daerah yang bernama Batu Aji (Aji adalah gelar bangsawan Kutai). Mereka saling menghormati wilayah­nya, namun hasil hutan harus dijual ke orang Kutai. Ketika kemudian Kutai berseteru dengan Kolonial, perdagangan pun menjadi tidak lancar. Akibatnya orang -orang Muara Maau sebagai masyarakat peramu men­jadi kehilangan mata-pencaharian, dan akhirnya kam­pung itu ditinggalkan.

Pada kasus Bengalon karena penolakan warga Sepaso memberikan tanahnya untuk jalan, maka jalan transnya (Sangata-Sangkulirang) dibuat di luar pemuki­man lama Sepaso. Hal ini menyebabkan terhambatnya perkembangan Sepaso. Dibuatnya jalan tembus baru (2001) dari Sepaso ke jalur trans membuat Sepaso menjadi bergairah kembali. Pembangunan jalan bagai­manapun dapat berakibat positif bila tepat-sasaran, memperhitungkan aksesibilitas pemukiman lama dan memperhitungkan kegiatan ekonomi sekarang dan masa depan. Namun bila tidak tepat, maka jalan yang dibangun justru akan mematikan pemukiman karena jalur ekonominya malah menjadi lebih mahal dan jauh. (Lihat pula kasus-kasus di Melak, dampak jalan raya terhadap pemukiman lama).

Bagi sebagian besar penduduk lokal di Sangkulirang kegiatan mengumpulkan hasil hutan mempunyai ma­salah yang sama, yaitu semuanya harus diambil dari hutan yang jauh dari pemukiman. Khususnya untuk gua -gua walet, hampir semuanya jauh dari pusat pemuki­man. Dari 160 gua-walet yang diketahui ‘umum’, dan sekitar 80 gua-walet yang ‘rahasia’ di kawasan Sangku­lirang, maka hanya 30 gua yang berada di ‘sekitar’ pe­mukiman. Ketika jalan-jalan HPH masuk menusuk ke jantung hutan (di Sangkulirang pertama dimulai pada Tahun 1970 oleh perusahaan gabungan Inggris dengan Angkatan Laut Indonesia), tampaknya membawa pe­rubahan yang besar dalam jaringan perdagangan hasil hutan di daerah ini.  Jalan-jalan yang dibuat HPH mem­buat daerah hutan primer yang jauh menjadi ‘sebentar’ pencapaiannya, misalnya gunung Batu Raya dulu hanya bisa dicapai dengan 3 hari 2 malam menembus hutan, Tahun 1999 dapat dicapai dengan 4 jam naik truk

Jalan logging memang membantu pencari sarang burung, namun sekaligus mempercepat penu­runan  habitat wallet serta koloni wallet. Habitat rusak karena pohon besar banyak ditebang, koloni menurun drastic karena pola pane yang tidak menunggu anak walet terbang. Pemilik gua wallet pun bergeser, tidak lagi penduduk asli yang sudah lama tinggal disana, namun juga para pendatang baru yang umumnya bekerja kayu.

Dari data yang diperoleh, orang luar yang pertama kali masuk mengganti ‘peran’ dayak Punan, Modang, Basap dan Iban sebagai pemilik gua-walet adalah para pegawai HPH yang membeli gua walet (1980-an). Dan sejak itu pula, makin banyak pendatang baru (Bugis, Banjar, Timor, Jawa, Sunda) yang membeli gua walet. Dampak terbesar adalah menghilangnya fungsi kelompok peramu dan pedagang orang asli se­bagai stakeholder, dan praktis perdagangan sarang walet dimonopoli oleh paktar.  Dewasa ini juga makin marak perompak sarang burung, hal ini menurut hemat saya, salah satu akibat dari jalur perdagangan yang dimonopoli oleh paktar.

Dalam masyarakt Kutim terdapat beberapa legenda yang berkaitan dengan nama-nama tempat seperti Tondoyan, dan cerita rakyat tentang seorang perempuan berambut panjang pen­ghuni gua Tintang (wilayah Merabu, gunungan Merepun yang mempunyai danau Tebo), yang menjaga mata air Mepulu. (gua Tintang adalah gua tempat sungai Mepulu mengalir keluar). Perempuan itu tidak mengganggu, namun mengawasi kegiatan orang-orang di sekitar gua.  Baik pada cerita Tondoyan maupun Tintang, perempuan ditempatkan sebagai penjaga keharmoni­san rumah tangga. Pembagian tugas ini memang tam­pak di masyarakat yang berasal dari desa-desa ‘tua’ seperti Sepaso, Lémbak, Tepian Langsat, Muara Bulan, Perondongan. Perempuan dalam kehidupan orang Dayak Basap dan orang Kutai Sangkulirang dianggap sebagai simbol penjaga yang berhasil dalam mengelola kebutuhan rumah tangga.

Warisan dari  HPH yang sudah tidak aktif di kawasan ini meliputi wilayah yang sangat luas, dan bila dibiarkan akan menjadi potensi kebakaran di musim kering. Lahan ex logging ini berupa alang-alang, semak-semak. Perlu dilakukan upaya penghijauan tanaman endemik Kalimantan Timur. Pemanenan sarang walet di sekitar gua-gua yang memiliki situs sejarah. Pemanenannya tidak men­jadi masalah langsung, namun keinginan penduduk lokal untuk memasuki gua bergambar menjadi lebih tinggi.

Potensi Pengembangan pemukiman pada masa yang akan datang akibat terbukanya akses ter­hadap kawasan. Sebagian kawasan termasuk hutan poduksi yang saat ini dibebani Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), yaitu: PT Sumalindo. Di daerah perbatasan ekosistem Karst  merupakan areal perambangan batu bara .

Namun pembangunan jalan yang dibangun Ta­hun 2000 yang lalu, membawa akibat posistif bagi perkembangan kedua pemukiman tersebut. Dewasa ini kedua pemukiman itu kembali bergairah, karena jalan yang dibangun membuat transportasi murah dan cepat. Barang-barang kebutuhan menjadi sama ‘murah’nya, truk atau kijang bisa masuk ke desa mempermudah distribusi barang-barang.

Demikian pula untuk Perondongan yang sejak lama sudah ‘padat’ penduduknya, menurut hemat kami setelah dibangunnya jalan trans-timur (Talisayan, ­Perondongan-Bengalon) tiga Tahun yang lalu dan jem­batan untuk kijang membuat pemukiman ini berkem­bang lebih pesat dari sebelumnya. Kawasan Talisayan, Batu Putih dan Biduk-biduk juga menjadi bergairah karena jalan-trans timur yang baik.

Jalur trans-barat Sangata-Wahau-Berau sudah lama menghidupkan Ambur Batu, Muara Wahau, Miau-Baru dan Merepun. Khususnya untuk Ambur Batu, jalan trans barat ini membawa pengaruh yang sangat jelas bagi Ambur Batu yang persis berada di tengah-tengah antara Samarinda-Tanjung Redep. Lagi pula Ambur Batu selain berada di pinggir jalan trans barat, juga berada di tepian sungai Bengalon. Peningkatan kualitas jalan yang dilakukan empat Tahun yang lalu (1998), membuat Ambur Batu menjadi pemukiman baru yang tumbuh pesat. Ambur Batu menjadi transit bagi orang-orang yang berpergian antara Samarinda-Tanjung Re­dep dan sekaligus tempat menurunkan hasil hutan dari pehuluan sungai Bengalon. Ambur Batu sekarang su­dah dihuni lebih dari 80 orang dan 10 warung makan, Perputaran uang mencapai 50-100 juta per bulan, karena selain transaksi warung makanan-minuman, juga ada transaksi kayu blambangan (local-logging), dan penyewaan angkutan umum.

Berkembangnya Ambur Batu juga membuat jalur ke lokasi Gua bergambar­ prasejarah menjadi lebih cepat dan murah. Dulu untuk mencapai lokasi gua prasejarah ini harus dari Sepaso.  Panjang perjalanan 18 jam atau berjalan 2 hari 1 malam. Sekarang dengan hidupnya jalur trans barat, per­jalanan menjadi hanya 5 jam saja. Di masa depan, apabila ingin dikembangkan daerah Ambur Batu, maka lokasi ini dapat menjadi pusat kegiatan perdagangan hasil hutan dan pusat pariwisata ekoturis Kutai Timur.

  1. DISTRIBUSI TAPAK KUTAI PURBA

Kalimantan merupakan pulau terbesar yang ada di wilayah negara kepulauan Indonesia. Dengan luas yang hampir meliputi 5 kali luas Pulau Jawa, Kalimantan merupakan suatu wilayah yang mempunyai potensi besar dalam mengungkap misteri sejarah yang pernah terjadi di masa lampau, terutama berkaitan dengan tinggalan gua-gua hunian pada masa prasejarah yang secara alamiah masih terlindungi di dalam hutan lebat pada daerah-daerah pegunungan kapur.

Situs prasejarah yang serupa seperti adalah Gua Niah yang ditemukan di bagian utara Kalimantan yang menjadi wilayah negara bagian Serawak; sementara beberapa situs gua prasejarah lainnya ditemukan di negara bagian Sabah yang terletak di Taman Nasional Gunung Mulu; sedangkan di Kalimantan Barat berhasil didata sejumlah gua-gua hunian prasejarah, yaitu antara lain Situs Batu Cap, Gua Tengkayu, Gua Batu Bakil, dan Batu Kadok. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Banjarmasin juga telah banyak diketahui bahwa di wilayah Kalimantan Selatan terdapat beberapa situs gua prasejarah yang sangat potensial, diantaranya adalah Gua Babi dan Gua Tengkorak (Sugiyanto, 2005).

Hasil penelitian (eksplorasi) yang dilakukan oleh Credo-CNRS, Maison Asie Pacifique, Marseille France dan kerjasama Puslit Arkenas (Pusarnas) di Kalimantan Timur  (2003-2004) berhasil mengungkapkan berbagai jejak gua-gua hunian prasejarah yang terdapat di daerah Pegunungan Kapur Tanjung Mangkalihat dan gua-gua di Pegunungan Sangkulirang (Marang). Pada umumnya temuan gua-gua hunian prasejarah di wilayah ini (Kutai Timur) mempunyai jejak-jejak tinggalan budaya berupa lukisan/gambar di bagian dindingnya.

Persebaran seni cadas (rock-art) – untuk menyebut budaya lukisan dinding, goresan atau pahatan di dinding gua, ceruk atau tebing – di Indonesia meliputi antara lain Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua Barat. Seni cadas yang terdapat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara merupakan situs-situs arkeologi yang paling banyak diminati oleh para ahli/peneliti dalam dan luar negeri. Pertanggalan mutakhir yang dirilis oleh tim Australian dan Indonesia (2014) bahwa ditemukan data umur tertua dari pengambilan sampel di gua-gua Maros pada angka 40.000 tahun sebelum masehi. Sementara Roder yang meneliti di wilayah Papua Barat, menjelaskan bahwa lukisan dinding di Papua mempunyai umur sekitar 1.000 tahun yang lalu (Röder 1959). Seni gambar cadas pada gua-gua di semenanjung pegunungan karst Mangkalihat – Sangkulirang di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur mempunyai umur sekitar 11.750 ± 50 –  5.160 ± 90 tahun lalu sampai dengan 9.800 –  10.400 tahun lalu (Chazine & Fage, 2001).

Dari berbagai data temuan arkeologis tersebut menunjukkan bahwa ternyata Pulau Kalimatan tidak hanya kaya dengan sumberdaya alam dan tambangnya, tetapi juga kaya akan sumberdaya arkeologi berupa situs-situs gua hunian prasejarah yang mempunyai gambar cadas purba didalamnya. Peninggalan imaji-imaji purba yang terdapat di pegunungan karst Marang, Kecamatan Bengalon dan pegunungan karst di sekitar Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur merupakan data penting bagi perkembangan penelitian arkeologi di Indonesia, terutama dalam kaitannya  mengungkap sejarah kehidupan masa lalu di wilayah ini.

Awal penemuan garca purba di Kutai Timur bermula dari ekspedisi yang dilakukan di daerah hulu sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Kemudian kegiatan penelitian itu dipindahkan ke arah timur, yaitu di daerah Kalimantan Timur. Di pegunungan karst di sekitar Desa Pengadan tim ini kembali menemukan beberapa gua bergambar yang cukup potensial (diantaranya Gua Mardua). Selain itu tim juga berhasil menemukan gua-gua bergambar lainnya di pegunungan karst Marang, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sampai saat ini sudah tercatat sekitar 30 gua bergambar yang berhasil ditemukan di kedua pegunungan karst tersebut, dengan jenis gambar dan lokasi serta ketinggian yang bervariasi (Setiawan, 2002).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian arkeologi yang dilakukan di daerah Pegunungan Karst Mangkalihat dan Sangkulirang tersebut, maka beberapa diantaranya dapat kemukakan secara deskriptif yaitu meliputi:

  1. Gua Mardua

Gua Mardua merupakan gua tebing yang terletak pada dinding perbukitan karst (Gunung batu) dengan ketinggian sekitar 50 meter dari permukaan tanah atau 130 meter dari permukaan laut (dpal). Untuk mencapai gua tersebut harus mendaki jalan setapak yang cukup terjal (sekitar 80º) dan menembus hutan semak-belukar. Secara morfologis, Gua Mardua mempunyai bentuk memanjang dengan ukuran lebar halaman 3 meter dan panjang sekitar 42 meter serta mempunyai 2 lorong ke arah dalam.

Jejak tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Mardua berupa gambar-gambar telapak tangan berwarna merah (9 buah), gambar pohon (?) berwarna merah (1 buah), gambar-gambar hewan (hewan melata dan laba-laba) berwarna merah 4 buah. Seluruh gambar-gambar berwarna merah (dibuat dari bahan pewarna hematit) ini terletak di dinding pintu gua; berjajar dari utara – selatan (menghadap ke timur) dengan tinggi antara 4 – 5 meter dari lantai gua. Selain itu, di gua ini juga ditemukan sekitar 20 jenis gambar perahu (Austronesia ?) dan perahu uap dengan warna hitam (dari bahan arang) yang dilukis hanya setinggi manusia, sehingga sudah banyak yang tertimpa coretan baru dari para pengunjung.

  1. Ceruk Lungun

Lokasi Ceruk Lungun terletak sekitar 5 km dari Desa Pengadan dan masuk ke arah baratlaut sekitar 2 km. Gua Lungun merupakan gua payung (rockshelter) yang terletak pada dinding perbukitan karst  dengan ketinggian sekitar 40 meter dari permukaan tanah atau 130 meter dari permukaan laut (dpal).

Jejak tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Lungun berupa peti kubur yang terbuat dari kayu ulin. Di situs ini ditemukan 4 buah Lungun yang sudah dalam kondisi rusak dan berantakan. Lungun atau peti kubur ini terdiri dari wadah dan tutup. Wadah tersebut dibuat dari batang gelondongan kayu utuk yang dilubangi di bagian tengahnya sehingga membentuk segiempat. Lungun mempunyai ukuran rata-rata panjang 237 cm, lebar 20 cm dan tebal 2 cm; sedangkan tutupnya mempunyai ukuran panjang 325 cm, lebar 36 cm dan tinggi 20 cm. Pada masing-masing sudutnya, tutup Lungun tersebut mempunyai hiasan berbentuk tonjolan menyerupai tanduk kerbau. Lungun-Lungun tersebut ditopang oleh 2 tiang kayu dengan ukuran tinggi antara 120 – 150 cm dan diameter 20 cm. Salah satu tiang kayu penyangga lungun tersebut mempunyai hiasan menarik; yaitu berupa dua buah tonjolan payudara wanita. Tanda tiang semacam ini mencerminkan bahwa lungun tersebut merupakan penguburan dari seorang wanita (Prasetyo, dkk, 1995). Selain itu, dari penelitian yang dilakukan oleh Balar Banjarmasin di gua ini juga berhasil mendapatkan sejumlah temuan yang dikumpulkan melalui pembuatan sebuah lubang uji (test-pit), yaitu antara lain berupa fragmen gerabah, fragmen tulang binatang, fragmen cangkang kerang, dan beberapa artefak litik (Nasruddin, 2003).

  1. KOMPLEKS GUA BATU KAMBING

Situs Batu Kambing merupakan bagian dari gunung Tutungambo yang merupakan gunung terbesar di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. Goa Kambing merupakan goa fosil terbesar di kawasan ini, goa ini merupakan goa tembus bercabang dua. Lorong terpanjang 4 km ke arah selatan, keseluruhan panjang lorong yang telah dipetakan 6 kilometer. Muara utamanya setinggi 50 meter dengan lebar 200 meter, ruang goa terbesar mempunyai tinggi 120 meter.

Di kompleks ini setidaknya terdapat 4 situs yang mempunyai gambar dan 1 ceruk yang dicurigai merupakan hunian di kompleks Batu Kambing. Keempat situs tersebut adalah goa Payau, mulut besar Goa Kambing, mulut Anak-Kambing dan goa Liang Sara. Yang dicurigai merupakan hunian prasejarah adalah ceruk Liang Lombok. Berdasar cerita lokal, ceruk ini dulunya merupakan tempat upacara ngayau, atau tempat menari orang Dayak-Basap bila panennya berhasil.

  1. GUA PAYAU

Pada situs gua ini ditemukan beberapa imaji hematit. Imaji yang unik adalah adanya tera positif berbentuk daun singkong, daun pakis, dan daun waru. Pada dinding gua ditemukan pula gambar babi, dan tera tangan besar, sedang dan kecil (mungkin pria, wanita dan anak kecil). Sayangnya gambar cadas ini sudah sangat rusak dan tipis, sehingga sulit sekali didokumentasikan.

  1. GUA KAMBING : MUARA BESAR

Di muara besar Gua Kambing (sisi sebelah selatan) ditemukan gambar-gambar di dinding gua yang menyerupai imaji titik-titik dan imaji seperti babi, sayangnya sudah sangat rusak. Tampaknya hal ini disebabkan karena kondisi di tempat ini terlalu lembab, sehingga gambar banyak yang berlumut dan dinding karst sudah banyak mengelupas. Sementara itu ditemukan pula jejak agambar purba di salah satu ceruk dekat mulut gua Kambing, yaitu adanya gambar tera-tangan di plafonnya, namun karena plafonnya sudah sering terkena jelaga arang, sehingga sulit sekali diidentifikasi. Hanya sisa-sisa jari saja, yang terlihat.

  1. GUA LIANG SARA

Gua Liang Sara’ mempunyai 3 teras, masing-masing teras mempunyai mulut gua dan yang terbesar gua yang paling atas. Gua ini mempunyai mitos berhantu karena dulunya pernah menjadi tempat pembantaian orang-orang Dayak yang kalah perang, tengkoraknya tersisa 6 buah. Di ruang ini ditemukan gambar-cadas. Gambar itu berada di mulut goa yang menghadap barat-laut. Gambar cadas terletak pada dua ruang kecil : satu ruang (t=2,5 m) di mulut gua barat-laut, dan satu ceruk kecil ( t=50 cm) di atas ruang pertama. Di dinding utaranya terlukis sebuah ‘cerita’ perburuan dengan imaji manusia, busur, anak-panah dan ada imaji rusa yang tertancap anak panah. Pada mulut gua ini juga ditemukan imaji rusa-bertanduk pada plafon, yang digambar cukup besar.

Pada mulut goa ketiga (156 m dpl) terdapat gambar arang berupa perahu layar, ikan, sosok khas dayak yang sedang membawa senjata, antropomorfik bercorak di adannya(ditemukan juga di goa Mardua) dan sebuah pohon mirip kalpataru.

  1. GUA TEWET

Gua ini terletak di kawasan lereng pegunungan karst yang terdapat di tepian Sungai Jelai, berada pada ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan sungai. Gua Tewet ini menghadap ke arah barat dengan kondisi langit-langit gua yang tidak terlalu tinggi. Pada langit-langit gu terdapat gambar berupa: cap tangan dengan beberapa variasi tatonya, rusa, kura-kura dan sejenis insekta, serta lukisan tentang manusia duduk bersila di atas air yang diapit oleh gambar 2 (dua) cap tangan (negative hand stencils). Semua gambar cap tangan dibuat dengan teknik stensil dan menggunakan warna merah, sedang gambar binatang dan manusia menggunakan warna hitam. Jumlah cap tangan di Gua Tewet ini ada sekitar 179 buah (Nasruddin, 2003).

  1. GUA JON

Gua Jon ini merupakan sebuah liang atau ceruk peneduh (rock shelter) yang terletak di bagian hulu Sungai Metam, Ekskavasi pada Gua Jon ini dilakukan dengan 2 tahap, yaitu tahap I pada tahun 2003 dan tahap II pada tahun 2005. Jejak tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Jon antara lain berupa rangka manusia dan ratusan alat litik dengan berbagai tipe, fragmen tulang-tulang binatang dan sejumlah fragmen tembikar/gerabah.

  1. GUA TENGKORAK

Dari hasil penelitian melalui pembuatan 3 (tiga) buah kotak lubang uji pada tahun 2003 membuktikan bahwa gua ini mempunyai indikator sebagai tempat hunian manusia pada masa lalu. Bukti-bukti temuan tersebut antara lain berupa beberapa artefak litik, fragmen tembikar (gerabah), beberapa gigi manusia, tulang-tulang binatang, kerang dan arang (abu bekas pembakaran) yang didapatkan pada kedalaman sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Bukti temuan sisa-sisa kehidupan manusia serta adanya garca di Gua Tengkorak menunjukkan bahwa gua tersebut pernah menjadi tempat bermukim manusia pada masa yang lalu. Dari sisa-sisa sampah makanan seperti tulang hewan, dan tumpukan moluska menggambarkan pola makan kelompok pemburu-peramu. Goa ini juga dihuni atau menjadi tempat kubur manusia pasca prasejarah.

Selain itu, jejak tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Tengkorak berupa lukisan cap tangan yang terdapat di dinding dan langit-langit gua. Kondisi imaji-imaji di goa Tengkorak pada umumnya berupa tera-tangan yang sudah sangat tipis dan rusak.

  1. GUA KEBOBO

Situs Gua Keboboh merupakan salah satu kompleks gua-gua dan ceruk alam yang ada di deretan Pegunungan Marang di Desa Tepian langsat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Di kompleks ini sedikitnya telah ditemukan 2 buah gua yang mengandung indikator arkeologis (Gua Kebobo-1 dan Kebobo-2), sedangkan 1 gua lainnya (Gua Kebobo-3) sudah dimanfaatkan sebagai lokasi ternak sarang burung walet. Lokasi Gua Kebobo-1 terletak pada dinding perbukitan Marang dengan kemiringan hampir 80º dan berada pada ketinggian antara 30 – 40 meter dari permukaan air Sungai Marang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Situs Gua Kebobo-1 dan Kebobo-2 pada tahun 2004, membuktikan bahwa kedua gua ini pernah dipakai sebagai hunian dan aktivitas manusia pada masa lalu (prasejarah). Melalui pembuatan 4 buah kotak lubang uji (test-pit) dengan kedalaman rata-rata hampir 1 meter yang dilakukan dalam penelitian tersebut telah didapatkan berbagai temuan yang sangat melimpah di situs ini. Jejak tinggalan arkeologis tersebut antara lain berupa fragmen tembikar (hias dan polos), fragmen tulang dan gigi manusia/hewan, manik-manik dan perhiasan kerang, alat serpih-bilah (dari batu api), hematit, fragmen cangkang kerang, fragmen buah/biji damar, dan sisa-sisa bekas pembakaran (arang dan tanah terbakar) (Puslit Arkenas, 2004).

  1. GUA BATU AJI

Gua Batu Aji merupakan salah satu lokasi dari situs gua-gua dan ceruk alam yang terdapat di Pegunungan Marang di Desa Tepian langsat, Kecamatan bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Hasil pengamatan yang pernah dilakukan memperlihatkan indikator temuan yang cukup banyak berupa fragmen tembikar (gerabah), serpih-serpih litik (dari batu api), cangkang kerang, fragmen tulang-tulang fauna dan jejak-jejak bekas pembakaran (arang dan tanah terbakar).

Selain temuan-temuan tersebut, dalam ekskavasi berhasil menemukan sisa-sisa penguburan berupa 3 buah rangka manusia. Temuan rangka manusia yang didapatkan dalam penggalian di situs ini merupakan data yang sangat penting untuk mengungkap kehidupan masa lalu, terutama berkaitan dengan manusia pendukung budaya di gua ini.

  1. GUA MASRI

Gua Masri merupakan satu-satunya gua di kawasan ini yang mengandung lukisan berupa tera-tangan. Imaji tera tangan di gua ini sudah sangat tipis. Pada gua yang kecil sedikitnya terdapat sekitar 60 cap-tangan. Tera tangan tersusun dalam suatu komposisi yang unik. Semua tera-tangan negatif dan polos, tidak ditemukan corak-corak di dalam tera-tangannya. Gua Masri I (gua yang kecil) dan II (gua yang besar) hanya ditera oleh tera-tangan negatif, tidak ada imaji lain. Dari semua situs, hanya Gua Masri yang digambari tera-tangan saja, sedang situs-situs lain mempunyai bermacam imaji.

  1. GUA SALEH

Gua Saléh merupakan gua yang besar  dengan temuan garca tersebar di seluruh ruang dan di juga di bagian lorong-lorongnya. Di halaman depan gua ditemukan gambar ’track’ perburuan dan tera tangan. Tera-tangan ini disusun sedemikian rupa menjadi mirip bunga, berwarna coklat tua. Tera tangan ditemukan dalam kondisi yang sangat baik, karena tidak terkena sinar matahari langsung. Pada plafon yang rendah ada sekawanan banteng. Imaji banteng ini hanya ditemukan di Gua Saléh, di tempat lain belum pernah ditemukan. Selain tera-tangan dan banteng, rusa merupakan imaji yang banyak digambar di goa ini. Rusa digambar di hampir semua dinding gua, mulai dari depan mulut gua sampai lorong-lorong di bagian timur. Di plafon balkon ruang utama dan di dinding atas ruang barat, selain tera tangan ditemukan juga antropomorfik dan ikan.

  1. GUA HAM

Gua Ham awalnya bernama Gua Terusan dan kemudian diganti menjadi Gua Ham untuk menghormati pak Ham (pemandu lokal) yang menemukan gua ini. Gua Ham mempunyai halaman lebih luas dari Gua Saléh. Kondisi ruang gua datar dan kering. Gua Ham seperti halnya Gua Saléh, dindingnya dipenuhi oleh gambar-gambar cap tera-tangan. Tera tangan di Gua Ham berjumlah lebih dari 370, yang dewasa umumnya diberi corak atau dipergayakan. Tera-tangan tersebut ada yang dibubuhi fauna dan sosok manusia (saman). Ada pula tera-tangan dewasa yang menampilkan hanya 2 jari saja, namun tampakya hal ini bukan mutilasi. Tera-tangan anak digambar polos dan mempunyai tempat khusus di ruang paling utara. Yang menarik dari goa ini adalah tidak ditemukan imaji fauna, kecuali trenggiling dan ikan. Trenggiling adalah jenis binatang yang masih hidup di seluruh Kalimantan sampai saat ini.

  1. GUA LIANG KARIM

Gambar-gambar yang terdapat di Liang Karim mengandung imaji yang sangat istimewa, yaitu berupa gambar sarang lebah dan tapir. Sarang lebah sangat umum digambar pada cadas-cadas di dunia, hal ini menggambarkan mata-pencaharian meramu hasil hutan. Di Indonesia imaji sarang lebah hanya ditemukan di situs Liang Karim. Imaji sarang lebah dan tapir digambarkan cukup besar, memenuhi seluruh ruang gambarnya yang terletak 2,5 meter di atas lantai ceruk. Binatang Tapir (Tapirus indicus) sudah punah pada sekitar 6.000 tahun lalu di Kalimantan, sehingga gambar-gambar yang terdapat di gua ini merupakan bukti bahwa pernah ada tapir di kawasan ini.

  1. GUA THAMRIN

Gambar-gambar cadas yang terdapat di dalam gua ini umumnya sudah rusak dan pudar karena diterpa langsung oleh sinar matahari. Imajinya sangat tipis dan sulit dilihat langsung karena dilukis 5 meter di atas lantai goa. Yang terlukis pada dinding atas adalah imaji-imaji tarian saman, sosok saman dan geometri. Imaji saman ini mirip dengan yang di Liang Karim dan goa Ham. Imaji rusa digambar bergaris-garis dan bertanduk, disekitarnya ada imaji tarian-tarian saman. Gua Tamrin tampaknya dipakai untuk keperluan upacara saman. Pada bagian lantai gua terdapat batu yang ditoreh menjadi bentuk alur-alur yang memanjang. Batu ini bukan untuk menajamkan, karena bila suatu benda di’asah’ pada alur alur malah menjadi tumpul. Torehan-torehan ini biasa dilakukan pada goa-goa yang dianggap sakral.

  1. GUA KURANG TAHU

Gua Kurang Tahu berada di puncak menara karst, dan di bagian bawahnya terdapat kolam karst yang berair sepanjang tahun. Kolam ini menjadi sumber air minum bagi para penjaga gua sarang walet yang terletak 20 menit ke timur dari kaki menara Kurang Tahu.

Jejak tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Kurang Tahu berupa lukisan dinding yang antara lain berupa 3 tera-tangan dan sosok antropomorfik. Tera-tangan yang masih dalam keadaan baik hanya 1 buah dan imaji antropomorfik catnya sudah banyak mengelupas.

  1. GUA JUPRI

Gua Jupri ditemukan tahun 2002. Goa ini berada di tepian tegalan karst puncak Batu Gergaji. Tegalan ini di musim kemarau hanya berupa kolam karst, namun di musim hujan bisa membanjiri seluruh tegalan. Bila sungai banjir, maka tegalan yang berada di kaki barat Batu-Gergaji pun ikut banjir. Nama aslinya adalah Gua Gala, namun diganti menjadi Jupri (nama pemandu lokal). Jejak tinggalan arkeologis yang terdapat di Gua Jupri berupa lukisan dinding gambar rusa yang mirip dengan lukisan di Gua Tamrin. Walaupun rusa merupakan imaji favorit, digambar pula imaji babi.

  1. SITUS GUA-GUA LAIN

Selain gua-gua yang sudah diuraikan tersebut, di kompleks Batu Gergaji masih terdapat sejumlah gua-gua lainnya, seperti Kompleks Gua Karim, Gua Ujan, dan Gua Pindi. Gua Pindi tampaknya pernah menjadi gua yang penting, karena posisinya langsung menghadap sungai. Lantainya juga tampak rata dan kering, sayangnya dewasa ini lantai goa hampir seluruhnya tertimbun reruntuhan. Gambar yang tersisa hanyalah antropomorfik. Imaji ini hanya terlihat bagian atasnya saja, sedang bagian bawahnya tertutup tanah dan reruntuhan. Gua Pindi merupakan gua paling tinggi yang terletak di Kompleks Gua Keirim.

Gua lain yang terdapat di lokasi ini adalah Gua Ujan (hujan). Di gua ini terdapat gambar lukisan tera tangan yang sudah sangat tipis; demikian juga goa Té’ét. Goa Té’ét setinggi Liang Téwét, dan mempunyai tera-tangan anakanak. Pada dinding Gua Té’ét juga digambarkan sejumlah sosok Dayak memegang mandau dan perisai.

Pada sub Kompleks Gua Tebor terdapat Gua Kebobo (yang kemudian diganti namanya menjadi Gua Akim), Gua Jon, Gua Fosil dan Gua Unak. Gua Fosil adalah satu dari sedikit gua yang menghadap ke utara, dan letaknya persis di ujung Batu Gergaji. Gua ini diberi nama fosil, karena di dindingnya terdapat fosil-fosil cangkang kerang. Gambar yang ada di gua ini adalah gambar arang berupa géko. Sedang pada Gua Unak terdapat banyak pecahan tembikar, terketak di dekat Gua Akim (Kebobo). Di halaman gua ini ditemukan pecahan-pecahan tembikar yang mempunyai 3 warna dalam jumlah yang banyak.

Sub kompleks gua-gua Marang terdapat Gua Mentis, Gua Kayu Sapung, dan Gua Ilas Kecil. Gua-gua ini setingkat dengan Gua Tengkorak. Semua situs gua di lokasi ini mengandung jejak-jejak arkeologis berupa tera-tangan, namun sudah sangat tipis dan pias; sedangkan Gua Mentis adalah goa sarang yang mempunyai imaji tera-tangan di bagian dindingnya. Imaji tera-tangan yang terdapat di Gua Kayu Sapung digambar di dinding yang telah mempunyai batu alur. Gambar-gambar di gua ini umumnya berupa tera-tangan anak-anak. Gua Ilas Kecil merupakan gua yang tinggalan arkeologis berupa pecahan-pecahan tembikar yang sangat melimpah; sebuah temuan tembikar didapatkan dalam keadaan nyaris utuh. Selain itu, di bagian atap/plafon gua ini juga ditemukan 2 buah gambar tera-tangan dewasa.

Sub kompleks Tebo masih menyisakan situs Liang Tebo, Liang Wanadri, dan Liang Sahak yang semuanya mempunyai tera-tangan. Liang Wanadri adalah goa bergambar di dekat goa Jupri yang ditemukan tahun 2006. Liang Tebo adalah liang yang besar, penggalian berhasil menemukan alat gerus untuk hematit. Liang Wanadri merupakan liang kecil, kurang lebih 1 jam jalan dari tegalan karst Gergaji ke arah timur. Liang Wanadri mempunyai sedikitnya 8 tera tangan yang sudah sangat pias, dan sebuah objek yang tak terdefinisi.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa gua dan ceruk di kawasan karst Mangkulirang terbukti pernah digunakan manusia masa lampau sebagai tempat tinggal sementara atau  menetap. Dipilihnya goa sebagai tempat tinggal manusia prasejarah dapat dibuktikan dengan ditemukannya berbagai situs prasejarah melalui bekas telapak tangan atau garca yang tertera pada dinding goa, maupun artefak litik yang terpendam dalam lapisan tanah gua melalui ekskavasi yang sistematis.

Penelitian arkeologi karstik tidak hanya mengungkapkan aspek spasial dan temporal karst, tetapi secara utuh menjelaskan secara kultural maupun fisikal; sinkronik maupun diakronik sebagai kawasan arkeologis. Kawasan karst Mangkulirang yang begitu luas tentunya memerlukan kajian arkeologi karstik agar diperoleh penjelasan sekuen prehistori regional, termasuk informasi tentang subsistensi, teknologi dan lingkungan purba, serta sistem adaptasi yang telah punah. Goa dan ceruk Mangkulirang dapat memberikan kontribusi berharga terhadap pengetahuan sejarah dan proses  budaya prasejarah.

  1. PENGELOLAAN KAWASAN KARST MANGKULIRANG SECARA INTEGRATIF

Dalam rangka inisiasi pengusulan kawasan karst Mangkulirang sebagai warisan cagar budaya dunia, maka diperlukan adanya upaya pengelolaan secara terpadu dan integratif. Seperti diketahui bahwa kawasan karst menyimpan banyak misteri sekaligus potensi yang melimpah dan sebagian lainnya belum dapat diteliti, dikelolah, dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pelestarian. Oleh sebab itu, menurut  Tjahjono Prasodjo salah satu pemerhati lingkungan gunung gamping (karst) dari Universitas Gajah Mada,  mengusulkan perlu adanya tindakan nyata (aksi) berupa dialog dan kerjasama antar disiplin dan antar sektoral bagi pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan karst.  Pesan yang ingin disampaikannya, bahwa perlunya keterpaduan (intergrated) dengan menggunakan pendekatan-pendekatan baru. Bisa memakai pendekatan partisipatoris dengan cara melibatkan seluruh unsur (komponen) dan potensi masyarakat dalam mengelolah dan memanfaatkan sumberdaya budaya dan alam karst itu. Dapat juga menggunakan  gagasan Otto Soemarwoto dengan paradigma Atur-Diri-Sendiri (ADS), yaitu memberikan peran lebih besar pada masyarakat dan meminimalkan peran pengawasan pemerintah terhadap persoalan sumberdaya alam tersebut.

Pendekatan yang sudah lazim digunakan untuk situs-situs arkeologi skala kawasan yaitu melalui pendekatan Culture Resourc Management  (CRM), adalah suatu usaha untuk pengelolaan suatu sumberdaya budaya dalam rangka pemanfaatan dan pelestarian.  Warisan budaya dalam bentuk situs, artefak yang terdapat di dalam kawasan karst bukan semata kepentingan arkeologi ataupun purbakala, tetapi banyak pihak terkait dalam pemanfaatan potensi karst, dengan kepentingan yang berbeda pula (Layto; 1989, dalam Tanudirjo, 1994). Berdasarkan kerangka pikir tersebut, maka CRM harus dipandang sebagai upaya pengelolaan warisan budaya secara bijak dengan mempertimbangkan kepentingan banyak pihak yang saling bertentangan. Sehingga CRM berkiblat sebagai upaya mencari jalan keluar terbaik agar kepentingan berbagai pihak sebanyak mungkin dapat terakomodasi.

Pendekatan lain yang mulai dikembangkan dewasa ini yaitu “Geopark”. Pendekatan ini sifatnya inovatif terhadap daerah yang berkarakteristik seperti yang dimiliki kawasan karst Mangkulirang dengan bentang alam yang luas. Geopark dapat dipahami melalui arti, fungsi dan implementasinya sebagai komponen yang berkaitan dengan bumi. Setidaknya, geopark memiliki tiga pengertian dasar, yaitu:

  1. Geopark adalah kawasan yang memiliki arti sebagai suatu warisan geologi, dan menjadi tempat implementasi strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan yang dilakukan melalui struktur menejemen yang baik dan realistis.
  2. Geopark berimplementasi memberi peluang bagi penciptaan lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat dalam hal memperoleh keuntungan ekonomi secara nyata; biasanya melalui industry pariwisata yang berkelanjutan.
  3. Di dalam kerangka geopark, objek warisan geologi dan pengetahuan geologi berbagi dengan masyarakat umum. Unsur geologi dan bentangalam berhubungan dengan aspek lingkungan alam dan budaya.

Suatu kawasan Geopark merupakan sebuah kawasan yang berisi aneka jenis unsur geologi sebagai warisan alam. Di kawasan itu dapat diimplementasikan dan diaplikasikan aneka strategi pengembangan wilayah, yang dalam hal ini promosinya harus didukung oleh program pemerintah.Sebagai kawasan, geopark harus memiliki batas yang tegas dan nyata. Luas permukaan geopark-pun harus cukup, dalam artian dapat mendukung penerapan kegiatan rencana aksi pengembangannya.

Apapun pilihan pendekatan yang diputuskan untuk pelestarian cagar budaya yang tersimpan dalam kawasan karst seperti Mangkulirang, maka diperlukan koordinasi antar semua pihak. Oleh sebab itu ide dan gagasan ini perlu didukung sepenuhnya untuk ditindak lanjuti dengan memperhatikan hasil-hasil penelitian dan kajian kebudayaan yang pernah dilakukan di Kawasan karst Mangkulirang, Kutai Timur.

DAFTAR PUSTAKA

Anwara Pramono, 2009 Inventarisasi Endapan Batubara Bersistim Di Daerah Marangkayu Dan Sekitarnya Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Pemkab Kutai Kartanegara.

Arifin, Karina. 1999. Penelitian Etnoarkeologi Terhadap Praktek Penguburan Kedua dan Tipe Monumennya di Kayan Mentarang. Dalam Cristina Eghenter dan Bernard Sellato (eds.) Kebudayaan dan Pelestarian Alam: Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. hlm. 437 – 464.

BAPPEDA Kabupaten Kutai Timur, 2007 Laporan Akhir Penyusunan Neraca Sumber Daya Alam Sektor Air dan Pertambangan Kabupaten Kutai Timur, Prop. Kalimantan Timur. BAPPEDA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur

BAPPEDA, 2008 Kutai Timur Dalam Angka. Bappeda – BPS, Kab Kutai Timur, 2008

Chazine, Jean-Michel, 2003. The Use of Caves and Shelters in Island South East Asia : Ethno-archaeological Surveys Program in East Kalimantan (Indonesia Borneo, Draft Project.

Chazine, J.M., Luc-H. Fage and Pindi Setiawan, The Ornate Caves of Kalimantan, Le-Kalimanthrope, Pluridisciplinary research group upon Kalimantan, Tt, belum diterbitkan.

Haeruman, Herman “Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dalam Usaha Peningkatan Kualitas Hidup Jangka Panjang” dalam Manusia dalam Keserasian Lingkungan (editor: Mohamad Soerjani dan Bahrin Samad), Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1983.

Heekeren, H.R. van, Rock – Paintings and other Prehistoric discoveries near Maros (Southwest Celebes),

Hekeeren, H.R. van. 1952. “Rock-paintings and Other Prehisto-ric Discoveries Near Maros (South-west Celebes)”. Laporan Tahunan 1950 Dinas Purbakala RI. Jakarta.

Howell, F. Clark. 1982. Manusia Purba. Pustaka Time-Life. Ed II. Jakarta: Tira Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Kutai

 

Jatmiko, Nasrudin, dan Bambang Sugiyanto, 2004. Eksplorasi Situs Gua dan Ceruk Hunian Prasejarah di Pegunungan Marang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. LPA Bidang Prasejarah : Kerjasama Penelitian Asdep Urusan Arkenas dengan Credo-CNRS, Maison Asie Pacifique, Marseille France, tidak diterbitkan.

Kantor Menteri Negara Lingkung-an Hidup. 1999. Kawasan Karst di Indonesia: Potensi dan Pengelolaan Lingkungan-nya. Jakarta.

Kartasapoetra, K., dan L.J.B. Kreimers. 1987. Sosiologi Umum. Cet.1. Jakarta: Bina Aksara.

Kasnowihardjo, Gunadi, H., Sungai Jelai dan Hunian Purba di Kawasan Tepian Langsat, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Dalam H. Gunadi Kaswihardjo dkk, Sungai Dan Kehidupan Masyarakat Di Kalimantan, IAAI Komda Kalimantan, 2004, hlm. 10

Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor : 1456 K/20/MEM/2000 Tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars.

Kosasih, E.A. 1987. “Lukisan Prasejarah: Bentangan Tema dan Wilayahnya”. DIA II, Estetika dalam Arkeologi Indonesia. Jakarta : Puslitarkenas.

Kosasih 1996. “Gua sebagai Hunian Awal bagi Manusia”. Simposium Nasional II Lingkungan Karst. Jakarta.

Montana, Suwedi. 1996. Penelitian Eksploratif Arkeologi di Provinsi Kalimantan Timur. Laporan Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Banjarmasin, belum terbit.

Mundardjito. 1996a. “Pendekatan Integratif dan Pertisipatif dalam Pelestarian Budaya”,  Jurnal Arkeologi Indonesia, No. 2. Jakarta: IAAI, 123-133.

Mundardjito 1996b. “Benda Cagar Budaya: Pengertian dan Nilai”, dalam Buletin Arkeologi AMOGHAPASA Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar, No. 5/II,

Murjatmo. 1985. “Pengembangan Gua sebagai Objek Wisata”. Simposium Nasional I Lingkungan Karst, Jakarta.

Nasrudin, 2004. Potensi Situs Gua-gua Hunian dan Temuan Tanda Tangan Prasejarah di Kawasan Pegunungan Marang, Kalimantan Timur. LPA Bidang Prasejarah : Kerjasama Penelitian CREDO Asie-Pacifique dengan Asdep Urusan Arkenas Jakarta, 2004, tidak diterbitkan.

Nasrudin, Temuan Tanda Tangan dan Potensi Situs Gua-Gua Hunian di Kawasan Pegunungan Marang, Kalimantan Timur. Kalpataru, Majalah Arkeologi No. 17. Asisten Deputi Urusan Arkeologi Nasional Jakarta, 2004, hlm. 1-16.

Nasution, Muslimin. 1999. Pendataan dan Pemanfaatan Kawasan Karst dan Gua di Indonesia”. Lokakarya Penyusunan Konsep Nasional Pendayagunaan Kawasan Karst Indonesia. Jakarta.

Nitihaminoto, Gunadi dan B. S. W. Atmojo. 1999. Survei Eksploratif DAS Barito Tahap I, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Laporan Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Banjarmasin, belum terbit.

Otto Soemarwoto. 2001. Atur-Diri-Sendiri. Paradigma Baru dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Poloma, Margaret M. 1994. Sosiologi Kontemporer. Cet. 4. Jakarta: Rajawali Pers.

Prasetyo, Bagyo, 1997. Gambar Cadas di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur: Indikasi Sebaran di Kawasan Indonesia Bagian Barat, dalam Naditira Widya No. 02/1997, Buletin Arkeologi Balai Arkeologi Banjarmasin.. Hlm. 44-51.

Prasetyo, Bagyo & E.A. Kosasih, 1995. Survei Gua-Gua di Pegunungan Muller, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai, Provinsi Kalimantan Timur. LPA Balar Banjarmasin, tidak diterbitkan.

Prasodjo, Tjahjono 2000. “Pendekatan Partisipatoris dalam Pengelolaan Sumberdaya Arkeologis dan Kemungkinan Penerapannya di Kawasan Arkeologis Gunungkidul”, Berkala Arkeologi. Tahun XX, No. 1/Mei, Balai Arkeologi, Yogyakarta.

Prasodjo, Tjahjono. 2002. Gua, “Candi, dan Resan: Belajar dari Kasus-Kasus yang Terjadi pada Sumberdaya Arkeologis di Gunungkidul”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) IX. 23-28 Juli 2002, Kediri Jawa Timur.

Rangkuti, Nurhadi. 1998/1999. “Arkeologi Terapan dan Masa Depannya di Indonesia”. PIA VII. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta.

Said, Andi Muhammad., 2000. Pemintakatan Arkeologi: Suatu Upaya Pelestarian Gua Prasejarah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Tesis S2, Jakarta Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Samodra, Hanang. 2001. “Nilai Strategis Kawasan Kars di Indonesia Pengelolaan dan Perlindungannya”. Publikasi Khusus No. 25, Juni 2001. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Dep. Energi dan Sumberdaya Mineral.

Setiawan, Pindi. 1999. “Gua-Gua Pra-sejarah di Indonesia dan Kendala Pelestariannya”. Lokakarya Konsep Nasional Pendayagunaan Kawasan Karst di Indonesia. Jakarta.

Setiawan Pindi (penyunting), 2008 Karst Kutai Timur: Potensi Pusaka Alam dan Pusaka Budaya Kawasan Karst Kabupaten Kutai Timur. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur.

Soejono, R.P. (eds). 1994. Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Soemarwoto, Otto. 1985. “Aspek Ekologi Kawasan Karst”. Simposium Nasional I Lingkungan Karst. Jakarta.

Srijono, Ir. SU. 2000. “Ekosistem Kars Sebagai Sumberdaya Kebumian dan Sumberdaya Nasional”. Pidato Pengukuhan Jabatan Lektor Kepala Madya dalam Bidang Geologi. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sudarsono. 1999. “Kawasan Karst sebagai Objek Pariwisata”. Lokakarya Konsep Nasional Pendayagunaan Kawasan Karst Indonesia, Jakarta.

Sugiyanto, Bambang. 2004. Penelitian Gua-gua Prasejarah di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Berita Penelitian Arkeologi No. 14. Balai Arkeologi Banjarmasin.

Sugiyanto, Bambang, 2005Pegunungan Marang dan Pegunungan Berondongan :Potensi Gua Prasejarah Di Wilayah Kalimantan Timur. Makalah dalam PIA-VIII di Yogyakarta. Yogyakarta.

 

Sugiyanto, Bambang 2005. Strategi pengelolaan Gua-Gua Budaya di Kalimantan Selatan. Makalah dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi XXIII. Banjarbaru. Belum terbit.

Sugiyanto, Bambang 2008. Gua-Gua Prasejarah di Haruai dan Muarauya. Berita Penelitian Arkeologi Vol. 2 No. 1/ September. Balai Arkeologi Banjarmasin. hlm. 1 – 20

.

Sumaatmadja R. Eddy 2005 Survey Pendahuluan Batubara Daerah Longiram Dan Mentawir Kabupaten Kutai Barat Dan Paser Penajam Utara Provinsi Kalimantan Timur. Pemaparan Hasil Kegiatan Lapangan Subdit Batubara – 2005.

Sutanto A., 2008 Geologi Dan Studi Fasies Batugamping Gunung Sekerat Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Thesis ITB, Bandung

Surakhmad, Winarno. 1994. Manajemen Konflik (Konflik Perubahan dan Pengembangan).  Cet. 1. Bandung: CV  Mandar Maju.

Tanudirjo, Daud Aris. 1998. “CRM sebagai Manajemen Konflik” Artefak. No. 19/Februari 1998. Hlm. 14-18.

Wahid, Sugira 2001. “Konservasi Kawasan Arkeologis: Studi Kasus di Kawasan Kars Gunungkidul”, Buletin Cagar Budaya, Vol. I, No. 3, Direktorat Purbakala, Jakarta.

Wahid, Sugira 2007 Manusia Makassar. Makassar, Pustaka Refleksi Wenke, Robert J. 1980. Patterns in Prehistory: Mankind’s First Three Million Years. New York-Oxford: Oxford University Press.

Nasruddin

Peneliti pada Pusat Arkeologi Nasional

Email: undink.anaugi@gmail.com

——————————————

TINGGALKAN KOMENTAR