Ulur-Ulur Telaga Buret

0
899

Tulungagung sebagai salah satu daerah dengan potensi kebudayaan Jawa Timur. Salah satu tradisi unik yang dimiliki daerah ini adalah Ulur-Ulur Telaga Buret. Tradisi ini dilaksanakan di desa Sawo Campurdarat kabupaten Tulungagung. Ulur-ulur telaga buret mempunyai tujuan sebagai rasa syukur atas keberadaan telaga buret yang telah mengairi sawah ke empat desa dan masih banyak lagi.

Ulur-Ulur adalah upacara adat yang dilangsungkan di bulan Selo di hari Jum’at Legi atau Jum’at Pon. Saat ini tradisi unik ini jarang dilakukan. Seorang tokoh bernama mbah Mangil (Alm.) mengajak para sepuh desa Buret yang masih peduli terhadap kelangsungan upacara tersebut. Pada tahun 1995 berdirilah organisasi sosial kesepuhan yang bernama paguyuban “Sendang Tirtomulyo” yang bertujuan melestarikan budaya Ulur-Ulur sumber air dan kelestarian hutan di sekitar telaga.

Sebelum diadakan upacara Ulur-Ulur, terlebih dahulu dilaksanakan upacara Hep-Hep/Nglampet (membersihkan atau “sesuci”) pada dua atau tiga hari sebelum Ulur-Ulur dilaksanakan di balai desa Sawo Tulungagung. Di daerah pegunungan Kapur Selatan terdapat temuan batu dasar semacam altar dan dua buah arca. Masyarakat setempat mengatakan arca itu adalah Dewi Sri dan Jaka Sendana yang dipercayai sebagai Dewa Padi. Masyarakat meyakini bahwa Telaga Buret adalah tempat keramat. Dengan adanya adat turun-temurun ini dilakukan sebagai bentuk untuk memperingati serta mengenang para leluhur. Selain itu juga dalam rangkaian ini terdapat upacara sajian atau disebut Sradan yang dimana Masyarakat di beberapa daerah membersihkan makam sambil membawa bungkusan berisi makanan hasil bumi. Kini tradisi Ulur-Ulur menjadi sebuah daya tarik mayarakat luar daerah karena keunikan serta  antusias dari masyarakat Tulungagung itu sendiri.

Sumber :

Agus Ali Imron Al Akhyar. (2015). Muqoddimah Ngrowo. Tutur Lisan Hingga Tutur Tulisan. Deepublish Yogyakarta