Situs Watu Kandang, Tinggalan Megalitik Di Jawa Tengah

0
302

Lereng barat Gunung Lawu diketahui memiliki beragam tinggalan arkeologi yang dimulai sejak masa Pra Sejarah sampai dengan masa Kemerdekaan. Tinggalan arkeologi masa Pra Sejarah berupa watu kandang, istilah tersebut diberikan oleh masyarakat untuk menyebut suatu susunan batu berbentuk persegi atau rectangular of stones. Situs watu kandang di Kabupaten Karanganyar tersebar di tiga Kecamatan, yaitu Kecamatan Matesih, Kecamatan Tawangmangu dan Kecamatan Kerjo. Situs Watu Kandang di Kecamatan Matesih berada di Desa Karangbangun (Dukuh Ngasinan dan Dukuh Bodagan), Desa Matesih (Dukuh Kedungsari), dan Desa Plosorejo (Dukuh Ploso). Situs Watu Kandang di Kecamatan Tawangmangu terletak di Desa Plumbon (Dukuh Pakem), sedangkan Situs Watu Kandang di Kecamatan Kerjo terletak di Desa Karangrejo (Junawan, 2016: 4).

Pada tahun 1978 dan 1994, Watu Kandang di Dukuh Ngasinan, Kecamatan Matesih memiliki jumlah paling banyak. Lokasi Situs Watu Kandang di Dukuh Ngasinan secara astronomis terletak pada koordinat 7º 39‟ 17.793 Lintang Selatan dan 111º 03‟ 31.149 Bujur Timur, sekitar 20 km di sebelah tenggara Kota Karanganyar. Situs Watu Kandang sebelah utara dibatasi Sungai Samin, sebelah timur dibatasi oleh jalan desa, sebelah selatan dibatasi oleh Jalan raya alternatif Karanganyar-Tawangmangu, sedangkan sebelah barat dibatasi oleh pemukiman penduduk. Letak Watu Kandang di Ngasinan masih ada yang insitu dan tidak insitu. Secara makro sebaran watu kandang di Kabupaten Karanganyar membentuk pola berkelompok yang berada tidak jauh dari Sungai Samin sebagai salah satu sumber daya alam.


Watu Kandang Ngasinan dapat memberikan gambaran budaya Megalitik manusia pendukungnya dalam konteks sosial-religi yang diwakili dengan elemen formasi watu kandang, Sungai Samin, dan pegunungan (Junawan, 2016: 48). Menurut Darwill (2010: 35), bahwa sumber bahan, monumen dan lanskapnya memiliki keterkaitan yang di dalamnya terkandung arti dan makna. Persebaran Watu Kandang Ngasinan baik makro maupun mikro menunjukkan adanya masyarakat pendukung budaya Megalitik yang banyak jumlahnya. Bagi pendukung budaya Watu Kandang keberadaan Sungai Samin sangat penting karena dapat memenuhi kebutuhan baik kebutuhan air maupun bahan pendirian Watu Kandang. Pendukung budaya Watu Kandang tampak lebih memiliki konsep seperti yang banyakdianut oleh beberapa kelompok etnis di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR