You are currently viewing Daftar Raja-Raja (bagian 2), Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya

Daftar Raja-Raja (bagian 2), Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya

Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah sampai saat terus menerbitkan buku bertema Cagar Budaya. Beberapa buku yang telah diterbitkan merupakan buku yang cukup sering digunakan untuk referensi guna melakukan tindakan pelestarian suatu cagar budaya. Buku-buku ini sering disebut sebagai buku “Babon” karena sangat memegang peranan penting. Salah satu buku “Babon” ini adalah Buku Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya. Adapun tim penulis buku ini adalah Penasehat/editor : IGN Anom, Penanggung Jawab : Tri Hatmaji, Tim Penyusun terdiri dari Ketua : Kusen, Anggota : I Made Kusumajaya, Gutomo, Rusmulia Ciptadi H, Murdjijono, Sudarno, dan Suhardi. Buku ini diterbitkan sebagai bagian Proyek Pelestarian / Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah 1991- 1992. Untuk lebih memudahkan akses masyarakat untuk dapat membaca buku ini, laman ini akan menampilkan bagian per bagian dari buku Candi Sewu dan Sejarah Pemugarannya.

Pada tahun 1983, sekitar bulan November, di Dusun Dunglo, desa Gandlan, Kecamatan Kaloran, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah telah ditemukan dua lempeng prasasti tembaga yang berhuruf dan berbahasa Jawa kuna dengan sisipan bahasa sansekerta. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Balitung pada tahun 830 saka atau 908 Masehi. Kini prasasti tersebut disimpan si suaka peninggalan sejarah dan
purbakala Jawa Tengah. Prasasti tersebut kemudian disebut prasasti wanua tengah III pada pokoknya berisi keputusan Raja Balitung tentang ditetapkannya sebidang tanah di wana tengah sebagai sima bihara di pikatan. Untuk melatarbelakangi keputusan, terlebih dahulu diuraikan riwayat sawah di wanua tengah sejak awal pemerintahan rakai panangkaran di tahun 746 Masehi sampai dikeluarkannya prasasti oleh balitung di tahun 908 M.

Secara singkat isi prasasti wanua tengah III dapat diuraikan sebagai berikut:
Prasasti dibuka dengan keterangan bahwa ada seorang tokoh yaitu Rahyangta i Hara, adik Rahyangta ri Mdang, yang telah mendirikan bihara di pikatan. Selanjutnya diuraikan bahwa Rake Panangkaran yang naik tahta pada tanggal 7 oktober 746 telah menganugerahkan sebidang sawah milik raja seluas lebih kurang 8,9 hektar yang terletak di wanua tengah kepada bihara tersebut. Selain sawah Rake Panangkaran juga memberikan “tiga” ikat benih. Rakai panaraban sebagai pengganti rake panangkaran yang naik tahta tahun 784 tidak mengubah status sawah yang telah menjadi sima bihara di pikatan. Rake warak dyah manara yang naik tahta tahun 803 telah mencabut
status sima sawah di wanua tengah sehingga tak lagi menjadi hak bhara di pikatan. Dyah gula yang naik tahta tahun 827 M tidak mengubah status sawah. Rake Garung yang naik tahta tahun 828 Masehi mengembalikan sawah tersebut kepada bihara di pikatan. Rake Pikatan Dyah Saladu yang naik tahta tahun 847 Masehi mencabut kembali hak bihara atas sawah tersebut. Rake Kayuwangi Dyah Lokapala yang naik tahta tahun 855 Masehi, Dyah Tangwas yang naik tahta tahun 885 Masehi dan Rakai Panumwangan Dyah Dewendra yang naik tahta tahun 885 Masehi tidak mengubah status sawah. Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra yang naik tahta tahun 887 Masehi
tidak diketahui bagaimana keputusannya karena memang tidak disebutkan dalam prasasti. Dalam prasasti malahan disebutkan bahwa raja ini meninggalkan tahta tanpa pamit sehingga kerajaan tidak ada yang memerintah selama tujuh tahun. Rakai Wungkalhumalang Dyah Jbang yang naik tahta tahun 894 tidak mengubah status sawah yang telah menjadi sima bihara di pikatan. Kemudian yang terakhir disebutkan bahwa Rake Watukura Dyah Balitung yang naik tahta tahun 898 Masehi bersamasama dengan Mahamanterinya Rakyan I Hino Sri Daksottama telah menetapkan kembali sawah di wanua tengah sebagai sima bihara di pikatan ( kusen, 1989: 2-3). (Foto Prasasti Wanua Tengah III)