You are currently viewing Rumah Dinas Residen Kedu

Rumah Dinas Residen Kedu

Oleh: Tri Windari Putri

Magelang merupakan wilayah negaraagung Kerajaan Mataram Islam, kemudian pada masa pemerintahan Inggris Magelang dibawah wilayah Karisidenan Pekalongan. Tahun 1813 Magelang menjadi ibukota kabupaten dan struktuur administrasi teritorial kolonial. Pada tahun 1816 Kedu menjadi Karisidenan setelah diserahkan dari Pemerintahan Inggris kepada Belanda, yang kemudian disahkan satu tahun setelahnya. 

Magelang dipilih menjadi ibu kota karisidenan Kedu dan sebagai ibu kota kabupaten pada 1817. Kompleks Karisidenan Kedu, awalnya digunakan sebagai markas militer yang semua bangunannya terbuat dari bambu yang telah diisi air untuk mencegah kebakaran. Kompleks ini juga dilengkapi dengan lonceng jam, untuk jam malam. Kemudian setelah ditetapkan sebagai Kabupaten Karisidenan, pusat administrasi pemerintahan ditempatkan di Magelang. Sehingga dibangunlah kantor karisidenan beserta rumah dinas Residen Kedu. Rumah dinas Residen Kedu, di bangun oleh pemerintah Kolonial Belanda, yang dirancang oleh J.C. Schule dan pembangunannya dikerjakan oleh penduduk pribumi di Magelang. Seperti halnya bangunan-bangunan Kolonial lain di Hindia-Belanda, arsitektur bangunannya menggunakan arsitektur indische yaitu perpaduan gaya bangunan Eropa disesuaikan dengan lingkungan di Hindia-Belanda.

Bangunan rumah Residen Kedu, bergaya Indische Empire Style. Rumah ini berbentuk limas dengan ventilasi yang besar sesuai dengan iklim tropis. Terdapat beranda dibagian rumah depan dan belakang, pintu rumah memliki dua rangkap (Pintu Jalusi dan Pintu yang menggantung dan dapat diayun berbentuk lebar dan tinggi). Bangunan ini memiliki halaman depan dan belakang yang sangat luas, disertai dengan pohon-pohon tropis. Pemmbuatan jendela yang besar sebagai ventilasi, tentunya dilengkapi dengan penggunaaan kanopi untuk menahan percikan hujan. Rumah dinas tersebut menghadap ke barat disebabkan oleh kegemaran orang Belanda melihat pemadangan Gunung Sumbing, Perbukitan Giyanti, dan Sungai Progo serta persawahan.

Rumah Residen Kedu, di Jalan Diponegoro No. 1 saat ini digunakan sebagai museum Perang Diponegoro. Pada tahun 1825-1830, terjadinya perang Jawa yang banyak terjadi disekitar Karisiden Kedu. Rumah dinas residen kedu juga digunakan sebagai tempat perundingan Pangeran Diponegoro dengan Belanda, serta di tempat ini terjadi peristiwa penagkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda.

Referensi: Alamsyah, Indentifikasi Bangunan Cagar Budaya di Jawa Tengah (Studi eks Rumah Dinas Residen), Universitas Diponegoro, ANUVA Vol. 2 (4): 399-412, 2018, hlm. 404-406

Direktirat Sejarah Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan Indonesia, Toponim Kota Magelang, Jakarta 2018

https://jayakartanews.com/diponegoro-dan-gajah-mada-kumpul-di-magelang Diakses pada 10 Agustus 2020

Leave a Reply