You are currently viewing Gedug Papak, Dari Markas Tentara Belanda Hingga Rumah Bordir Jepang

Gedug Papak, Dari Markas Tentara Belanda Hingga Rumah Bordir Jepang

Indonesia telah mengalami kolonialisme selama ratusan tahun yang diawali oleh bangsa Belanda. Namun, tidak kolonialisme tidak berhenti sampai situ. Setelah berakhirnya kekuasaan Belanda atas Indonesia, kemudian datanglah Jepang. Bagi bangsa Indonesia, semula Jepang disambut baik kedatangannya. Setelah propaganda yang dilakukan Jepang kepada Indonesia. Akhinya bangsa Indonesia pun menyadari atas kependudukan Jepang di Negerinya. bahkan, keberadaan Jepang ini dirasa lebih kejam jika dibandingkan dengan Belanda. Beberapa kisah sejarah dapat diungkap melalui peninggalan seperti bangunan, dokumen, maupun foto. Dari sinilah terbesit salah satu bangunan tua yang berada di Grobogan, Jawa Tengah. Bangunan tersebut ialah Gedung Papak, nama dari gedung ini diambil karena atap dari gedung tersebut berbentuk datar, sehingga disebut dengan Gedung Papak.

Gedung Papak berdiri diatas lahan Perhutani KPH Gundih di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Bangunan seluas 338,5 meter persegi ini berarsitekturkan Belanda. Gedung tersebut semula dibangun sebagi markas besar tantara Belanda pada tahun 1919. Namun, pada saat masa kependudukan Jepang, gedung ini kemudian beralif fungsi. Di dalamnya terdapat delapan ruangan kamar yang luas, empat ruang di lantai bawah dan empat ruang di lantai atas. Beberapa ruangan tersebut didalamnya terdapat ranjang besi berkelambu tanpa Kasur. Gedung Papak sebagai salah satu bukti dari adanya perbudakan seks di masa Jepang yang disebut dengan Jugun Ianfu. Salah satu pengakuan dari Jugun Ianfu sendiri memberikan keterangan bahwasanya ia dahulu dijemput oleh tantara Jepang saat berusia 9 tahun. Ia juga menceritakan bahwa di dalam gedung itu banyak anak perempuan lain tetapi tidak berada dalam satu ruangan. Guna memenuhi nafsu para tantara Jepang tersebut, Sri biasanya ditiduri hingga tiga dalam sehari. Selain itu, selama berada di Gedung Papak tersebut, Sri juga rajin disuntikkan obat agar dirinya tidak hamil.

Dari sini bisa kita petik beberapa hal bahwasanya kedatangan bangsa asing ke Indonesia telah memberikan dampak yang cukup signifikan. Berbagai dampak tersebut juga meninggalkan jejak peristiwa di masa lampau yang dapat ditunjukkan dari berbagai sumber yang relevan. Bahkan, berbagai dampak masih membekas seperti psikis korban dari Jugun Ianfu sendiri. Sebagai bangsa yang telah merdeka, sudah seharusnya kita menjaga apa saja yang kita miliki, baik warisan maupun peninggalan. Sehingga kita tidak mudah untuk direbut kembali oleh kekuasaan asing dan dikelabui oleh iming-iming semata.

Oleh: Isbania Afina Syahadati

Sumber:

Puthut Dwi Putranto, Menengok Gedung Papak, Saksi Bisu “Jugun Ianfu” yang Sempat Dikira Angker, Kompas.com, Selasa, 16 Juli 2019 Pukul 08:37 WIB.

Sri Lestari, Para Penyintas Perbudakan Seks Masa Penjajahan Jepang yang Terlupakan, BBC News Indonesia, 1 Januari 2017.

Leave a Reply