Tata Guna Lahan Daerah Candi Gedongsongo Saat ini, Studi Mitigasi Bencana Geologi pada Kawasan Candi Gedong Songo (Bagian 5)

0
122

(BPCB Jateng) Kawasan Candi Gedong Songo berada di lereng bukit yang relatif curam sehingga mempunyai potensi bencana geologi seperti bencana longsor yang dapat mengancam kelestarian CB, hal ini diketahui dari banyak dijumpainya  beberapa titik longsor. Selain didukung oleh kondisi geologi  berupa struktur geologi, kemiringan lereng dan jenis litologi (batuan) yang ada, faktor lain yang dapat memicu terjadinya longsor adalah penggunaan lahan yang kurang mendukung seperti penanaman vegetasi yang tidak tepat, adanya kegiatan penambangan liar, aktivitas pedagang kakilima, serta bangunan  pendukung lainnya.

Pengamatan tata guna lahan dilakukan dengan menggunakan citra satelit dan pengamatan langsung di lapangan. Berdasar pengamatan tersebut tata guna lahan dapat dibedakan menjadi beberapa kawasan:

  1. Kawasan hutan (H)

Kawasan ini yang berbukit-bukit, pada umumnya ditanami dengan pohon pinus dan sebagian tampak gundul seperti di bagian timur laut, di bagian tengah utara, di sebelah barat komplek candi, dan di bagian barat daya. Wilayah gundul di timur laut peta digunakan antara lain untuk kegiatan para gliding yang di sebelah selatannya digunakan sebagai bumi perkemahan.

  1. Kawasan ladang atau persawahan (L/S)

Kawasan ladang atau persawahan secara umum merupakan daerah dataran, padanya diolah menjadi ladang atau persawahan dengan tanaman sayuran.  Tanah  diolah  agar  menjadi  gembur kemudian ditanami dengan sayuran yang berakar serabut dan sangat dangkal.

  1. Kawasan permukiman (M)

Kawasan permukiman ini terdiri dari bangunan permanen tak dihuni, misal bangunan untuk penjualan karcis, bangunan toko di sebelah timur laut kawasan permukiman, kandang kuda di sebelah barat laut kawasan permukiman yang masuk kawasan wisata candi Gedong Songo, dan selebihnya ke arah selatan adalah bangunan berpenghuni.

  1. Wilayah yang dibatasi garis hitam

Pada zona ini hanya terdapat candi-candi.

  1. Wilayah lingkaran merah

Di dalam lingkaran merah terdapat kolam pemandian air hangat yang berada di selatan mulut lembah sempit di antara Candi 3 dan Candi 4. Di sebelah utara lingkaran merah terdapat sumber gas fumarol.

DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, B., Nugroho and Budihardi, M., 1997, Resource Characteristics of the Ungaran Field, Central Java, Indonesia, Proceeding of National Seminar of Human Resources Indonesian Geologist, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Yogyakarta

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2009, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Benda Cagar Budaya

Nguyen Kim Phuong, 2005, Hydrogeochemical Study of the Ungaran Geothermal System, Central Java, Indonesia, Thesis pada Jurusan Teknik Geologi, FT. UGM, Yogyakarta

Syabaruddin, 2004, Pemetaan Fasies Vulkanik Pada Daerah Prospek Panasbumi Gunung Ungaran dan Sekitarnya, Kec. Ambarawa, Kab. Semarang, Jawa Tengah, Skripsi pada Jurusan Teknik Geologi, FT. UGM, Yogyakarta

Thanden, R. E., Sumadirdja, H., dan Richards, P. W., 1996, Peta Geologi Lembar Magelang dan Semarang, Jawa, Direktorat Geologi, Bandung.

Van Bemmelen, R. W.,  1970, The Geology of Indonesia Vol. IA, General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, 2nd edition, Martinus Nilhoff, The Haque Netherlands.

Verstappen, H. Th., 2000, Outline of the Geomorphology of Indonesia: A Case Study on Tropical Geomorphology of a Tectogene Region (with a Geomorphological Map 1:5000000), International Institute for Aerospace Survey and Earth Science, Netherlands.

Yoga Aribowo, 2004, Karakteristik Kehilangan panas Alamiah dan Alterasi Hidrotermal permukaan pada Area Manifestasi Gedong Songo dan Sekitarnya, Daerah Prospek Panasbumi Ungaran,  Jawa Tengah, Skripsi pada Jurusan Teknik Geologi, FT. UGM, Yogyakarta

Zen, M.T., Syarif, M.A., Simatupang, S.H., dan Juniarto, G., 1983, Tektogenesa Gaya Berat dan Daur Magma Sepanjang Deretan Gunungapi: Ungaran – Merapi di Jawa Tengah, Proceeding PIT XII IAGI, Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR