Cagar Budaya Bawah Air di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara

0
2011

Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara dengan ibukota Melonguane. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi. Secara geografis terletak antara 04° 40’ – 05° 40’ LU dan 126° 20’ – 127° 00’ BT.

selam talaud
Dokumentasi Kegiatan

Desa Mala di Kecamatan Melonguane, dilokasi ini ditemukan adanya gejala arkeologis berupa benda berbahan besi yang ketika air surut muncul dipermukaan air kurang lebih setengah meter. Benda tersebut diperkirakan sebagai bagian ujung depan dari haluan sebuah kapal yang kemungkinan badan kapalnya berada pada bagian bawahnya di dalam air, terletak pada posisi 040 10 23,90 Lintang Utara dan 1260  40 25 Bujur Timur  atau X = 4,00366 dan Y = 126,712 UTM.

 

1. PENYELAMAN

Penyelaman hari pertama, tim BPCB Gorontalo, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Talaud melakukan pekerjaan pembuatan sketsa gambar. Hasil sketsa menunjukkan bahwa bahwa bentangan bangunan kapal yang tersisa masih dapat disaksikan mulai dari haluan, buritan dan lambung dengan arah hadap utara pada kemiringan 20 derajat. Pada hari kedua, penyelaman difokuskan pada pekerjaan pengukuran yang dimulai dengan pemasangan base line sebagai dasar patokan pengukuran. Base line menggunakan tali dengan panjang 50 meter yang dipindahkan sebanyak 4 kali. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa panjang kapal kurang lebih 160 meter dengan lebar lambung tengah kurang lebih 16 meter. Penyelaman hari ketiga difokuskan pada pemotretan dan pengamatan kondisi keterawatan bangunan kapal serta lingkungan pengendapan dimana kapal tersebut karam. Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa bangunan kapal yang terbuat dari bahan besi mengalami kerusakan pada bagian dek palka dimana lantainya yang terbuat dari besi plat tidak berada di tempatnya. Hal tersebut mengakibatkan terlihatnya konstruksi penyangga laintai dan gading pada bagian dinding bangunan kapal. Sedangkan pada lambung kapal terlihat adanya retakan di tiga tempat yang sesungguhnya menunjukkan bahwa kapal ini patah padatiga bagian tetapi antara satu bagian dengan bagian lainnya belum terpisahkan.

 

Oleh karena itu secara keseluruhan bangunan kapal masih memperlihatkan suatu bentuk yang masih utuh walaupun beberapa bagian lepas darikedudukannya. Pada tahap penelusuran di bagian tengah lambung yang lantai deknya terbuka juga ditemukan adanya tangga dalam posisi masih berdiri yang diperkirakan sebagai sarana untuk naik dan turun antar lantai. Dengan demikian bagunan kapal diperkirakan memiliki minimal dua lantai atau dek. Sedangkan di bagian tengah di atas dek lantai satu terdapat ruangan yang diperkirakan sebagai ruang kemudi. Unsur lainnya yang ditemukan dalam pengamatan adalah adanya tiang-tiang besi yang tergeletak yang mungkin bagian dari tiang-tiang kapal. Pada kesempatan ini juga ditemukan adanya tali-tali kapalyang masih tergulung pada bagian buritan dan haluan serta drum yang belum diketahui isinya.

Terkait dengan lingkungan pengendapan menunjukkan bahwa kapal terdeposisi pada lingkungan berpasir dari kasar sampai halus dan bukan daerah yang berkarang, sehingga hanya sedikit dan hanya pada bagian tertentu dapat dijumpai adanya karang yang tumbuh pada bagian-bagian kapal. Walaupun ini dasarnya berpasir tetapi keimiringan cukup terjal yang dapat diketahui perbedaannya berdasarkan kedalaman pada kedua lambung kapal. Lambung kapal sebelah kiri lebih dangkal berkisar antara 9 meter sampai dengan 17 meter, sedangkan lambung kapal sebelah kanan mencapai kedalaman dari 14 meter sampai dengan 24 meter. Kemiringan dasar laut ini juga mengakibatkan posisi kapal menjadi miring ke arah lambung kapal. Perbedaan kemiringan atau kedalam diarealini mungkin juga disebabkan oleh tingginya tingkat sedimentasi yang terjadi mengingat lokasi ini berada di depan muarasungai sehingga jika musim hujan air sungai akan membawa partikel yang membuat sedimentasi menjadi cukup tinggi. Di areal penyelaman dijumpai beberapa biota laut seperti ikan dan karang lunak sehingga memperkaya areal ini untuk dapat dikembangkan sebagai dive spot.

 

2. TEMUAN

Berdasarkan hasil pencatatan, pengukuran dibantu dengan hasil potret dapat diketahui bahwa objek bawah air yang ditemukan di dasar laut lepas pantai Mala adalah sebuah kapal. Kapal tersebut memiliki panjang kurang lebih 160 meter dengan lebar 18 meter. Tinggi kapal belum diketahui mengingat sebagian badan kapal tertanam di dalam pasir berlumpur, namun bagian dinding yang terlihat berukuran kurang lebih 10 meter. Dalam pencatatan, kondisi kapal yang tenggelam ini miring kurang lebih sembilan puluh derajat. Dengan melihat haluan dan lambungnya dapat diketahui bahwa kapal miring ke kiri karena dinding kirinya berada pada bagian bawah menyentuh langsung dasar laut lepas pantai Mala yang berpasir dan sedikit berlumpur pada kedalaman 7 sampai dengan 24 meter. Sedangkan dinding kanan kapal yang terdiri atas haluan, dinding lambung bagian tengah dan dinding kanan buritan masing-masing memiliki kedalaman dari permukaan air sebagaimana hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan deep gauges adalah 22 meter, 18 meter dan 28 meter.

 

Hal ini menunjukkan bahwa kapal sedikit agak mendongak keatas pada bagian haluannya. Dengan memperhatikan antara haluan dengan buritan, kapal diketahui mengarah ke barat daya sebesar 220 derajat NE. Kapal yang dibuat dari besi ini kondisinya dideskripsikan cenderung masih utuh kecuali pada dinding bagian buritannya yang sudah robek tepatnya pada bagian dinding buritan kiri. Pada bagian palka terdapat tiga tiang yang diletakkan pada bagian tengah palka kea rah buritan. Tiang pertama berada pada bagian palka dengan panjang 7 meter. Tiang kedua yang berada pada bagian tengah palka memiliki panjang kurang lebih 15 meter dan tiang ketiga yang berada pada bagian palka belakang dekat buritan dalam keadaan patah dimana tinggi atau panjangnya diperkirakan sama dengan tinggi tiang pertama yang berada di depan. Beberapa tali dari logam sebesar telunjuk masih terdapat pada tiang-tiang ini. Di bawah tiang tengah agak bergeser kearah belakang di tengah palka terdapat ruang kemudi yang berbentuk seperti ruang persegi empat yang dindingnya lebih tinggi dari pada tinggi dinding bagian lambung kapal. Palka yang terdapat pada kapal ini dapat dikatakan terdiri atas dua bagian yaitu dibagian depan yang terletak pada lambung bagian tengah dan palka belakang yang terletak pada lambung bagian belakang. Dek yang terdapat pada bagian palka memiliki perbedaan ketinggian kurang lebih satu meter dimana dek bagian belakang lebih tinggi dari dek bagian depan.`Masing-masing palka yang terdapat di dek bagian atas terdapat lubang palka berbentuk oval dan segi empat yang mungkin berfungsi sebagai jalan keluar dan masuknya barang muatan kapal. Lantai Dek pada bagian palka dikapal ini pada beberapa bagiannya sudah tidak lagi memiliki lantai sehingga yang terlihat hanya struktur tulang penyangganya saja. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari beberapa nara sumber menyebutkan bahwa sesungguhnya kapal karam yang ada di lepas pantai Mala telah menjadi incaran para pengumpul besi tua, namun dapat diselamatkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Talaud bekerjasama dengan masyarakat  di tempat tersebut.

Lambung kapal memiliki bentuk V namun pada bagian tengah dan dasarnya cenderung bulat. Kapal karam yang terdapat di lepas pantai Mala ini masih memiliki proveller yang terletak dibagian ujung bawah buritan dengan panjang baling-baling kurang lebih 1,5 meter. Di bagian ujung luar baling-baling terdapat kemudi berbentuk plat tebal yang berfungsi membelokkan arah kapal. Kecuali itu di dalam lambung kapal yang terdapat di bagian buritan ditemukan dua mesin yang diperkirakan sebagai mesin penggerak. Haluan kapal yang terdapat pada bagian depan berkesan tajam yang berfungsi untuk membelah air pada bagian depan ketika kapal berlayar. Pada bagian dinding haluan tim melakukan konsentrasi pengamatan untuk memperileh nama kapal namun tidak ditemukan kecuali sebuah lubang berukuran diameter 30 centimeter yang berfungsi sebagai jalan tali untuk mengangkat dan menurunkan jangkar.. Antara dinding haluan dengan dinding lambung terdapat perbedaan ketinggian kurang lebih 80 centimeter dengan bentuk lengkung. Perbedaan ketinggian ini berada pada jarak 20 sampai 22 meter diukur dari ujung haluan kapal. Belum diketahui berapa jumlah Dek yang terdapat pada kapal ini mengingat para peselam tidak dilengkapi dengan peralatan penunjang untuk memasuki lambung kapal.

Pada bagian palka kapal tidak ditemukan adanya barang-barang lepas yang menjadi muatan kapal, tetapi pada bagian lambung kapal yang terlihat dari dindingnya yang robek ditemukan dua buah drum dan tali kapal yang masih berada di dalam lubang penyimpanannya. Betapapun kondisinya secara umum cenderung utuh, tetapi serangan terjadinya korosi pada besi kapal berlangsung cukup cepat. Hal ini ditandai dengan keadaannya yang mulai rapuh dan keropos pada beberapa bagian yang ditandai dengan lubang-lubang kecil yang menyebabkan robeknya dinding kapal. Disamping terjadinya korosi pada besi kapal di beberapa bagian dinding juga telah ditumbuhi koral. Berdasarkan pengamatan dan hasil pemotretan yang dilakukan dapat diketahui bahwa biota laut yang tumbuh dan mendominasi adalah sofcoral atau karang lunak. Biota laut lainnya yang banyak terdapat di lingkungan tempat terendapnya kapal ini adalh ikan yang lebih menyukai hidup di daerah karang. (romi)