Situs Gunung Padang (2)

mata air
mata air

Beberapa tinggalan arkeologi yang terdapat di Situs Gunung Padang adalah sebagai berikut:

Tangga Lama

Memasuki akses jalan menuju situs, kita akan menjumpai sebuah mata air. Masyarakat setempat menyebutnya cikahuripan, yang berarti air untuk kehidupan. Mata air ini mempunyai dimensi lebar sekitar 50 cm dan panjang 100 cm. Dindingnya tersusun atas batu-batu andesit. Menurut informasi, mata air ini sudah lama ada. Sekarang mata air dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kadangkala digunakan oleh peziarah.

Tepat di depan mata air, terdapat tangga menuju situs. Masyarakat di sekitar menyebutnya sebagai “inohong” yang berarti “yang ditokohkan”.  Terdapat tiga tangga, tangga yang pertama adalah tangga lama (asli) yang tersusun dari batu-batu andesit horizontal yang cukup rapat, di bawahnya berbelok ke arah selatan terdapat tangga yang tersusun atas batu andesit dengan susunan yang lebih rengggang. Melihat susunan tangga ini, dapat dipastikan bahwa susunan dan bentuknya berbeda dari tangga asli, yang mungkin dibuat pada masa kemudian. Tepat di bagian tengah tangga, diletakkan di atas (menumpang),  dibuat tangga baru dari beton. Tangga ini merupakan tangga baru yang dibuat bersamaan dengan pembuatan bangunan fasilitas  penunjang. Sehingga ada dua tangga sebagai akses naik ke situs, yaitu tangga lama (batu andesit) dan tangga baru (beton).

Pada tangga lama terdapat dua buah batu kolom yang didirikan di samping kiri dan kanan tangga. Dari posisi tiang tersebut, dapat diketahui bahwa tiang ini diduga baru (tidak insitu) karena pada bagian belakang batu tiang tersebut terdapat batu yang berfungsi sebagai ganjal.

Tangga menuju situs merupakan tangga yang dibuat tidak berupa garis lurus (linier), tetapi pada beberapa bagian berkelok. Anak tangga tersusun atas batu-batu andesit berbagai ukuran. Pada sisi kiri dan kanan anak tangga terdapat batu-batu yang berukuran relatif lebih kecil dari batu anak tangga. Batu-batu tersebut merupakan perkuatan tangga.

tangga lama
tangga lama

Kondisi tangga lama bervariasi. Sebagian besar terlihat masih pada posisi aslinya. Ada beberapa bagian tangga yang hancur, karena longsor. Hal ini terjadi karena tangga ini berada di lereng yang relatif curam, sehingga rentan terhadap resiko longsor. Pada anak tangga tersebut terlihat pula bekas-bekas perkuatan (dari semen). Kondisi lereng yang cukup curam ini menimbulkan beberapa konsekuensi, yaitu : resiko terjadi longsor, dan kondisi yang cukup berbahaya ketika kita menaikinya. Terlihat ada bekas struktur pegangan untuk naik pengunjung dari besi yang telah rusak karena korosi dan longsor.

Kondisi batu-batu anak tangga bervariasi. Terlihat ada beberapa kerusakan yang terjadi, mulai dari batu yang retak sampai dengan patah. Kondisi ini akibat dari kondisi lereng yang curam tanpa ada elemen penyangga dan kemudian mendapatkan beban akibat aktifitas naik ke situs oleh pengunjung.

Di sekitar tangga naik, di sebelah kiri dan kanan terlihat temuan beberapa batu di permukaan tanah. Batu-batu tersebut berserakan, tidak menunjukkan pola sebaran, dan mempunyai jarak yang bervariasi terhadap posisi anak tangga. Ketika perjalanan naik ke situs telah mencapai sekitar ¾ bagian, akan dijumpai struktur anak tangga yang cukup tertata. Berdasarkan observasi, anak tangga ini merupakan anak tangga yang masih intack dan insitu. Pada sisi kiri kanan tangga terdapat batu-batu yang berfungsi sebagai penguat anak tangga. Anak tangga ini berjumlah 87 anak tangga. Ada empat buah batu tegak di kiri kanan tangga tersebut sebelum kita mencapai teras pertama punden berundak Gunung Padang. Anak tangga dimulai dengan adanya batu tegak berukuran kecil (sekitar 30 cm) di kiri dan kanan, kemudian terdapat 65 buah anak tangga sebelum batu berdiri berikutnya. Ada 22 buah anak tangga pada batu berdiri kedua (tinggi 110 cm) sebelum menuju teras pertama, sehingga jumlah seluruh anak tangga ada 87 buah.

Setelah batu tegak kedua, dijumpai anak tangga berjumlah 9 buah untuk naik ke teras pertama. Anak tangga di bagian ini tersusun rapat tanpa trap. Pada sisi kiri dan kanan terdapat batu tiang yang disusun horizontal membentuk semacam dinding. Di ujung anak tangga terdapat dua buah batu berdiri. Batu di sisi timur masih dalam posisi tegak sementara batu berdiri di sisi barat berposisi agak rebah.

Terdapat dua jalur masuk ke teras pertama, jalur ke arah timur menuju cluster batu yang kemudian disebut dengan ruang kesenian, dan jalur ke barat menuju teras kedua. Jalur ini ditunjukkan dengan adanya susunan batu di atas permukaan tanah yang tersusun membentuk jalur jalan.

Di sebelah barat anak tangga tersebut terdapat tumpukan batu yang tidak tersusun. Tumpukan batu ini adalah sebuah runtuhan dari struktur yang terdapat di teras pertama. Berdasarkan informasi, runtuhan ini terjadi akibat tumbangnya sebuah pohon Rasamala yang berukuran relatif besar sekitar tahun 1969-1970.

Di sebelah barat dan timur tangga tersebut terdapat turap teras pertama. Turap tersebut mempunyai panjang 44 meter yang tersusun atas tumpukan batu andesit dengan posisi horizontal dengan orientasi ke arah dalam teras (utara-selatan). Bagian yang tampak dari susunan batu ini adalah bagian potongan batu, bukan bagian penampang (samping). Tinggi turap tersebut bervariasi, yang paling rendah adalah pada bagian tengah-tempat tangga masuk ke teras pertama, dan semakin tinggi ke arah barat dan timur.

 

                                                                                                   bersambung….