Kebijakan Pengembangan Permuseuman di Indonesia

Bali – Kegiatan hari kedua Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2016 dilanjutkan dengan diskusi tentang Pengembangan Permuseuman di Indonesia. Diskusi ini disampaikan oleh Direktur Pelestarian Cagar Budaya, Kemendikbud RI, Harry Widianto, Anggota DPR RI Komisi X, Jefirston Richset Riwu Kore, dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Puta Supadma Rudana di Hotel Sanur Paradise Plaza, Bali, Selasa (31/5).

Harry Widianto, Putu Supadma Rudana, dan Jefirston Richsten dalam Kebijakan Pengembangan Museum Indonesia

Jefirston Richset mengatakan bahwa Komisi X mempunyai tugas dan tanggung jawab besar terkait permuseaman Indonesia. “Museum di Indonesia, baik museum pemerintah di daerah maupun museum swasta, belum mendapatkan perhatian yang baik. Komisi X bertugas untuk mengubah paradigma masyarakat tentang museum dan juga ikut membantu meningkatkan SDM dan membantu advokasi terkait payung hukum museum di Indonesia,” tegas Jefirston.

Di sisilain, Harry Widianto menyampaikan bahwa perlu adanya peningkatan museum di Indonesia. “Perlu adanya peningkatan penampilan museum-museum menjadi lebih baik untuk dikunjungi dan dinikmati sesuai dengan fungsi museum, yaitu pengkajian, pendidikan, dan kesenangan,” jelas Harry Widianto.

Putu Supadma Rudana dalam paparannya terkait AMI di PNM 2016

Senada dengan hal itu, Putu Supadma Rudana mengatakan bahwa museum harus maju dan dekat dengan media. “Kekuatan museum di Indonesia adalah terkait artefak-artefak yang kita miliki. Oleh karena itu, museum juga harus mengikuti kemajuan zaman, contohnya museum harus dekat dengan media,” tukas Putu Supadma Rudana.

Kegiatan hari kedua PNM 2016 akan dilanjutkan dengan diskusi panel dan diskusi kelompok yang membahas terkait Peningkatan Citra Museum di Indonesia dan Pelibatan Publik dalam Pengembangan Museum.