Ketika Ken Arok Hadir di Masa Kini

0
1029

Oleh Rizkywidiasa

 

Petualangan Ken Arok
Petualangan Ken Arok  2015

Siang itu Andre sedang menjelaskan fungsi sebuah telepon genggam kepada seseorang yang tampak asing ketika Fira datang. Terkejut bukan kepalang orang asing tersebut ketika ia melihat sosok Fira sangat mirip dengan Ken Dedes, putri yang sangat cantik anak seorang brahmana dari desa Panawijen. Orang asing tersebut adalah Ken Arok, raja Singasari yang lahir pada tahun 1182 Masehi di tanah Jawa.

Andre dan Fira yang bingung berusaha menjelaskan kepada Ken Arok bahwa ia sedang tersesat. Saat itu mereka sedang berada di Museum Nasional Indonesia. Ken Arok yang terkesima melihat suasana yang berbeda dari masa Kerajaan Singasari mendapati sebuah arca yang menjelaskan tragedi kematiannya. Seketika, Ken Arok menyesali perbuatan selama hidupnya yang senantiasa menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi.

Ia pun menangis dan memohon kepada dewa agar mengembalikannya ke masa ketika ia memimpin Kerajaan Singasari. Permohonannya dikabulkan. Namun saat itu di Kerajaan Singasari tengah terjadi konflik kekuasaan. Dalam sebuah pembunuhan terencana, Ken Arok akhirnya tewas dibunuh oleh Anusapati yang menuntut balas atas kematian ayahnya Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok.

Penggalan cerita di atas adalah bagian terakhir dari lakon “Petualangan Ken Arok” yang ditulis oleh Zulfa Nasrulloh dan dimainkan oleh grup Mainteater pada hari Minggu 31 Mei 2015. Kisah yang diambil dari kitab pararaton ini diberi unsur fiksi. Masing-masing bagian bercerita tentang bagaimana Ken Arok akhirnya menjadi Raja Singasari, terdampar di zaman Neolitikum, dan di Masa Kini. Meskipun tema yang diusung sarat kekerasan dan pengkhianatan, namun pertunjukan yang dimainkan dengan jenaka oleh grup asal Bandung tersebut mampu membuat penonton yang sebagian besar anak-anak terpingkal-pingkal akan ulah konyol Ken Arok.

Lakon Teater Rakyat “Petualangan Ken Arok” digagas oleh Museum Nasional Indonesia yang bekerjasama dengan Gathaya Performing Art dalam rangka kegiatan Akhir Pekan @MuseumNasional 2015. Kegiatan yang ditujukan untuk umum ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang menerapkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day) dengan misi menjadikan Museum Nasional Indonesia sebagai obyek wisata yang terintegrasi dengan kebijakan tersebut. Selain itu, penyelenggara turut mengundang antara lain sekolah-sekolah dan panti asuhan yang berlokasi dekat dengan Museum Nasional Indonesia antara lain SMPN 4 Jakarta, Panti Asuhan Muhammadiyah, dan Panti Asuhan Putra Nusa.

Kegiatan akhir pekan @MuseumNasional 2015 adalah upaya untuk meningkatkan wawasan masyarakat terhadap budaya Indonesia yang dikemas secara menarik dan kekinian agar dapat menghibur dan menjangkau semua golongan. Lakon Ken Arok adalah agenda kedua setelah bulan sebelumnya mengusung judul “Legenda Asmat”.

Selain bekerja sama dengan Gathaya Performing Art, Museum Nasional juga bekerjasama dengan Dapoerdongeng dan Teater Koma untuk kegiatan akhir pekan yang diadakan pada tanggal 20 September dan 27 September 2015 masing-masing dengan judul “Berbiduk-biduk di Langit, Berlayang di Lautan” serta “Nina Bobo si Nona Manis Porto”.

Disamping pertunjukan teater, penonton juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan edukasi tersebut antara lain melalui permainan interaktif seperti kuis berhadiah, tur keliling museum, pembuatan wayang tavip, dan sebagainya. Harapan kedepannya agar penonton dapat mengenal budaya serta memiliki pengetahuan lebih tentang benda-benda bersejarah beserta fungsinya untuk dapat menerapkan nilai-nilai yang disampaikan lewat cerita rakyat yang penuh pesan moral.