Oleh Aubrey Kandelila Fanani

Jakarta (ANTARA) – Pagi-pagi sekali pada Minggu (25/11/2019) di pelabuhan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur itu sudah sangat sibuk. Mereka akan menggelar Rokat Tase atau “Petik Laut” di tempat yang baisanya digunakan untuk pelelangan ikan itu.

Kapal-kapal nelayan baik kapal besar mau pun kapal kecil telah siap disolek untuk menyambut hari itu. Berbagai kapal berjajar rapi di tepi dermaga, menjadi tontonan warga.

Sementara itu di darat, ada miniatur kapal-kapal hias nelayan tersebut. Kata mereka baik kapal hias sungguhan mau pun kapal miniatur tersebut akan diperlombakan dalam acara “Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir” yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemda Kabupaten Sumenep dan Dinas Kelautan dab Perikanan Jawa Timur.

Salah satu nelayan setempat, Bahran, mengatakan ini pertama kali Rokat Tase didanai oleh pemerintah. Masyarakat menyambut baik dukungan pemerintah untuk menyelenggarakan Rokat Tase.

Rokat Tase sudah menjadi tradisi pesisir Madura sejak beratus-ratus tahun lalu, sebagai ungkapan mereka berterima kasih dan bersyukur kepada karunia Tuhan atas kelimpahan ikan di laut.

Rokat Tase biasanya dlakukan setiap bulan enam atau tujuh, karen di bulan-bulan tersebut ikan berenang ke sini. Tapi tahun ini desa tersebut meneyelnggarakan rokat tase dua kali, yang pertama di bulan Juni, yang kedua pada November dengan dukungan pemerintah.

“Ini adalah tradisi dari nenek moyang kita untuk mengadakan selametan agar mendapat keberkatan saat menncari rejeki. Setiap tahun diadakan Rokat Tase untuk bersyukur. Jadi sebelum menangkap ikan, kami syukuran dahulu,” kata dia.

Menurut Bahran, Rokat Tase yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat memilki perbedaan dengan acara “Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir” ini.

Biasanya Rokat Tase dilakukan dalam waktu lima hari berturut-turut, sementara saat ini gelaran hanya dilakukan satu hari.

Ada banyak kegiatan dalam lima hari itu, misalnya kontes sapi betina. Masyarakat Madura akan melombakan sapi betina miliknya bak kontes kecantikan ratu dunia.

“Di kontes itu akan dilihat sapi betina mana yang paling cantik, ya dari kebersihannya, asesoris yabg dipakai sapi, bobotnya, dan juga cara berjalannya,” kata dia.

Kemudian di hari lain, akan digelar acara Tayuban, yang merupakan acara tari-tarian dan juga nyanyian dari sinden. Ini adalah salah satu acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Tak hanya Tayuban, malam ketoprak pun juga menjadi hari yang diidolakan oleh masyarakat. Pada malam ini masyarakat baik tua dan muda akan mendatangi tempat acara.

Setelah acara seni, malam berikutnya akan ada pembacaan Alquran dan juga pengajian bagi. Barulah pada hari terakhir Rokat Tase diisi dengan menghiasi kapal dan melarung sesaji di tengah laut.

Sesaji seperti kepala kambing hitam, tumpeng ,dan rengginang akan dibawa menggunakan kapal hias untuk ditenggelamkan di laut.

Menurut dia ritual ini maksudnya agar mereka terhindar dari malapetaka dan beroleh berkah saat mencari ikan.

Bahran mengatakan setiap tahunnya Rokat Tase digelar dengan menggunakan dana iuran dari para nelayan hingga ke pedagang ikan. Di desa tersebut ada 75 kapal besar dan 35 kapal kecil.

“Biasanya kita swadaya, urunan semua. Kalau kapal besar iurannya Rp1 juta, kalau kapal kecil Rp250 ribu. Kalau pedagang ikan lain lagi,” kata bapak yang sudah melaut selama 15 tahun tersebut.

Bahran yang juga memilki kapal besar dengan nama Zamzam Predator itu, menyebut untuk menghias kapal, satu kapal besar bisa menghabiskan dana sekitar Rp10 hingga Rp15 juta.

Bukan Biasa

Pada November sebenarnya, bukanlah waktu yang biasa untuk dilakukan Rokat Tase. Kali ini Rokat Tase yang digelar lebih seperti festival yang digelar bersama pemerintah pusat, daerah dan juga masyarakat.

Menurut Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi ini adalah satu program dari pemerintah setempat untuk menjadikan tradisi masyarakat menjadi daya tarik wisata.

Sudah tiga tahun belakangan ini mereka mendukung kegiatan Rokat Tase, mereka menggilir desa-desa di Sumenep untuk menggelar festival yang diberi nama “Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir” itu.

Selain acara yang digelar hanya sehari, tak ada sesaji yang dilarung dalam kegiatan itu, sedangkan di Desa Pasongsongan mereka mengganti sesaji dengan menabur benih ikan kakap.

Meski diganti larungan sesaji diganti dengan melepaskan benih ikan ke laut, namun inti dari kegiatan yaitu wujud rasa syukur, tetap sama.

“Ini kan tradisi untuk bersyukur. Rasa syukur dan meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah kita panjatkan melalui doa bersama tadi,” kata dia.

Pelepasan 2.000 benih ikan kakap di laut itu juga simbol untuk mengajak para nelayan menjaga keberlangsungan laut.

“Kami berharap para nelayan menangkap ikan yang besar-besar saja, sementara itu ikan yang kecil-kecil dilepas saja dulu,” kata dia.

Achmad berharap festival tersebut dapat menyadarkan masyarakat bahwa betapa penting potensi maritim Sumenep dalam memgangkat harkat martabat nelayan Sumenep.

Festival itu juga diharap dapat meningkatkan kelestarian lingkungan dan tentunya melestarikan budaya Rokat Tasek yang sudah memadukan  udaya lokal dengan nuansa Islam.

Dikenalkan

Ditektur Keprcayaan dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Chtistiyati Ariani mengatakan kegiatan budaya dan tradisi masyarakat pesisir mesti dikenalkan kepada masyarakat luas.

Dia menyayangkan budaya pesisir masyarakat Indonesia tidak begitu dikenal dibandingkan dengan budaya masyarakat agraris, padahal panjang pantai Indonesia yang lebih dari 95 ribu kilometer dan memilik 17 ribu  lebih pulau dengan sumber daya alam yang beragam.

“Saya rasa masalah kita lebih mendasar dari itu, yaitu terpisahnya laut dan dunia maritim dari kebudayaan kita. Sikap memunggungi laut terjadi karena berbagai perubahan penting dalam sejarah yang membalik arus kebudayaan kita,” kata dia.

Oleh sebab itu pengenalan tradisi kepada masyarakat inilah merupakan modal bagi ketahanan budaya yang dapat memperkukuh kesatuan bangsa serta memperkuat karakter dan jati diri bangsa.

Hampir semua pesisir di Indonesia memiliki budaya petik laut.

Oleh karena hidup sebagai nelayan merupakan salah satu profesi yang memiliki risiko yang tinggi, sehingga mereka merasa perlu untuk melakukan hubungan yang baik dengan pencipta alam agar memperoleh keselamatan selama melakukan penangkapan ikan.

Selain itu, upaya untuk memelihara pengetahuan dan praktik lokal penjaga keharmonisan antara alam dengan aktivitas manusia.

Sumber : https://www.antaranews.com/