Monumen Drepo

0
1226

Situs Sangiran memiliki luas 59,21 km yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Sragen dan Karanganyar. Situs Sangiran terletak 18 km arah utara Kota Surakarta. Secara umum, Situs Sangiran merupakan kawasan cagar budaya yang menyimpan rekaman evolusi manusia purba, evolusi lingkungan, evolusi binatang,dan evolusi budaya sejak Kala Plestosen. Sangiran dinobatkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO pada tahun 1996.

Sebagai warisan yang ditinggalkan oleh masa lalu, Sangiran memang belum diketahui sepenuhnya oleh masyarakat umum. Sejauh ini masyarakat hanya mengetahui Situs Sangiran sebagai museum yang menyimpan fosil-fosil. Masyarakat belum banyak yang tahu bahwa potensi Situs Sangiran bisa dimanfaatkan untuk penelitian dan ilmu pengetahuan, bahkan untuk pariwisata. Salah satunya adalah lokasi-lokasi penting yang memiliki nilai historis terkait temuan-temuan luar biasa Sangiran. Lokasi-lokasi tersebut oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen dibangun monumen-monumen sebagai penanda. Oleh BPSMP Sangiran, monumen-monumen tersebut dirawat dan ditambahi dengan informasi terkait nilai kesejarahannya, sehingga monumen tersebut dapat difungsikan sebagai obyek kunjungan wisatawan yang menarik di luar museum.

Salah satu monumen yang jarang terpijak oleh masyarakat umum adalah Monumen Drepo. Monumen Drepo terletak di Dukuh Drepo, Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Didirikan pada tahun 2003 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen. Nilai penting dari Monumen Drepo yaitu sebagai tanda bersejarah pernah ditemukan fosil binatang rawa-rawa purba seperti buaya, kura-kura, kuda sungai, moluska (gastropoda dan bivalvia). Area di sekitar monumen, juga pernah ditemukan fosil Homo erectus. Monumen dibangun di atas lapisan tanah Formasi Pucangan yang mencirikan lingkungan rawa-rawa. Ciri khas dari lapisan ini adalah lempung hitam dari Kala Plestosen bawah yang berusia sekitar 1,8 juta- 0,9 juta tahun yang lalu. Di sebelah timur Monumen Drepo terdapat singkapan tanah dari Formasi Pucangan. Pada formasi tersebut masih dijumpai fosil moluska yang menempel pada singkapan. (Metta Adityas)