Gejog Lesung, Salah Satu Kesenian yang Tumbuh dan Berkembang di Sangiran

0
2382

Suara tabuhan musik yang harmonis dihasilkan justru bukan dari sebuah alat musik, alunan musik yang semarak bisa dihasilkan oleh alat pemisah padi dengan kulitnya, lengkap dengan iringan berbagai tembang jawa dengan menghasilkan harmonisasi yang unik. Pukulan yang dihasilkan oleh alu, sebuah kayu panjang untuk menumbuk padi, juga lesung, rongga kayu berbentuk seperti perahu panjang sebagai tempat padi yang ditumbuk, seni ini dinamakan gejog lesung. Permainan gejog lesung sudah ada di kalangan petani sejak lama, sebelum menjadi pertunjukan musik dalam arti sebenarnya seperti saat ini.

Kesenian gejog lesung ini hidup dan berkembang di Situs Sangiran yang sebagian besar menggantungkan hidup dari pertanian. Kesenian ini tumbuh dan berkembang yang kemudian membentuk sebuah sanggar yang diberi nama Sanggar Sangir. Keinginan melestarikan budaya yang mulai luntur menjadi latar belakang sanggar ini tumbuh dan berkembang, saya ingin kebudayaan ini terus lestari tidak tergerus oleh jaman, demikian papar Jumadi Ketua Sanggar Sangir yang berlokasi di Dusun Ngampon, Krikilan, Kalijambe, Sragen.

Kemampuan masyarakat dalam berkesenian ini ditanggapi serius oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang pada hari Senin, 13 Maret 2017 berjumpa dengan para pelaku kesenian di Sangiran khususnya Dusun Ngampon Desa Krikilan.  Dalam dialog antara para pelaku seni budaya yang tergabung dalam Sanggar Sangir dengan rombongan ISI Surakarta dan BPSMP Sangiran, banyak hal yang diungkap. Kisah awal kesenian gejog lesung berkembang yang kemudian mulai menampilkan kisah yang diangkat melalui lagu.

Kisah yang diangkat dalam gejog lesung yang dimainkan Sanggar Sangir ditulis Jumadi secara tidak sengaja, saya hanya menuliskan lagunya yang berkisah tentang pertanian secara langsung tanpa berpikir macam-macam, saya ciptakan kemudian kami pentaskan, ungkap Jumadi.

Dalam dialog ini juga terungkap bahwa Sanggar Sangir sudah mulai latihan secara rutin dengan pelaku dari berbagai umur mulai dari anak-anak, ibu-ibu dan juga bapak-bapak. Siapapun masyarakat yang berminat dapat mengikuti latihan tanpa dikenakan biaya, semua bersifat sukarela. Impian terpendam yang selama ini ada dalam pikiran saya, saya ingin kami bisa pentas 24 jam nonstop, itulah impian besar saya selama ini lanjut Jumadi.

Mendengar impian itu, Dr. Srihadi, S.Kar, M.Hum dari ISI Surakarta, menanggapi positif impian besar Jumadi itu. Bangunlah impian agar semakin terpacu dalam meraih mimpi itu, impian pentas 24 jam nonstop itu adalah sebuah mimpi besar yang bisa saja diwujudkan dengan latihan rutin dan teratur, Srihadi menyemangati.

Kesenian gejog lesung yang tumbuh dan berkembang di Dusun Ngampon ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Museum Manusia Purba Klaster Krikilan. Pengunjung bukan saja hanya menyaksikan berbagai bukti kehidupan purba tetapi juga menyaksikan atraksi yang merupakan potensi tersembunyi dari masyarakat. Potensi yang dimiliki masyarakat ini perlu dikembangkan guna meningkatkan penghasilan. (Wiwit Hermanto)

TINGGALKAN KOMENTAR