Belajar Layanan Edukasi dan Manajemen Koleksi di Museum Westfries, Hoorn : catatan perjalanan dari Belanda (bagian 2)

0
672
Ruang Virtual Reality untuk melihat Batavia tahun 1627

Hari kedua kegiatan Competency Enhancement for Museum dilaksanakan di Hoorn, kota tempat kelahiran Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal VOC yang juga terkenal sebagai pendiri Batavia). Di kota Hoorn, peserta diajak belajar di Museum Westfries dan menyusuri relung-relung kota untuk melihat jejak sejarah kota tua ini.
Museum Westfries merupakan museum sejarah yang didirikan di kota Hoorn, Belanda. Museum ini dibuka pada 10 Januari 1880 dan didirikan di sebuah bangunan monumental yang berasal dari tahun 1632. Museum ini bercerita tentang periode keemasan sekaligus mencekam dalam sejarah Belanda, Hoorn dan Westfriesland: Zaman Keemasan. Dengan perhatian khusus pada VOC.

Pemberian penjelasan oleh Eugene Bakker,edukator Museum Westfries
Potret J.P. Coen di Museum Westfries

Di Museum Westfries, peserta kegiatan mendapatkan penjelasan dari Eugene Bakker, edukator museum. Eugene juga menjelaskan tentang pengelolaan museum, sumber pendanaan, manajemen koleksi, dan program-program edukasi kepada publik. Menurutnya, hal yang paling penting dalam edukasi di museum adalah bagaimana museum dapat memperkaya pengalaman (experience) pengunjung serta pengunjung dapat membuat opini mereka sendiri tentang koleksi yang dilihat di museum ini.

Salah satu diorama di Museum Westfries
Koleksi lukisan tentang Batavia tempo dulu

Dalam kegiatan pembelajaran di Museum Westfries, peserta dibagi menjadi dua (2) kelompok, yaitu kelompok program publik dan edukasi serta kelompok koleksi dan pengelolaannya. Mengenai program publik dan edukasi, peserta kegiatan dapat belajar bagaimana edukasi di museum tidak hanya menekankan pada banyaknya jumlah pengunjung, tetapi lebih kepada pengalaman pengunjung yang berkualitas. Untuk itu, edukasi di museum ini memberikan penjelasan secara multiperspektif sehingga ketika keluar dari museum, pengunjung mendapatkan pengalaman terbaik tanpa merubah opini mereka atau pengunjung bebas membuat opini mereka sendiri tentang koleksi museum. Salah satu contohnya adalah ketika memberikan penjelasan tentang J.P. Coen dan sepak terjang VOC di daerah jajahannya, edukator museum tidak hanya menjelaskan tentang prestasinya saja, tetapi juga tindakan atau kekejamannya kepada warga pribumi di daerah jajahan yang bagi sebagian orang tidak dapat diterima, seperti pembantaian penduduk Kepulauan Banda, Maluku.

Visualisasi peristiwa pembantaian penduduk Kepulauan Banda lewat koleksi

Adapun terkait koleksi dan pengelolaanya, hal menarik yang dapat dijumpai di museum ini adalah bagaimana display koleksi tidak banyak menggunakan label koleksi. Menurut edukator museum, hal ini dapat mengurangi estetika tata pamer. Untuk itu, jika pengunjung ingin mendapatkan keterangan tentang koleksi yang dilihat dapat bertanya langsung kepada edukator atau membaca brosur yang disediakan di ruang-ruang pamer. (Mujib)