Sejarah Kota Tual Maluku Tenggara

0
10628

Stenly R. Loupatti, S.Pd

 

Abstrak

 Kota Tual merupakan salah satu kota yang telah lama dikenal dan disinggahi oleh orang-orang yang datang dari luar yang datang untuk mencari rempah-rempah di kepulauan Maluku. Secara geostrategis Kota tual memiliki posisi yang sangat strategis dalam jalur pelayaran dan perdagangan rempah-rempah. Dengan peralatan yang serba terbatas serta  menggunakan tanda-tanda alam sebagai sarana pendukung maka, kecendrungan untuk melakukan pelayaran antar pulau untuk menuju Maluku dipandang sebagai sesuatu yang sangat efektif. Dengan menggunakan metode ini maka dengan sendirinya pulau-pulau yang terlebih dahulu disinggahi adalah pulau-pulau disebelah selatan.Dalam penelusuaran sejarah Kota Tual tidak dapat dipisahkan dari sejarah perniagaan dan perdagangan rempah-rempah dimasa lalu.Perjalanan panjang sejarah Kota Tual tidak dapat dipisahkan dari masuk dan berkembanganya pengaruh bangsa Eropah.Masuknya bangsa Eropa ke Nusantara turut memberikan dampak bagi perjalanan sejarah kota-kota di Nusantara. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada berbagai tinggalan baik secara fisik maupun non fisik (kebudayaan) yang hingga kini masih dapat dijumpai. Dimensi lain yang menjadi fokus dalam kajian ini ialah posisi dan kedudukan Kota Tual dimasa kemerdekaan khusunya dalam masa orde baru hingga reformasi yang merupakan suatu periodidasi sejarah yang tidak dapat dilepas pisahkan dari perjalanan panjang sejarah Kota Tual.

  1. Latar Belakang

 Perkembangan sebuah kota selalu berubah-uabah seiring dengan berjalannya waktu. Perubahan-perubahan itu terjadi secara direncanakan maupun tidak direncanakan dalam upaya menjawab kebutuahan semua orang yang ada dalam wilayah teritorialnya. Perubahan yang terjadi bukan hanya kepada fisik semata tetapi juga pada dimensi sosial yang didalamnya terjadi perubahan dalam dimensi sejarah kota tersebut. Sebagai salah satu daerah dengan kondisi geografisnya kepulauan membuka ruang untuk terbentuknya wilayah-wilayah pemerintahan baru di Maluku. Terbentuknya pusat-pusat pemerintahan dan perdagangan merupakan suatu fakta sejarah yang mesti mendapat perhatian dalam historiografi kota di Maluku.

Penulisan sejarah kota di Kepulauan Maluku yang ditulis oleh para penulis oleh bangsa Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda cenderung melihat pada kota yang merupakan penghasil rempah-rempah seperti Ternate, Tidore, Bacan, Ambon, Banda dan Saparua dan mengabaikan rekonstruksi sejarah kota-kota lain yang ada dalam gugusan kepulauan Maluku. Namun sesungguhnya terdapat sejumlah daerah yang memilki nilai sejarah yang sangat penting dan strategis untuk dikaji dalam penelusuran jalur pelayaran dan perniagaan dari dan ke Maluku hingga terbentuknya pusat-pusat perdagangan dan pemerintahan di Maluku. Penelusuran sejarah kota di Maluku lebih cocok dikaji dalam suatu pendekatan kewilayahan (gugus pulau) hal ini dipengaruhi oleh letak geografis kepulauan Maluku yang terdiri dari pulau-pulau baik yang besar maupun kecil.

 Perjuangan untuk menemukan kepulauan rempah-rempah (spice island) telah dilakukan oleh pelaut-pelaut dari lauar (Asia dan Eropah) sejak dulu. Hal inilah yang kemudian membuaka pusat-pusat pemerintahan baru dengan ciri-ciri khas yang melekat berdasarkan kebudayaan yang dikembangkan. Munculnya agama dan kebudayaan-kebudayan baru menjadi suatu fakta sejarah yang tidak dapat dikesampingkan dalam setiap penulisan sejarah kota. Fenomena ini muncul merata disetiap pusat-pusat pemerintahan dan perdagangan (kota) yang ada di nusantara. Hal ini sebagai suatu dampak dari proses akulturasi antara masyarakat pendatang dengan masyarakat pribumi. Fakta sejarah ini yang kemudian diwariskan hingga sekarang ini. Hal yang paling nampak serta dijumpai ialah kebudayan Timur Tengah dan kebudayaan Eropah yang masih melekat dan mempengaruhi kehidupan masyarakat yaitu ajaran agama Islam dan Kriten.

Kota Tual merupakan salah satu kota yang telah lama dikenal dan disinggahi oleh orang-orang yang datang dari luar yang datang untuk mencari rempah-rempah di kepulauan Maluku. Secara geostrategis Kota tual memiliki posisi yang sangat strategis dalam jalur pelayaran dan perdagangan rempah-rempah. Dengan peralatan yang serba terbatas serta  menggunakan tanda-tanda alam sebagai sarana pendukung maka, kecendrungan untuk melakukan pelayaran antar pulau untuk menuju Maluku dipandang sebagai sesuatu yang sangat efektif. Dengan menggunakan metode ini maka dengan sendirinya pulau-pulau yang terlebih dahulu disinggahi adalah pulau-pulau disebelah selatan.Dalam penelusuaran sejarah Kota Tual tidak dapat dipisahkan dari sejarah perniagaan dan perdagangan rempah-rempah dimasa lalu.

 Perjalanan panjang sejarah Kota Tual tidak dapat dipisahkan dari masuk dan berkembanganya pengaruh bangsa Eropah.Masuknya bangsa Eropa ke Nusantara turut memberikan dampak bagi perjalanan sejarah kota-kota di Nusantara. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada berbagai tinggalan baik secara fisik maupun non fisik (kebudayaan) yang hingga kini masih dapat dijumpai. Dimensi lain yang menjadi fokus dalam kajian ini ialah posisi dan kedudukan Kota Tual dimasa kemerdekaan khusunya dalam masa orde baru hingga reformasi yang merupakan suatu periodidasi sejarah yang tidak dapat dilepas pisahkan dari perjalanan panjang sejarah Kota Tual.

 Sebagai salah satu Ibu Kota Kabupaten dalam masa kemerdekaan (orde baru), Tual memainkan peran yang sangat penting dalam sistem pemerintahan diseluruh kepulauan Maluku tenggara. Selain sebagai ibu Kota kabupaten Maluku Tenggara, Tual dijadikan sebagai tempat utuk menjangkau pendidikan dan tempat untuk mencari lapangan pekerjaan yang lebih baik. Terbukanya akses transportasi laut turut membarikan pertumbuhan ekonomi  yang lebih baik. Sebagai Ibu Kota Kabupaten, Kota Tual turut mendapatkan keuntungan yang besar dengan membawai daerah-daerah yang ada di Kepulauan tenggera. Hal ini kemudian memberikan dampak yang kurang baik bagi daerah-daerah yang jauh dari pantauan pemerintah akibat luas wilayah dengan karakteristik kepulauan, yang mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial yang begitu besar.

 Berhembusnya angin reformasi yang dikumandangkan oleh mahasiswa turut memberikan dampak bagi penyelenggaran pemerintahan di negeri ini. Bergulirnya berbagai aturan dan kebijakan pemerintah untuk menjawab problematika dan dinamika ke-Indonesiaanmenjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Dengungan revormasi inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk melaksanakan apa yang disebut dengan otonomisasi daerah. Konsep otonomisasi daerah sesungguhnya bukanlah suau hal yang baru dalam penyelengaran pemerintahan di republik ini, namun proses penerapan otonomisasi daerah yang ditetapkan pemerintah merupakan sesuatu yang bertujuan untuk menjawab berbagai pelayanan yang belum terjembatani secara baik akibat rentan kendali (jarak yang jauh).

Konsep otonomisasi daerah ini merupakan sumbangsi pemikiran Riad Rasid yang sesungguhnya belum tuntas untuk dibahas, namun menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar. Momen inilah yang membuka angin segar bagi seluruh daerah di Nusantara yang selama ini terabaikan dari aspek pembangunan untuk memekarkan diri menjadi suatu daerah yang otonom. Dalam arak-arakan itu pada tahun 2007 Kota Tual secara resmi dimekarkan menjadi suatu daerah yang otonom dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 31 tahun 2007 tanggal 10 Agustus 2007 tentang pembentukan Kota tual.Perjalanan panjang untuk mendapat suatu legalitas sebagai daerah otonom membuka babakan baru dalam perjalanan sejarah Kota Tual yang patut dikenang dalam coretan sejarah ini.

 Tulisan Ini Telah Dimuat Dalam Jurnal Peneltian No. 5 Edisi April 2013 Untuk Mendapatkan Lebih Lengkap Silakan Link Untuk Mendwnload Tuisan Ini.