KERAGAMAN DI TANIMBARKEI : CERMIN KERUKUNAN ORANG BASUDARA DI MALUKU

0
3116

Mezak Wakim

Balai Peletarian Nilai Budaya Ambon

Jl. Ir M. Putuhena Wailela Poka Rumahtiga Ambon

Pos-el: wakimmeca@gmail.com

 

Tanimbarkei merupakan sebuah pulau kecil di wilayah Maluku Tenggara yang secara tradisional, masyarakatnya dibentuk dari tiga wilayah adat yang satu dalam ruang sosial, dengan orientasi religi yang berbeda. Akan tetapi dalam melakoni kehidupan kesehariannya masyarakat Tanimbarkei selalu berpegang pada konsep lokal sebagai pedoman  mengelola pluralitas masyarakat. Bagi masyarakat Tanimbarkei, memahami konsep lokal dalam perspektif budaya tentu menjadi prestasi tersendiri bagi masyarakat  karena pada dekade  konflik sosial 1999 di Maluku, Tanimbarkei menjadi satu-satunya  wilayah yang luput dari pengaruh konflik. Peneltian ini bertujuan menggali konsep lokal sebagai gagasan awal mengelola pulralitas masyarakat Tanimbarkei. Adapun Pembahasan hasil temuan peneltian dapat dijelaskan bahwa keteraturan sosial masyarakat Tanimbarkei dalam menjaga hubungan damai antar agama-agama yang ada dalam masyarakat adalah menunjuk pada konsistensi menjalankan ajaran mitu (leluhur) sebagai gagasan lokal bagi kehidupan damai antar masyarakat yang berbeda agama di Tanimbarkei. Perwujudan ajaran-ajaran tersebut dalam perspektif masyarakatl Tanimbarkei tercermin dalam filosofis hidup Hanik ne Hanik dan biblaar yang menegaskan bahwa kita (masyarakat Tanimbarkei adalah satu.

Relefansi antara konflik Maluku dengan Tanimbarkei yang di bicarakan pada penelitian ini adalah munculnya sebuah gagasan penting yang dirujuk dari kearifan lokal dalam mempertahankan aspek kebudayaan sebagai warisan leluhur. Mitu sebagai sebuah sistem yang dipahami masyarakat Tanimbarkei sebagai identitas budaya telah mampu mengakomodir perbedaan yang ada.  Haryati Soebadio[1] mengidentifikasikan hal ini sebagai cultural identity, identitas/kepribadian budaya dari suatu komunitas yang menyebabkan komunitas tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Sementara Moendardjito[2] mengatakan bahwa unsur budaya sebagai local wisdom karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang.

Ciri-cirinya adalah: (1). Mampu bertahan terhadap budaya luar (2). Memiiki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar (3).Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli (4). Mempunyai kemampuan mengendalikan (5). Mampu memberi arah pada perkembangan budaya.  Pada dua pandangan ini tentu di kaitkan dengan keberadaan Tanimbarkei sangatlah tepat karena pada eskalasi konflik Maluku yang melibatkan intervensi agama-agama, Tanimbarkei sama sekali luput dari permasalahan ini. Sehingga boleh dikatakan bahwa konflik Maluku dengan tingkat eskalasi yang begitu tinggi, yang melibatkan seluruh wilayah di Maluku maupun Maluku Utara, masyarakat Tanimbarkei tetap teguh pada konsep kearifan lokal sebagai pedoman hidup.

Tradisi ini menimbulkan kepercyaan tersendiri dalam masyarakat bahwa mitu akan selalu menaugi kampung ohoi dari segalah malapetaka yang akan datang. Pandangan ini mengarah pada beragam penyembahan kepada mitu misalnya sirih dan pinang, hewan hasil buruan dan peternakan. Prinsip dasar dari sistem kepercayaan ini memiliki fungsi ritual ; juga berkaitan dengan teori pengetahuan. Dilihat dari akibatnya, prinsip tersebut adalah penyataan kongkrit antara hubungan kausalitas yang pernah ada.

Ajaran Mitu Dalam Perspektif Budaya Tanimbarkei

Belajar dari pengalaman Tanimbarkei tentu Tore Linholm[3] menegaskan bahwa kebebasan beragama yang didekatkan pada konsep masyarakat tradisi adalah model pengetahuan lokal yang menerima satu kenyataan bahwa masyarakat kita adalah  masyarakat plural. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa kebudayaan lokal antara lain :

  1. Yaanuar : konsep hidup orang bersaudara. Implementasi lebih pada sebuah keyakinan bahwa masyarakat Tanimbarkei secara keseluruhan baik yang beragama Hindu, Protestan, katholik dan Islam adalah juga merupakan satu kesatuan masyarakat yang dilindungi oleh adat dan tradisi masyarkat Tanimbarkei.
  2. Rarbet for Maad : model hidup yang saling menghormati dan menghargai antar masayrakat. Kebudayaan yang dipengaruhi oleh ajaran agama masing-masing sangat perlu di pahami bersama sehingga tidak ada perbedaan yang menimbukan konflik dalam masyarakat.
  3. Hani ne Hanik : sebuah rekomendasi atas kepemilikan yang menunjuk pada individu maupun kelompok yang menegaskan kamu ada kamu dan aku adalah aku. Representasi unsur kebersamaan yang menghargai perbedaan dalam masyarakat yang berkiatan dengan agama dan lainya. Bahwa konsep ini begitu kuat dalam masyarakat Tanimbarkei. Kekerabatan yang diatur dalam hal pengeliolaan sumberdaya alam pun juga di selaraskan dengan kepemilikan yang bisa diatur untuk

 Pola Interaksi Antar Pemeluk Agama Di Tanimbarkei

1.Tat’tee Ritual Adat

 Dalam konsep tradisi masyarakat Tanimbarkei, upacara ta’tee[4] merupakan jenis ritual adat yang paling tertua dalam kebudayaan masyarakat Tanimbarkei. Tat’tee dipahami sebagai upacara tradisi yang melibatkan semua pemeluk agama dengan melakukan aktivitas berburu untuk memenuhi kebutuhan ritual adat. Tradisi yang boleh dikatakan cukup khas karena selama melakukan perburuan hewan yang dijadikan sebagai media persembahan  yakni hewan babi. Bagi pemeluku Islam Babi merupakan hewan yang haramkan namun dalam tradisi Tat’tee partisipasi masyarakat yang beragama Islam hanya sebatas melakukan ritual berburu babi. Dari pendekatan tradisi bahwa Tat’tee telah menjadi media interaksi masyarakat Tanimbarkei dengan menjalankan dialog antar agama dengan baik namun tetap menghargai etika yang berlaku berdasarkan ajaran agama.

2.MAREN

Istilah Maren[5] (bahasa;evav/Kei ) umumnya memiliki kesamaan dengan budaya gotong-royong yang mengakar dalam kebudayaan nasional; bagi masyarakat Tanimbarkei konsentrasi penggunan istilah maren dimaksudkan menunjuk pada kerjasama, saling menolong,yang dilakukan karena pertimbangan kekerabatan maupun soliraritas antar kelompok masyarakat.

Marren atau gotong royong merupakan wujud atau sikap hidup dari masyarakat Tanimbarkei yang sudah terbina sejak berabad-abad hingga kini masih tetap di pertahankan dari generasi ke generasi. Dalam konfigurasi kebudayaan masyarakat Tanimbarkei ada peristilahan Hamare yang artinya bakti (membagi kerja) maksudnya sesuatu pekerjaan biar seberat apapun tetap dapat dikerjakan oleh banyak orang maka dapat memberi hasil ganda baik itu kerja negeri/ohoi, pekerjaan kelompok ataupun kerja perorangan akan tetapi memberi hasil yang memuaskan, bentuk  pelaksanaanya tidak sama sekali dilaksanakan dengan jaminan gaji dan sebagainya hal ini lebih pada kerelaan dalam membantu sesama yang membutuhkan.

Namun dalam konsentrasi penggunaan istilah Maren dimunculkan kembali dengan Hamaren istilah  yang menunjuk pada proses pelaksanaan kegiatan. Dalam hal ini berlaku istilah Yang Maren atau persipan kegiatan yang mengatur beberapa ketentuan antara lain :

Dalam tradisi maren juga bermanfaat sebagai media interaksi antaragama dimana setiap kegiatan yang berkaitan dengan unsur gotong royong dalam masyarakat akan dilakukan dengan jalur tradisi maren. Kolaborasi pendekatan ini bila didekatkan pada konsep dialog antaragama maka akan terlihat jelas pada posisi-posisi dimana maren dapat berfungsi dengan baik. Pembagunan Masjid Al-Jihad misalnya di dusun Mun,masyarakat Tanimbarkei dengan semangat dapat melakukan pembagunan secara sukarela,dengan di prakarsi oleh Hindu, Kristen Protestan, dan Katholik. Pengalaman maren juga terjadi pada pembagunan  Pura Wuar Masbaat dimana seluruh masyarakat baik islam maupun kristen juga membantu melalui tradisi maren. Sebaliknya juga dengan pembagunan gereja Protestan dan Katholik.

Maluku dan Indonesia : Boleh Belajar Dari Tanimbarkei

 Pandangan Ibnu Mujib dan Rumahuru tentang insiatif damai antara Paso dan Batumerah (wilayah yang ada di Kota Ambon) yang merepresentasikan Islam dan Kristen (agama yang bertikai dalam konflik Maluku) telah memberikan sebuah pencerahan dalam sejarah terbangunya sebuah peradaban besar di Maluku yang retak akibat konflik Maluku 1999. Perjumpaan kedua wilayah ini telah memculkan dua istilah yang sering di pergunakan orang Maluku yakni Bakalae (berkelahi) dan Bakubae (berdamai).

Dua terminologi yang  mengandung makna berbeda yang sering dijumpai dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku pada umumnya dan Ambon pada khususnya. Tanimbarkei yang disentuh dalam pendekatan ini tentuakan menjadi bentuk tradisi yang dipertahankan dalam kehidupan masyarakat. Belajar dari pemaknaan hidup orang basudara dalam kebudayaan Maluku tentu merupakan bagian dari pengalaman masyarakat Tanimbarkei dalam melerai berbagai gejolak sosial yang mengancam punahnya budaya tradisi.

Prestasi gemilang yang diraih oleh Tanimbarkei kemudian akan menjadi proyeksi pada permasalahan penataan potensi konflik dalam masyarakat Maluku. pluiral dalam konteks orang basudara di Maluku adalah hanya melibatkan Islam dan Kristen sebagai model perbedaan mendasar, akan tetapi Tanimbarkei lebih dari pada itu.Memaknai plural dalam konsep masyarakat Tanimbarkei adalah semua agama yang ada dalam tatanan sosial masyarakat. Konsep damai dalam gagasan local wisdom (kearifan lokal) selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tanimbarkei.

Konsep bakudapa telah dipengaruhi oleh filosofi Hanik ne Hanik yang memungkinkan terjadinya solidaritas antar pemeluk agama yang ada di Tanimbarkei. Kekuatan budaya lokal tentu menjadi ukuran tersendiri bagi masyarakat Tanimbarkei dalam mengelola aspek perbedaan masyarakat, Maren dan yelim bentuk tradisi Tanimbarkei yang selalu melibatkan unsur agama dalam pelaksanaan tradisi kerjasama yang dimaksudkan. Konsep damai yang dilakukan masyarakat Tanimbarkei kini harus menjadi pengalaman masyarakat Maluku dalam melihat perbedaan ataupun konflik yang terjadi dalam masyarakat sebagai inti dari bagaimana melihat sumber kebudayaan lokal sebagai bentuk dari posisi yang strategis dalam melerai konflik. Keterpaduan unsur kelokalan dalam sistem masyarakat adalah panduan mutlak bagi masyarakat Maluku. Bakudapa secara kultural merupakan peristiwa yang melampaui pertemuan biasa, diamana orang tidak sekedar berkumpul karena memberikan ceramah dan setelah itu selesai dan kembali tanpa memberikan sebuah pemaknaan dalam kehidupan masyarakat, akan tetapi sebuah rancangan momen yang mengharuskan menghidupkan pengenalan lebih dalam kehidupan orang basudara yang merepresantasi unsur agama Islam dan Kristen yang bertikai selama konflik.

            Dalam perspektif budaya orang Maluku, bakudapa dapat dipahami sebagai proses, yang melalui sebuah bentuk transformasi baik dalam pemikiran ataupun gagasan, maupun perilaku tindakan. Melalui bakudapa ada tangsian penyesalan akan konflik yang terjadi yang melibatkan semua unsur yang telah banyak merugikan Maluku secara umum. berpelukan antar sesama orang basudara, mengingat kembali masa lalu yang begitu harmonis dimana ada adik dan kak yang begitu akrab dalam satu ikatan gandong dal lainya. Namun pertemuan yang tidak lagi melibatkan kak dan adik karena kesalahan mengelola budaya lokal yang menghargai perbedaan ini berujung pada konflik yang memberikan penderitaan.

            Melalui bakudapa akan muncul lagi istilah beta dan ose (aku dan kau), komong dan dong (kamu dan mereka)  yang mengidentifikasi segregasi antara individu maupun kelompok pada masing-masing wilayah yang menunjuk pada relokasi masyarakat dengan pertimbangan aspek keagamaan. Namun dalam konsep bakudapa berubah menjadi katong (kita dan kami) kata kita dan kami dalam proses ini tentu memberikan pemaknaan bahwa kita semua atau kami adalah satu dalam konsep orang basudara di Maluku.

            Makna penyatuan lokal yang telah dibentuk dari kearifan lokal yang ada sejak berabad tahun lamanya kini bangkit kembali. Hampir diseluruh wilayah konflik membuat rekonsiliasi bakudapa antar sesama orang basudara terlihat begitu menikmati suasan konflik yang selama terjadi dengan menjadikan semangat seolah manusia bukan segalanya, kodrat manusia adalah tidak bermakna dimata konflik Maluku. Agama seolah menjadi bukti kemenagan atas individu maupun kelompok yang mengatsnamakan agama. darah dan air mata seolah tidak pernah melerai konflik yang telah banyak merugikan harta benda dan nyawa manusia yang tak berdosa di negeri raja-raja. Tangisan penyesalan dengan pelukan yang hangat antar pela dan gandong tidak akan merubah masa lalu menjadi pulih kembali, akan tetapi masa lalu menjadi perhatian penting dalam melihat masa yang akan datang. Dimensi ini menjadi komponen utama dalam konsep bakudapa,dan bakubae yang digagas dengan pendekatan budaya lokal akan lebih efisien dan efektif tanpa memandang konsep ini sebagai spekulasi dari kepentingan politik yang dipertontonkan dalam kebudayaan orang Maluku.

            Menata pluralitas masyarakat dari konsekuensi budaya tradisi telah mengantarkan presetasi cerdas dari Tanimbarkei dalam melihat pluralitas sebagai kekuatan dalam membangun kebersamaan dalam masyarakat. Tatanan sosial begitu sehat dikelola dengan budaya tradisi dengan demikian semua orang bahkan semua komunitas di Maluku mestinya  belajar dari Tanimbarkei. Dimana perbedaan bukalah sesuatu yang perlu di permasalahkan akan tetapi menjadi unsur penyatu dalam masyarakat dan kebudayaan juga penting di maknai sebagai bagian penting dalam pengelolaan sistem sosial tersebut.

SIMPULAN

Penekanan pada kajian hasil peneltian ini berkaitan dengan konsep mitu/ ajaran leluhur yang di pahami masyarakat Tanimbarkei sebagai perwijudan kehidupan yang harmonis. Religi masyarakat Tanimbarkei yang di pandang sebagai konsep pluralitas, dapat di kelola dengan menggunakan simbol ajaran mitu (leluhur) sehingga dapat menjalankan kehidupan bersama bebas dari konflik sosial di Maluku.

Berbagai pola ritual adat seperti maren, taatee, dan filosofis hidup hanik ne hanik, Yaanuar, Rarbet for Maad  menjadi simbol tradisi yang di kelola mengadapi perbedaan yang ada, sehingga mampu menjadikan Tanimbarkei sebagai wilayah yang bebas dari konflik Maluku.

SARAN

Tanimbarkei yang merupakan wilayah terisolir dan sangat jauh dari kemajuan IPTEK namun semangat menjaga keharmonisan antar masyarakat pemeluk agama yang ada setidaknya mengingatkan kita akan pentingnya kebudayaan dalam mengatasi berbagi isu perbedaan yang ada. Fakta bahwa kehidupan masyarakat Tanimbarkei yang hidup dari kekuatan tradisi telah mempuh memberikan insiatif damai secara kolektif bagi masyarakat Tanimbarkei yang begitu plural dari pendekatan agama.

Bagi pihak yang berwenang bahwa Tanimbarkei merupakan wilayah yang menyimpan beragam potensi kekayaan budaya yang dapat di jadikan sebagai ikon budaya Maluku.